Pelindo Terminal Petikemas Setor Rp1,73 Triliun ke Negara

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 05:55 WIB 4
Pelindo Terminal Petikemas Setor Rp1,73 Triliun ke Negara

PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat kontribusi kepada negara mencapai Rp 1,73 triliun sepanjang 2025. Setoran ini menunjukkan besarnya peran perusahaan dalam menopang fiskal nasional melalui pajak, PNBP, dan pembayaran konsesi. Capaian tersebut juga menegaskan posisi sektor kepelabuhanan sebagai salah satu penyangga ekonomi Indonesia.

Kontribusi itu terdiri atas setoran pajak sebesar Rp 1,45 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP senilai Rp 55,59 miliar, serta pembayaran konsesi sebesar Rp 224,5 miliar. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra menyebut setoran tersebut sebagai wujud kepatuhan terhadap regulasi dan kewajiban yang telah ditetapkan pemerintah. Menurut dia, kontribusi itu menjadi bukti nyata dukungan perusahaan terhadap pembangunan nasional melalui APBN.

Kontribusi Pelindo ke Negara

Dari total pajak yang disetorkan, kontribusi terbesar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai atau PPN sebesar Rp 485,45 miliar. Selain itu, Pajak Penghasilan Pasal 25/29 mencapai Rp 360,13 miliar, sedangkan PPh Pasal 21 tercatat Rp 267,35 miliar. Komposisi ini menunjukkan bahwa aktivitas bisnis terminal petikemas memberi dampak langsung pada penerimaan negara.

Widyaswendra menegaskan bahwa kontribusi perusahaan kepada negara tidak hanya berbicara soal kewajiban fiskal. Ia menyebut setoran Rp 1,73 triliun sebagai hasil dari upaya perusahaan menjaga kinerja sekaligus mendukung perekonomian nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan tertulis pada Selasa, 26 Mei 2026.

Ia menambahkan, Pelindo Terminal Petikemas sebagai bagian dari Pelindo Group memiliki komitmen untuk terus berperan dalam pembangunan nasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui optimalisasi layanan dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Dengan cara itu, perusahaan berharap dapat menjaga kontribusi yang berkelanjutan bagi negara.

Modernisasi Pelabuhan Petikemas

Sejalan dengan kontribusi fiskal, PT Pelindo Terminal Petikemas juga memperkuat kapasitas pelabuhan peti kemas di sejumlah terminal strategis. Upaya itu dilakukan melalui penambahan, relokasi, dan pembaruan alat bongkar muat untuk meningkatkan efisiensi layanan. Langkah tersebut ditujukan agar distribusi barang dapat berlangsung lebih cepat dan terukur.

Sejumlah peralatan utama telah tiba di terminal tujuan, antara lain tambahan empat unit Quay Container Crane atau QCC di TPK Semarang dan satu unit QCC di IPCTPK Panjang. Terminal Petikemas Surabaya juga menerima 14 unit Rubber Tyred Gantry atau RTG serta empat unit QCC. Penguatan alat ini diharapkan mampu mendongkrak kapasitas bongkar muat pada terminal dengan trafik tinggi.

Penguatan fasilitas juga dilakukan di terminal regional, seperti pengiriman satu unit RTG ke TPK Kendari, empat unit RTG ke TPK Banjarmasin, dan satu unit RTG ke TPK Nilam. Selain itu, beberapa alat masih dalam proses produksi untuk TPK Belawan, TPK Perawang, dan Terminal Kijing. Perseroan juga melakukan relokasi alat dari terminal yang utilisasinya lebih rendah agar pemanfaatan aset menjadi lebih optimal.

Dampak Logistik Nasional

Widyaswendra menilai penguatan layanan terminal petikemas sejalan dengan meningkatnya aktivitas logistik dan perdagangan. Ia meyakini sektor kepelabuhanan akan tetap menjadi fondasi penting pertumbuhan ekonomi Indonesia. Efisiensi layanan juga diharapkan dapat menekan biaya logistik nasional dan memperkuat daya saing ekspor.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor transportasi dan pergudangan nasional tumbuh 8,98 persen secara tahunan pada triwulan IV 2025. Capaian tersebut memperkuat pandangan bahwa logistik menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional. Kondisi itu juga memberi ruang bagi pelabuhan untuk berperan lebih besar dalam rantai pasok.

Guru Besar Ilmu Manajemen FEB UMS Anton Agus Setyawan menilai sektor logistik Indonesia masih memiliki potensi besar untuk berkembang. Menurut dia, pertumbuhan bisnis logistik sudah terlihat sejak awal 2000-an seiring meningkatnya perdagangan antarpulau dan antarnegara. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sistem distribusi yang kuat agar rantai pasok berjalan efisien.

Efisiensi dan Konektivitas

Anton menilai pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir telah membantu memperkuat sektor logistik, terutama melalui pembangunan jalan tol. Namun, pengembangan pelabuhan dan konsep tol laut dinilai masih perlu dioptimalkan. Optimalisasi pelabuhan disebut akan berdampak langsung pada efisiensi distribusi barang, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

Ia menyoroti pentingnya perbaikan logistik supply chain di Papua agar disparitas harga antardaerah bisa ditekan. Menurut dia, distribusi yang lebih baik akan membuat harga sejumlah komoditas menjadi lebih murah. Hal ini penting untuk menjaga pemerataan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia.

Pakar Maritim ITS Surabaya Raja Oloan Saut Gurning menambahkan, peningkatan jumlah alat bongkar muat merupakan respons atas kenaikan kunjungan kapal dan volume kontainer. Ia menilai efisiensi terminal tidak hanya bergantung pada jumlah alat, tetapi juga pada kesiapan dermaga, lapangan penumpukan, gudang kontainer, dan akses keluar masuk terminal. Karena itu, Pelindo dinilai perlu bertransformasi dari sekadar operator pelabuhan menjadi integrator rantai pasok nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!