Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Industri Satelit Nasional

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 23:32 WIB 6
Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Industri Satelit Nasional

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus Rp 17.500 memberi tekanan bagi industri satelit dalam negeri. Meski biaya kebutuhan satelit dan ground segment masih didominasi valuta asing, pelaku usaha menilai kondisi ini justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat industri nasional.

Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro, menyampaikan pandangan itu dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ia menilai pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai sinyal untuk mendorong industrialisasi, memperbesar investasi lokal, dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Industri Satelit Nasional

Sigit menilai pelemahan rupiah memang memberi tekanan pada pelaku industri satelit karena sebagian besar komponen dan layanan masih dibeli dengan mata uang asing. Namun, ia melihat situasi ini dapat menjadi dorongan bagi industri dalam negeri untuk tumbuh lebih cepat.

Menurutnya, ketika dolar menguat, sektor ekspor justru memiliki peluang keuntungan lebih besar. Biaya produksi yang dibayar dalam rupiah, tetapi pendapatan diterima dalam dolar AS, dapat menciptakan margin tambahan bagi pelaku usaha.

Ia menegaskan, kondisi kurs saat ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai risiko, tetapi juga sebagai kesempatan membangun basis produksi nasional. Dengan begitu, industri satelit tidak terus bergantung pada pasokan luar negeri yang rentan terhadap gejolak kurs.

Investasi Lokal Menguat

Di tengah melambatnya arus investasi asing, Sigit mendorong investor domestik untuk mengambil peran lebih besar. Ia menilai inilah saat yang tepat untuk memperkuat local investing di sektor teknologi dan manufaktur.

Menurutnya, modal dalam negeri dapat menjadi penopang utama ketika pasar global masih menghadapi ketidakpastian. Langkah itu juga penting agar pengembangan industri nasional tetap berjalan dan tidak tertahan oleh situasi eksternal.

Sigit menambahkan, industri lokal akan memperoleh manfaat langsung dari selisih kurs yang melebar. Ketika dolar naik dari Rp16 ribu ke Rp18 ribu, kata dia, selisih itu dapat menjadi ruang keuntungan tambahan bagi industri yang berorientasi ekspor.

Pasar Domestik Menjadi Awal

Sigit menilai pasar domestik dapat menjadi panggung awal untuk membangun kekuatan industri satelit nasional. Dari pasar dalam negeri, pelaku usaha bisa menguji model bisnis, memperkuat rantai pasok, dan membangun kemampuan produksi.

Setelah fondasi di pasar lokal terbentuk, ekspansi ke pasar global dapat dilakukan secara bertahap. Strategi ini dinilai lebih realistis dan memberi peluang lebih besar bagi industri untuk berkembang secara berkelanjutan.

Ia menyebut pendekatan tersebut sangat menguntungkan karena memungkinkan perusahaan tumbuh dari basis yang lebih kokoh. Dalam pandangannya, market dalam negeri bisa menjadi initial startup sebelum melangkah ke ekspor.

Generasi Muda Dan Kemandirian

Selain soal investasi, Sigit menilai penting untuk menanamkan pola pikir industri dan ekspor sejak dini kepada generasi muda. Menurutnya, perubahan cara pandang menjadi kunci agar Indonesia tidak terus bergantung pada produk teknologi impor.

Ia menilai kemandirian industri hanya bisa tercapai jika ada ekosistem yang mendukung dari hulu ke hilir. Karena itu, pendidikan, riset, dan investasi perlu berjalan beriringan agar industri satelit nasional semakin kompetitif.

Dari sisi kebijakan, penguatan industri lokal dinilai relevan di tengah tekanan rupiah yang masih berlangsung. Dalam situasi seperti ini, pengembangan teknologi dalam negeri dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!