Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas ke Ruko Strategis

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 09:01 WIB 3
Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas ke Ruko Strategis

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura tercium kuat dari sebuah ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sana, Mochamad Haidir, pedagang satai berusia 30 tahun, sibuk mengibaskan kipas bambu agar bara arang tetap menyala. Perjalanan panjang sejak berjualan keliling akhirnya membawa usaha kecilnya naik kelas.

Haidir memulai usahanya pada 2013 dengan gerobak satai yang mangkal di trotoar. Ia pernah menghadapi penertiban Satpol PP hingga persaingan dengan pedagang lain. Namun, ketekunan dan keberaniannya bertahan membuat nama Sate Ayam Barokah Mayestik semakin dikenal.

Perjalanan Usaha Sate

Haidir merintis usaha dari nol dengan modal sederhana dan semangat bertahan. Setiap hari, ia berjualan di tengah lalu lintas pejalan kaki dan kendaraan yang padat. Pengalaman itu membentuk ketekunannya dalam menjaga rasa dan pelayanan.

Pada awal berjualan, ia kerap menghadapi penolakan dari sesama pedagang. Bahkan, ia mengaku sempat diusir saat mencoba bertahan di lokasi strategis. Meski begitu, ia memilih tidak menyerah dan terus mencari cara agar usahanya tetap hidup.

Konsistensi menjadi kunci utama dalam perjalanan usaha Haidir. Ia menjaga kualitas sate ayam dan sate kambing agar pelanggan kembali datang. Perlahan, kerja keras itu mengubah gerobak sederhana menjadi usaha yang lebih dikenal.

Lokasi Mayestik Menjadi Andalan

Haidir melihat kawasan Mayestik sebagai lokasi yang sangat potensial. Lingkungan ini dikelilingi perkantoran dan aktivitas harian yang ramai. Kondisi tersebut membuat peluang penjualan sate semakin besar.

Keputusan bertahan di area itu juga didorong pengalaman lebih dulu membuka lapak di sana. Ia memahami karakter pembeli yang datang dari berbagai kalangan. Dari situ, ia menata usaha agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Nama Sate Ayam Barokah Mayestik pun mulai mendapatkan tempat di hati pelanggan. Aroma bakaran yang khas menjadi daya tarik utama bagi orang yang melintas. Tidak sedikit pembeli datang kembali karena cocok dengan cita rasa yang disajikan.

Dampak Pandemi COVID

Pandemi COVID-19 menjadi salah satu ujian terberat bagi usaha Haidir. Penjualan menurun tajam karena mobilitas masyarakat berkurang drastis. Situasi itu membuat usahanya nyaris berhenti.

Dalam kondisi sepi, Haidir bahkan sempat berpikir untuk menutup usaha. Ia mengaku stres dan sempat menawarkan lapaknya kepada orang lain. Tawaran itu muncul karena ia merasa tidak sanggup lagi menanggung tekanan bisnis.

Saat itu, lapaknya sempat ditawar Rp 50 juta, jauh di bawah permintaan Rp 150 juta. Beruntung, transaksi tersebut batal sehingga ia tetap bertahan. Keputusan itu kemudian terbukti membuka jalan bagi peluang yang lebih baik.

Ruko Baru Jadi Peluang

Titik balik usaha Haidir datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa. Lokasi baru itu dinilai lebih strategis dan lebih layak untuk pengembangan usaha. Ia pun segera mengambil keputusan untuk pindah.

Pindah ke ruko memberi Haidir ruang usaha yang lebih nyaman dan terlihat jelas oleh pelanggan. Ia dapat melayani pembeli dengan lebih leluasa dibanding saat masih berjualan di trotoar. Langkah ini juga memperkuat citra usahanya sebagai kuliner yang terus tumbuh.

Dari gerobak keliling hingga menempati ruko, perjalanan Haidir menunjukkan pentingnya ketekunan dalam usaha kecil. Tantangan memang datang silih berganti, tetapi konsistensi mampu membuka peluang baru. Kini, Sate Ayam Barokah Mayestik menjadi contoh usaha mikro yang berhasil naik kelas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!