Aroma daging ayam dan kambing khas Madura menyambut siapa saja yang melintas di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dari sebuah ruko dua lantai di kawasan Mayestik, usaha sate milik Mochamad Haidir tampak ramai dan tertata. Di balik kesuksesan itu, tersimpan perjalanan panjang sejak ia berjualan dengan gerobak keliling pada 2013. Ketekunan dan keberaniannya bertahan membuat usaha kecil itu kini naik kelas.
Haidir tidak langsung menikmati hasil seperti sekarang, karena awal usahanya dipenuhi tantangan di jalanan. Ia sempat dikejar Satpol PP, diusir pedagang lain, hingga harus bertahan di trotoar dengan segala keterbatasan. Meski begitu, lokasi Mayestik yang dikelilingi kawasan perkantoran membuatnya melihat peluang yang besar. Dari keyakinan itulah, Sate Ayam Barokah Mayestik perlahan dikenal pelanggan.
Perjalanan Sate Mayestik
Haidir memulai usaha sate pada 2013 dengan modal sederhana dan semangat yang besar. Saat itu, ia masih berjualan memakai gerobak keliling yang berpindah dari satu titik ke titik lain. Kehidupan di jalanan membuatnya akrab dengan ketidakpastian dan risiko setiap hari. Namun ia tetap bertahan karena percaya usaha makanan punya pasar yang selalu ada.
Di masa awal, ia harus menghadapi penolakan dari sesama pedagang yang merasa terganggu dengan kehadirannya. Menurut Haidir, ada pedagang dari Pasar Mayestik yang pernah mendatangi lapaknya dan memintanya pergi. Situasi itu membuat suasana berjualan tidak selalu nyaman dan sering memicu ketegangan. Meski demikian, ia memilih tidak mundur dan terus mencari cara agar usahanya bertahan.
Keputusan untuk menetap di kawasan Mayestik menjadi salah satu langkah penting dalam usahanya. Ia melihat kawasan itu ramai oleh aktivitas pekerja kantoran dan pengunjung yang datang setiap hari. Arus orang yang tinggi memberi peluang besar bagi pedagang makanan seperti dirinya. Dari situ, ia mulai membangun pelanggan tetap dan memperkuat nama usahanya.
Seiring waktu, gerobak sederhana itu berubah menjadi lapak yang lebih dikenal masyarakat sekitar. Nama Sate Ayam Barokah Mayestik mulai melekat karena cita rasa dan konsistensi pelayanan yang dijaga. Haidir mengandalkan ketekunan, kebersihan, dan kualitas daging sebagai pembeda dari banyak penjual lain. Hasilnya, pelanggan datang tidak hanya karena lapar, tetapi juga karena percaya pada rasanya.
Ujian Berat Saat Pandemi
Pandemi COVID-19 menjadi masa paling sulit dalam perjalanan usaha Haidir. Pembatasan aktivitas dan sepinya mobilitas membuat penjualan turun drastis. Kondisi itu menekan keuangan dan menguras energi mentalnya. Ia mengaku sempat sangat stres karena usaha yang dibangun bertahun-tahun nyaris berhenti.
Dalam masa sulit itu, Haidir sampai terpikir untuk melepas lapaknya kepada orang lain. Ia bahkan pernah menawarkan tempat usahanya karena merasa tidak sanggup lagi melanjutkan. Harga yang ia ajukan saat itu mencapai Rp150 juta, namun ada pihak yang hanya menawar Rp50 juta. Beruntung, transaksi itu tidak jadi dilakukan sehingga ia masih memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.
Kondisi sepi selama pandemi membuat banyak pedagang makanan menghadapi tantangan yang sama. Namun bagi Haidir, tekanan itu terasa lebih berat karena ia menggantungkan hidup sepenuhnya dari usaha sate. Ia harus menjaga agar operasional tetap berjalan meski pemasukan tidak stabil. Situasi tersebut menjadi ujian nyata bagi kesabaran dan komitmennya.
Meski sempat terpuruk, Haidir tidak berhenti memikirkan cara mempertahankan usahanya. Ia terus menjaga kualitas rasa dan menunggu momentum agar pelanggan kembali datang. Sikap bertahan inilah yang kemudian menjadi modal penting saat situasi mulai membaik. Dari masa paling berat, ia belajar bahwa usaha kuliner membutuhkan daya tahan yang kuat.
Ruko Baru Jadi Peluang
Titik balik usaha Haidir datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapak lamanya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu muncul pada akhir 2025 dan langsung menarik perhatiannya. Lokasi yang lebih strategis memberi peluang lebih besar untuk menjangkau pelanggan. Tanpa menunggu lama, ia memutuskan pindah ke tempat baru tersebut.
Pindah ke ruko membuat usahanya terlihat lebih profesional dan mudah dikenali. Ruang yang lebih layak juga memberi kenyamanan bagi pelanggan yang ingin makan di tempat. Dari sisi operasional, kondisi itu membantu Haidir mengatur aktivitas penjualan dengan lebih baik. Perubahan ini menandai naik kelasnya usaha yang dulu hanya bertumpu pada gerobak.
Posisi ruko yang berada di jalur ramai membuat aroma sate lebih mudah menarik perhatian orang yang lewat. Keunggulan lokasi ini memperkuat daya saing usahanya dibanding saat masih berjualan di trotoar. Bagi Haidir, keputusan pindah bukan sekadar soal tempat, melainkan soal keberlanjutan bisnis. Ia melihat langkah itu sebagai investasi untuk masa depan usaha keluarga.
Dengan tampilan yang lebih tertata, Haidir kini punya peluang memperluas pelanggan dan memperkuat reputasi. Perjalanan panjang dari pedagang keliling hingga menempati ruko menjadi bukti bahwa konsistensi bisa mengubah nasib. Di tengah persaingan kuliner Jakarta Selatan, ia tetap bertumpu pada rasa dan ketekunan. Kisahnya menunjukkan bahwa usaha kecil pun bisa tumbuh besar jika dijalani dengan sabar dan disiplin.
Kunci Bertahan Usaha Kuliner
Perjalanan Haidir memberi gambaran bahwa usaha kuliner tidak hanya bergantung pada rasa enak. Lokasi, ketahanan menghadapi krisis, dan kemampuan membaca peluang juga sangat menentukan. Ia berhasil memanfaatkan kawasan Mayestik yang ramai sebagai basis usahanya. Dari situ, bisnis yang dimulai dengan sederhana perlahan menemukan bentuk terbaiknya.
Ketekunan menjadi modal utama yang membuatnya bertahan saat menghadapi penolakan dan tekanan. Saat banyak orang mungkin menyerah, Haidir memilih terus berjualan dan menunggu situasi membaik. Sikap itu membantunya menjaga hubungan dengan pelanggan yang sudah mengenal cita rasa satenya. Kepercayaan konsumen pun tumbuh seiring waktu.
Kisah ini juga menunjukkan pentingnya keberanian mengambil keputusan di saat yang tepat. Ketika ruko kosong tersedia, Haidir tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Ia memahami bahwa momentum dalam bisnis sering datang sekali dan harus segera dimanfaatkan. Langkah itu menjadi bukti bahwa keberanian bisa membuka pintu pertumbuhan.
Di tengah maraknya persaingan kuliner Jakarta, Sate Ayam Barokah Mayestik menjadi contoh usaha yang naik kelas lewat proses panjang. Dari gerobak keliling, lalu bertahan melewati pandemi, hingga kini menempati ruko strategis, seluruh tahap itu membentuk cerita sukses yang nyata. Haidir membuktikan bahwa kerja keras dan konsistensi masih menjadi kunci utama dalam membangun usaha. Bagi pelaku UMKM lain, kisah ini memberi pelajaran bahwa bertahan sering kali menjadi awal dari perubahan besar.
