Pedagang Sate di Mayestik Naik Kelas ke Ruko Strategis

Lifestyle Nadia Safira Putri 21 Mei 2026 19:49 WIB 7
Pedagang Sate di Mayestik Naik Kelas ke Ruko Strategis

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura sempat menarik perhatian pejalan kaki di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ketika Mochamad Haidir sibuk menjaga bara satai agar tetap menyala. Pedagang berusia 30 tahun itu kini menikmati hasil dari usaha yang ia rintis sejak 2013, setelah melewati masa sulit, penolakan, dan tekanan saat pandemi.

Usaha yang diberi nama Sate Ayam Barokah Mayestik itu tumbuh perlahan dari gerobak keliling hingga dikenal pelanggan di kawasan perkantoran sekitar Pasar Mayestik. Pada akhir 2025, Haidir mengambil langkah baru dengan pindah ke ruko kosong di depan lapak lamanya, karena lokasi tersebut dinilai lebih strategis untuk mengembangkan usaha.

Awal Perjuangan

Haidir memulai usaha sate dari nol pada 2013 dengan berjualan memakai gerobak keliling. Saat itu, ia masih harus mendorong dagangan di atas trotoar dan mencari pembeli dari satu titik ke titik lain. Jalan yang ia tempuh tidak mudah, karena ia kerap berhadapan dengan razia dan penolakan.

Dalam masa awal berjualan, ia mengaku sering diusir, baik oleh aparat maupun sesama pedagang. Situasi itu membuatnya harus terus berpindah tempat agar tetap bisa mencari nafkah. Meski begitu, ia tidak menyerah dan terus bertahan di sekitar kawasan yang menurutnya memiliki potensi besar.

Haidir menilai area Mayestik menawarkan peluang karena dikelilingi perkantoran dan lalu lintas orang yang padat. Keyakinan itu membuatnya memilih menetap lebih lama di lokasi tersebut. Keputusan itu kemudian menjadi dasar perkembangan usahanya hingga dikenal banyak pelanggan.

Diterpa Pandemi

Perjalanan usaha Haidir tidak selalu mulus, karena pandemi COVID-19 sempat menghantam penjualan secara signifikan. Kondisi itu membuat pembeli berkurang drastis dan omzet ikut menurun. Situasi tersebut membuatnya berada dalam tekanan psikologis yang cukup berat.

Haidir bahkan sempat terpikir untuk berhenti berjualan karena rasa lelah dan stres yang ia alami. Ia mengaku pernah menawarkan lapaknya kepada orang lain agar bisa segera mengakhiri usaha itu. Tawaran tersebut menunjukkan betapa beratnya masa yang ia hadapi saat itu.

Lapak sate itu sempat ditawar Rp 50 juta, jauh di bawah harga yang ia ajukan sebesar Rp 150 juta. Namun kesepakatan tidak terjadi, sehingga Haidir tetap mempertahankan usahanya. Keputusan itu kemudian terbukti menjadi langkah penting bagi masa depannya.

Naik Kelas

Titik balik datang pada akhir 2025 ketika sebuah ruko kosong tepat di depan lapak lamanya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu langsung ia lihat sebagai jalan untuk memperkuat usaha. Haidir pun memutuskan pindah agar dagangannya memiliki tempat yang lebih layak dan mudah dijangkau.

Pemindahan ke ruko membuat tampilan usaha menjadi lebih rapi dan profesional. Posisi yang berada di depan lokasi lama juga memberi keuntungan dari sisi visibilitas. Kondisi itu dinilai bisa membantu menarik pelanggan baru tanpa kehilangan pembeli lama.

Langkah tersebut menandai naik kelasnya usaha yang ia bangun dengan kerja keras selama bertahun-tahun. Dari gerobak sederhana, kini ia mengelola lapak yang lebih strategis di kawasan ramai Jakarta Selatan. Perjalanan itu menjadi contoh bahwa ketekunan dapat mengubah usaha kecil menjadi lebih berkembang.

Strategi Bertahan

Bagi Haidir, bertahan di bisnis kuliner tidak cukup hanya mengandalkan rasa yang enak. Lokasi, konsistensi, dan kemampuan membaca peluang juga menjadi faktor penting. Ia memilih terus menyesuaikan diri dengan kondisi pasar agar usaha tetap hidup.

Rasanya yang khas Madura menjadi modal utama untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Sementara itu, aroma sate yang kuat dan proses pembakaran yang terjaga menjadi daya tarik bagi orang yang melintas. Kombinasi tersebut membantu usahanya tetap relevan di tengah persaingan kuliner yang ketat.

Kisah Haidir menunjukkan bahwa kesabaran sering menjadi kunci dalam usaha mikro. Dari gerobak keliling, penolakan, hingga pandemi, ia tetap menjaga keyakinannya untuk bertahan. Kini, usaha yang dulu dipandang kecil mulai menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!