Patek Philippe dan AP Jadi Sorotan Usai Kasus Asabri

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 20:29 WIB 4
Patek Philippe dan AP Jadi Sorotan Usai Kasus Asabri

Dunia horologi kembali menjadi perhatian publik setelah Kejaksaan Agung memusnahkan 14 jam tangan milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo. Barang-barang itu dipastikan palsu, meski sempat dikaitkan dengan merek mewah seperti Patek Philippe dan Audemars Piguet.

Peristiwa tersebut ikut memicu sorotan terhadap pasar jam tangan mewah di Indonesia, terutama di kalangan kolektor dan orang berduit. Di sisi lain, harga arloji kelas atas yang fantastis kembali menunjukkan mengapa versi tiruan masih kerap beredar di pasaran.

Jam tangan mewah kembali disorot

Kejaksaan Agung memastikan seluruh barang yang dimusnahkan bukan produk asli setelah melalui proses validasi yang panjang. Sebelumnya, tersangka juga telah mengakui bahwa barang tersebut palsu.

Pemusnahan itu terkait dengan perkara korupsi Asabri yang menimbulkan kerugian negara hingga Rp22,7 triliun. Kasus ini membuat publik kembali menyoroti gaya hidup mewah yang kerap melekat pada para pelaku korupsi.

Jam tangan mewah memang memiliki nilai simbolik yang kuat di kalangan tertentu. Namun, dalam kasus ini, status eksklusif justru runtuh karena barang yang disita tidak sesuai klaim.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa merek prestise tidak selalu menjamin keaslian barang yang beredar di tangan kolektor maupun pihak yang terlibat perkara hukum. Di pasar gelap, penampilan sering dijadikan alat untuk meniru kemewahan asli.

Harga Patek Philippe dan AP

Audemars Piguet dan Patek Philippe dikenal sebagai dua nama besar dalam dunia jam tangan mewah. Keduanya kerap masuk daftar buruan kolektor karena desain, reputasi, dan kelangkaannya.

Untuk AP, model Royal Oak berbahan stainless steel umumnya berada di kisaran Rp600 juta hingga Rp1,2 miliar. Sementara Royal Oak Offshore chronograph biasanya dibanderol sekitar Rp400 juta sampai Rp900 juta.

Model high complication atau limited edition dari AP bahkan bisa menembus Rp2 miliar hingga lebih dari Rp6 miliar. Harga itu membuat AP tetap berada di kelas yang sangat eksklusif di pasar arloji global.

Patek Philippe sering dinilai lebih mahal dan lebih eksklusif dibanding AP. Di kalangan kolektor, merek asal Swiss ini kerap disebut sebagai holy grail karena produksinya terbatas dan nilai jual kembalinya kuat.

Deretan seri Patek Philippe

Patek Philippe memiliki lini produk yang menyasar berbagai kelas pasar premium. Seri Calatrava tingkat awal dibanderol mulai Rp180 juta hingga Rp500 juta.

Di atasnya, Aquanaut dipasarkan sekitar Rp1 miliar sampai Rp4 miliar. Nautilus bahkan dapat mencapai Rp1,8 miliar hingga Rp7 miliar.

Untuk seri Grand Complications, harganya bisa menembus puluhan miliar rupiah. Kelas harga ini menegaskan posisi Patek Philippe sebagai salah satu simbol kemewahan tertinggi di dunia jam tangan.

Kelangkaan produksi menjadi faktor utama yang menjaga harga tetap tinggi. Bagi para kolektor, status kepemilikan sering kali sama pentingnya dengan fungsi jam itu sendiri.

JWX 2026 dan minat kolektor

Di Jakarta Watch Exchange atau JWX 2026 pada Januari lalu, Patek Philippe Nautilus Chrono White Gold Blue Dial 40th Anniversary sempat dipamerkan. Arloji tersebut disebut sangat diincar kolektor dan ditawarkan seharga Rp6,6 miliar.

Ajang seperti JWX menunjukkan bahwa pasar jam tangan mewah di Indonesia terus hidup. Minat tinggi datang dari kalangan crazy rich yang ingin memiliki barang bernilai prestise sekaligus investasi.

Founder JWX, Anton Lim, menyebut Richard Mille berada di urutan teratas sebagai merek yang paling dicari. Setelah itu, Patek Philippe dan Audemars Piguet menjadi nama yang paling sering diburu.

Peta minat ini menegaskan bahwa jam tangan mewah bukan sekadar aksesori, melainkan juga penanda status sosial. Di tengah sorotan atas barang palsu, publik kembali diingatkan bahwa harga tinggi selalu harus diimbangi dengan keaslian yang terverifikasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!