Patek Philippe dan AP Jadi Sorotan Usai Jam Palsu Koruptor Dimusnahkan

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 21:38 WIB 2
Patek Philippe dan AP Jadi Sorotan Usai Jam Palsu Koruptor Dimusnahkan

Nama Patek Philippe dan Audemars Piguet kembali mencuri perhatian publik Indonesia setelah Kejaksaan Agung memusnahkan 14 jam tangan milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo. Barang-barang tersebut dipastikan palsu setelah melalui proses validasi, sementara kasus korupsi yang menjeratnya menimbulkan kerugian negara Rp22,7 triliun. Sorotan terhadap arloji mewah pun menguat, karena merek-merek itu kerap identik dengan harga fantastis dan status sosial tinggi.

Di dunia kolektor, jam tangan seperti Patek Philippe dan AP bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan simbol prestise dan investasi. Publik lantas kembali membahas perbedaan harga, kelangkaan, serta daya tahan nilai dari dua merek asal Swiss yang selama ini diburu para kolektor dan kalangan berduit.

Patek Philippe dan AP mewah

Patek Philippe dan Audemars Piguet dikenal sebagai dua nama besar dalam dunia horologi kelas atas. Keduanya kerap diposisikan sebagai arloji yang tidak hanya mahal, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan reputasi kuat. Di Indonesia, dua merek ini sering muncul dalam percakapan tentang gaya hidup mewah dan koleksi eksklusif. Karena itu, setiap kabar yang berkaitan dengan keduanya mudah menyita perhatian publik.

Audemars Piguet, terutama lini Royal Oak, dikenal dengan desain ikonik dan permintaan yang terus tinggi. Sementara itu, Patek Philippe sering dianggap lebih eksklusif karena produksi yang sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat kedua merek ini sulit dijangkau oleh pembeli umum. Tidak mengherankan jika keduanya lebih sering dikaitkan dengan kolektor dan pemburu barang mewah.

Popularitas dua merek itu juga didorong oleh citra yang melekat sebagai barang prestise. Banyak kolektor menilai kepemilikan jam tangan mewah sebagai bentuk apresiasi terhadap seni dan presisi. Di sisi lain, pasar jam tangan mewah juga dipengaruhi tren dan status sosial. Faktor-faktor inilah yang membuat nama Patek Philippe dan AP tetap kuat di pasar global maupun Indonesia.

Harga jam tangan fantastis

Harga Audemars Piguet berada di rentang yang sangat lebar, tergantung model dan materialnya. Royal Oak stainless steel, misalnya, dapat dibanderol sekitar Rp600 juta hingga Rp1,2 miliar. Royal Oak Offshore chronograph umumnya berada di kisaran Rp400 juta sampai Rp900 juta. Untuk model high complication atau limited edition, harganya bisa menembus Rp2 miliar hingga lebih dari Rp6 miliar.

Patek Philippe bahkan kerap berada di kelas yang lebih tinggi dibanding AP. Seri Calatrava entry level disebut mulai dari Rp180 juta hingga Rp500 juta. Aquanaut berada di kisaran Rp1 miliar sampai Rp4 miliar, sedangkan Nautilus dapat mencapai Rp1,8 miliar hingga Rp7 miliar. Untuk Grand Complications, harganya bisa menembus puluhan miliar rupiah.

Perbedaan harga itu dipengaruhi oleh kompleksitas mesin, material, dan tingkat kelangkaan. Semakin terbatas produksinya, semakin tinggi pula minat pasar terhadap model tersebut. Pada sejumlah model, harga juga ikut terdorong oleh reputasi merek dan permintaan kolektor. Akibatnya, jam tangan mewah sering diperlakukan sebagai aset yang nilainya dapat bertahan lama.

Jadi incaran kolektor

Di kalangan kolektor, Patek Philippe sering disebut sebagai holy grail karena produksi yang terbatas. Reputasi itu diperkuat oleh kemampuan merek tersebut menjaga nilai jual kembali dalam jangka panjang. Model-model tertentu bahkan sulit didapat meski pembeli memiliki kemampuan finansial besar. Situasi ini membuat Patek Philippe selalu berada di daftar teratas incaran kolektor.

Audemars Piguet juga memiliki basis penggemar yang sangat kuat, terutama melalui seri Royal Oak. Desainnya yang khas menjadikan AP mudah dikenali dan memiliki daya tarik tersendiri. Banyak pembeli menilai jam tangan ini sebagai perpaduan antara kemewahan dan identitas yang kuat. Karena itu, permintaan terhadap model tertentu cenderung stabil di pasar sekunder.

Di Indonesia, kedua merek ini masuk dalam kategori jam tangan mewah yang banyak dicari oleh crazy rich. Pendiri Jakarta Watch Exchange, Anton Lim, pernah menyebut Richard Mille berada di urutan teratas, disusul Patek Philippe dan Audemars Piguet. Pernyataan itu menunjukkan bahwa selera pasar domestik sangat dipengaruhi oleh eksklusivitas dan status merek. Dalam konteks tersebut, jam tangan bukan lagi sekadar aksesori, melainkan penanda kelas sosial.

Kasus korupsi dan jam palsu

Sorotan publik terhadap jam tangan mewah kembali menguat setelah Kejaksaan Agung memusnahkan barang milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo. Sebanyak 14 jam tangan yang ikut dimusnahkan dipastikan palsu setelah melalui proses validasi panjang. Sebelumnya, dalam persidangan, tersangka juga mengakui bahwa barang tersebut bukan produk asli. Fakta ini menegaskan bahwa citra mewah tidak selalu sejalan dengan keaslian barang.

Pemusnahan tersebut turut membuka kembali diskusi tentang maraknya barang tiruan di pasar. Jam tangan KW kerap dibuat menyerupai merek mahal agar tampak meyakinkan bagi pembeli awam. Namun, perbedaan kualitas, mesin, dan detail finishing biasanya sangat jauh dari produk asli. Karena itu, verifikasi menjadi langkah penting sebelum membeli arloji premium.

Kasus ini sekaligus menunjukkan bagaimana barang mewah dapat menjadi simbol yang rentan disalahgunakan. Pada satu sisi, merek seperti Patek Philippe dan AP memiliki nilai tinggi karena kualitas dan kelangkaan. Pada sisi lain, nama besar itu juga kerap ditiru untuk mengejar keuntungan cepat. Publik pun diingatkan untuk lebih cermat membedakan antara prestise asli dan kemewahan palsu.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!