Pasutri Cokelatin Signature Ekspor Cokelat Asli Indonesia

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 20:54 WIB 3
Pasutri Cokelatin Signature Ekspor Cokelat Asli Indonesia

Cokelat olahan kakao asli Indonesia kian menunjukkan daya saing di pasar global melalui langkah bisnis Cokelatin Signature milik pasangan suami istri Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra. Produk mereka tidak hanya populer di dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar internasional seperti Amerika Serikat, Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong.

Ekspor tersebut dilakukan dengan pendekatan yang menjaga identitas produk sebagai merek asli Indonesia, bukan sekadar menjual bahan mentah. Di ajang Trade Expo Indonesia, Irena menjelaskan bahwa kapasitas ekspor masih terbatas, namun arah pengembangan bisnis terus difokuskan pada produk cokelat siap konsumsi yang bernilai tambah tinggi.

Cokelat Asli Indonesia

Cokelatin Signature memanfaatkan kakao asal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan sebagai bahan utama produknya. Pemilihan bahan baku lokal menjadi bagian penting dari upaya memperkenalkan cita rasa cokelat Indonesia ke pasar yang lebih luas. Irena dan Nugroho ingin menunjukkan bahwa kualitas kakao dalam negeri mampu bersaing di tingkat internasional. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi produk olahan lokal di industri makanan dan minuman.

Menurut Irena, pasar domestik masih menjadi tulang punggung penjualan bisnis tersebut. Meski demikian, permintaan dari luar negeri mulai terbuka melalui sejumlah pameran dan jejaring dagang. Produk mereka telah dikirim ke Boston di Amerika Serikat, Riyadh di Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Ekspor itu dilakukan secara bertahap agar kualitas produk tetap terjaga.

Irena menegaskan bahwa perusahaannya tidak ingin menempuh jalur ekspor bahan mentah. Ia ingin Cokelatin Signature dikenal sebagai merek dengan karakter kuat, bukan sekadar pemasok komoditas. Karena itu, proses pengolahan hingga pengemasan dilakukan dengan standar yang mendukung kualitas ekspor. Strategi tersebut menjadi pembeda di tengah kompetisi produk cokelat yang semakin ketat.

Awal Usaha Pasangan

Gagasan bisnis ini berangkat dari kebiasaan Irena yang menyukai minuman manis. Dari situ, ia mulai melihat bahwa cokelat Indonesia memiliki rasa yang enak dan berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan. Awalnya, cokelat itu dibuat untuk konsumsi pribadi di rumah. Namun, respons positif dari orang terdekat membuat ide tersebut berkembang menjadi usaha.

Pada 2016, Irena masih bekerja sebagai karyawan swasta saat mulai memperkenalkan racikan cokelat buatannya kepada teman kantor. Sambutan yang diterima mendorongnya untuk mempelajari lebih jauh tentang bisnis cokelat. Dari situ, ia dan Nugroho mulai memahami dasar-dasar UMKM secara bertahap. Proses belajar itu menjadi fondasi penting bagi perkembangan usaha mereka.

Nama Cokelatin sendiri lahir dari gabungan kata cokelat, Iren, dan Nugi. Nama tersebut dipilih untuk menggambarkan kedekatan personal sekaligus semangat menghadirkan produk yang hangat. Irena menyebut cokelat sebagai simbol cinta, sehingga merek itu dirancang untuk mudah diingat. Identitas merek yang sederhana justru membantu produk lebih cepat dikenal konsumen.

Fokus Produk Minuman

Meski telah mengembangkan cokelat bar, produksi utama Cokelatin Signature masih berada pada bubuk minuman. Menurut Irena, format bubuk lebih sesuai dengan minat konsumen dan kebutuhan pasar yang mereka bidik. Produk itu juga dinilai lebih mudah dikembangkan dalam berbagai varian rasa. Dari sisi operasional, bentuk bubuk lebih fleksibel untuk distribusi.

Irena menilai produk minuman cokelat memiliki peluang ekspor yang lebih besar karena penanganannya lebih sederhana. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi bisnis yang ingin memperluas pasar tanpa mengorbankan kualitas. Dengan bentuk bubuk, produk bisa dikemas dan dikirim dengan risiko kerusakan yang lebih rendah. Keunggulan tersebut membuat jalur ekspor lebih efisien untuk skala usaha mereka.

Orientasi bisnis Cokelatin Signature tidak hanya berhenti pada pasar lokal. Pasangan ini ingin memperluas penetrasi ke luar negeri dengan tetap mempertahankan cita rasa khas Indonesia. Mereka melihat minuman cokelat sebagai pintu masuk yang efektif untuk membangun brand awareness. Dari sana, peluang pengembangan produk lain dapat dibuka secara bertahap.

Ekspor dan Tantangan

Meski sudah menembus beberapa negara, Irena mengakui kapasitas ekspor bisnisnya belum besar. Keterbatasan produksi membuat pengiriman dilakukan secara selektif dan bertahap. Kondisi ini menunjukkan bahwa usaha tersebut masih berada dalam fase pertumbuhan. Namun, capaian ekspor awal menjadi modal penting untuk langkah berikutnya.

Menurut Irena, menjaga kualitas menjadi prioritas utama dalam setiap proses bisnis. Karena itu, ia memilih untuk tidak tergesa-gesa memperbesar volume ekspor. Pendekatan ini dianggap lebih sehat bagi keberlanjutan usaha dan reputasi merek. Di sisi lain, strategi tersebut membantu menjaga konsistensi rasa pada setiap produk yang dikirim.

Kehadiran Cokelatin Signature di Trade Expo Indonesia menjadi momentum untuk memperluas jaringan dagang. Pameran itu memberi ruang bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk bertemu pembeli potensial dari berbagai negara. Bagi Irena dan Nugroho, ajang tersebut bukan hanya tempat promosi, tetapi juga sarana pembelajaran bisnis. Dari sana, mereka berharap ekspor cokelat asli Indonesia bisa terus bertumbuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!