Pasutri Cokelatin Signature Ekspor Cokelat Asli Indonesia

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 20:36 WIB 2
Pasutri Cokelatin Signature Ekspor Cokelat Asli Indonesia

Cokelatin Signature, usaha milik pasangan suami istri Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra, berhasil memperkenalkan cokelat berbahan kakao asli Indonesia ke pasar internasional. Produk mereka diproses dari kakao asal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, lalu dipasarkan ke sejumlah negara. Ekspor tersebut menjadi bukti bahwa cita rasa lokal dapat bersaing di luar negeri. Kisah ini juga menunjukkan bagaimana UMKM dapat tumbuh dari kegemaran sederhana menjadi bisnis bernilai tambah.

Irena menjelaskan pasar utama Cokelatin Signature masih berada di dalam negeri. Meski demikian, perusahaan itu telah menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat, Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Produk yang dikirim masih terbatas karena perusahaan memilih tidak mengekspor bahan mentah. Strategi tersebut dipertahankan agar merek tetap kuat sebagai produk olahan, bukan sekadar komoditas.

Cokelat Asli Indonesia

Irena mengatakan ketertarikannya pada minuman manis menjadi pintu awal lahirnya bisnis ini. Ia melihat cokelat Indonesia memiliki cita rasa yang baik, lalu mulai meracik produk untuk konsumsi pribadi. Dari kebiasaan itu, muncul ide untuk menawarkan hasil racikannya kepada orang lain. Respons positif dari lingkungan sekitar membuat gagasan tersebut berkembang menjadi usaha serius.

Pada 2016, saat masih bekerja sebagai karyawan swasta, Irena mulai memperkenalkan produknya kepada rekan kantor. Ternyata, sambutan yang diterima cukup baik dan mendorongnya untuk terus belajar. Ia dan Nugroho kemudian mendalami dunia cokelat, sekaligus memahami dasar-dasar usaha kecil. Dari proses itu, Cokelatin Signature tumbuh perlahan dengan identitas yang lebih matang.

Nama Cokelatin sendiri lahir dari gabungan kata cokelat, Iren, dan Nugi. Menurut Irena, nama tersebut juga merefleksikan makna emosional yang ingin dibangun dalam merek mereka. Ia menyebut cokelat sebagai simbol cinta, sehingga produk yang dibuat diharapkan punya nilai kedekatan bagi konsumen. Filosofi itu menjadi pembeda di tengah ketatnya persaingan produk minuman dan cokelat kemasan.

Dengan pendekatan itu, Cokelatin Signature tidak hanya menjual rasa, tetapi juga cerita di balik produk. Narasi asal-usul bahan baku dari berbagai daerah di Indonesia memberi nilai lebih pada produk mereka. Konsumen di dalam dan luar negeri tidak hanya membeli minuman cokelat, tetapi juga pengalaman rasa khas nusantara. Hal ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan merek ke tahap berikutnya.

Ekspor Lewat Produk Olahan

Irena menuturkan ekspor yang dilakukan perusahaannya masih dalam skala terbatas. Meski begitu, pengiriman produk ke Boston, Riyadh, Taiwan, dan Hong Kong menjadi pencapaian penting bagi bisnis tersebut. Ia menegaskan bahwa perusahaan memilih menjaga kualitas produk olahan dibanding menjual bahan mentah. Keputusan itu sejalan dengan visi untuk membangun merek cokelat Indonesia yang bernilai tambah.

Menurutnya, kapasitas ekspor belum besar karena perusahaan masih menjaga idealisme pada proses produksi. Cokelatin Signature ingin menghadirkan produk yang sudah siap pakai dan mudah diterima pasar luar negeri. Bubuk minuman cokelat dinilai lebih praktis untuk dikirim dalam jumlah lebih banyak. Dari sisi logistik, produk tersebut juga lebih efisien dibanding bentuk olahan lainnya.

Irena menyampaikan ekspor dilakukan sebagai penguatan merek, bukan sekadar mengejar volume penjualan. Strategi ini membuat perusahaan lebih fokus pada kualitas, kemasan, dan konsistensi rasa. Di sisi lain, ekspor juga membuka peluang memperkenalkan kakao Indonesia kepada konsumen global. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa produk UMKM dapat naik kelas tanpa kehilangan karakter lokal.

Keberhasilan masuk ke beberapa negara menjadi sinyal positif bagi industri cokelat olahan Indonesia. Pasar luar negeri dinilai memberi ruang bagi produk dengan cerita asal bahan baku yang kuat. Dalam konteks itu, Cokelatin Signature tampil sebagai contoh usaha yang memadukan kreativitas, kualitas, dan identitas daerah. Kombinasi tersebut menjadi modal penting untuk memperluas pasar di masa depan.

Fokus pada Bubuk Minuman

Meski telah memiliki produk cokelat bar, produksi utama Cokelatin Signature masih berada pada bubuk minuman cokelat. Pilihan ini diambil karena produk tersebut lebih sesuai dengan minat pribadi Irena terhadap minuman manis. Selain itu, bentuk bubuk lebih fleksibel untuk diolah dan dipasarkan dalam berbagai varian. Dari sisi bisnis, produk ini juga lebih mudah dikembangkan untuk pasar ekspor.

Irena menjelaskan orientasi perusahaan adalah memperluas pasar domestik sekaligus menembus pasar global. Karena itu, varian minuman cokelat terus dikembangkan agar konsumen memiliki lebih banyak pilihan. Inovasi rasa dan formulasi menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan usaha. Dengan cara ini, perusahaan dapat menjaga daya saing tanpa meninggalkan karakter utama produk.

Produk bubuk minuman dinilai lebih efisien dari sisi pengemasan dan distribusi. Hal ini memudahkan proses pengiriman ke luar negeri, terutama ketika kapasitas produksi masih terbatas. Cokelatin Signature pun dapat menjaga standar mutu tanpa menambah beban operasional terlalu besar. Pertimbangan tersebut membuat strategi ekspor mereka berjalan lebih terukur.

Di pasar domestik, pendekatan ini juga memberi kesempatan untuk memperkenalkan budaya minum cokelat yang lebih luas. Produk yang mudah disajikan cenderung lebih cepat diterima konsumen. Karena itu, perusahaan menempatkan minuman cokelat sebagai pintu utama pertumbuhan merek. Langkah tersebut sekaligus memperkuat posisi produk olahan kakao Indonesia di pasar ritel.

UMKM Naik Kelas

Kisah Cokelatin Signature menunjukkan bahwa UMKM dapat bertumbuh dari hobi menjadi bisnis yang berdaya saing. Proses belajar yang dimulai tanpa bekal bisnis formal justru melahirkan strategi yang lebih adaptif. Irena dan Nugroho membuktikan bahwa keberanian mencoba bisa menjadi awal dari ekspansi. Dari dapur kecil, produk mereka kini menembus pasar beberapa negara.

Keberhasilan itu juga menegaskan pentingnya nilai tambah dalam pengolahan komoditas lokal. Kakao dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan diolah menjadi produk bernilai jual lebih tinggi. Langkah tersebut memberi peluang ekonomi yang lebih besar bagi rantai usaha di dalam negeri. Di saat yang sama, merek Indonesia mendapat tempat dalam pasar yang lebih luas.

Partisipasi mereka dalam Trade Expo Indonesia menjadi momentum untuk memperluas jaringan bisnis. Pameran tersebut membuka peluang temu pembeli, distributor, dan mitra potensial dari berbagai negara. Bagi pelaku UMKM, kehadiran di ajang seperti ini dapat menjadi pintu masuk menuju pasar ekspor. Karena itu, promosi dan kualitas produk harus berjalan beriringan.

Perjalanan Cokelatin Signature memperlihatkan bahwa konsistensi, identitas merek, dan keberanian berinovasi menjadi kunci pertumbuhan. Produk lokal tidak hanya harus enak, tetapi juga harus punya cerita dan standar yang bisa dipercaya. Dengan fondasi itu, cokelat buatan Indonesia berpeluang makin dikenal di pasar global. Pengalaman pasutri ini memberi contoh bahwa usaha kecil dapat melangkah jauh jika dikelola dengan visi yang jelas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!