Pakar IPB: UPF Tak Selalu Berarti Tidak Sehat

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 06:45 WIB 2
Pakar IPB: UPF Tak Selalu Berarti Tidak Sehat

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali menjadi sorotan di media sosial, terutama setelah perdebatan soal sarden kalengan yang sempat dianggap termasuk kategori tersebut. Di tengah ramainya pembahasan, pakar teknologi pangan IPB University menegaskan bahwa UPF tidak otomatis berarti tidak sehat, karena penilaiannya harus dilihat lebih menyeluruh.

Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi menjelaskan bahwa konsep UPF masih memunculkan perdebatan di kalangan ilmiah. Menurut dia, definisi yang belum sepenuhnya konsisten membuat istilah ini kerap disalahpahami oleh masyarakat.

UPF dan salah kaprah

Menurut Prof Purwiyatno, istilah UPF sering dipakai secara terlalu sederhana dalam percakapan publik. Akibatnya, makanan yang masuk kategori ini langsung dicap buruk tanpa melihat konteksnya.

Ia menilai, penyebutan UPF kerap menimbulkan bias, multitafsir, dan penerapan yang tidak konsisten. Kondisi tersebut membuat label UPF belum tentu bisa dijadikan ukuran tunggal untuk menilai mutu pangan.

Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa banyak orang terlanjur menganggap semua produk UPF pasti tidak menyehatkan. Padahal, setiap produk pangan olahan memiliki komposisi dan nilai gizi yang berbeda-beda.

Pangan olahan tidak seragam

Prof Purwiyatno menekankan bahwa produk pangan olahan tidak bisa disamaratakan hanya berdasarkan tingkat pengolahannya. Ada produk yang memang tinggi gula, garam, atau lemak, tetapi ada pula yang justru dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi tertentu.

Ia mencontohkan, sebagian produk olahan dapat mengandung komponen gizi yang dibutuhkan tubuh. Dalam kondisi tertentu, produk tersebut bahkan dapat membantu meningkatkan asupan gizi masyarakat.

Karena itu, penilaian terhadap pangan perlu dilakukan secara lebih cermat. Masyarakat tidak cukup hanya melihat apakah suatu produk masuk kategori UPF atau bukan.

Stigma pada produk aman

Menurut dia, masalah lain muncul ketika produk yang sebenarnya aman dan bergizi ikut terkena stigma negatif. Padahal, produk tersebut dapat memenuhi standar keamanan pangan dan masih relevan dikonsumsi masyarakat.

Ia menyebut susu UHT, pangan fortifikasi, serta beberapa produk lokal dari IMK dan UMKM sebagai contoh yang bisa ikut terseret dalam stigma tersebut. Hal ini terjadi karena label UPF sering disederhanakan menjadi sinonim dari pangan tidak sehat.

Padahal, produk-produk itu bisa saja memiliki manfaat gizi yang penting, terutama bila dikonsumsi sesuai kebutuhan. Stigma yang berlebihan justru berisiko mengaburkan informasi yang seharusnya membantu konsumen memilih pangan dengan tepat.

Cara menilai makanan dengan tepat

Prof Purwiyatno mengingatkan bahwa penilaian pangan sebaiknya tidak berhenti pada tingkat proses pengolahan. Konsumen juga perlu mempertimbangkan kandungan gizi, keamanan pangan, porsi, dan frekuensi konsumsi.

Dengan pendekatan seperti itu, masyarakat dapat menilai makanan secara lebih adil dan proporsional. Tidak semua pangan olahan harus dihindari, selama komposisinya sesuai kebutuhan dan dikonsumsi secara bijak.

Ia menegaskan bahwa edukasi gizi menjadi kunci untuk mengurangi salah paham di tengah maraknya konten kesehatan di media sosial. Pemahaman yang tepat akan membantu masyarakat membedakan antara pangan yang benar-benar perlu dibatasi dan pangan olahan yang masih aman dikonsumsi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!