Pakar IPB Soroti Salah Kaprah Soal Ultra-Processed Food

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 05:35 WIB 2
Pakar IPB Soroti Salah Kaprah Soal Ultra-Processed Food

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai dibahas di media sosial, terutama setelah sarden kalengan ikut diperdebatkan statusnya sebagai makanan olahan. Polemik ini menunjukkan masih banyak salah paham tentang apakah UPF otomatis tidak sehat atau justru sebaliknya.

Pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai penilaian terhadap pangan tidak bisa hanya bertumpu pada label UPF. Ia menekankan bahwa kandungan gizi, keamanan pangan, porsi, dan frekuensi konsumsi tetap harus menjadi pertimbangan utama.

UPF dan salah kaprah

Perdebatan soal UPF mencuat ketika banyak warganet mengaitkannya dengan makanan yang harus dihindari, mulai dari mi instan hingga produk kemasan. Namun, anggapan bahwa semua pangan berlabel UPF pasti buruk dinilai terlalu menyederhanakan persoalan.

Prof Purwiyatno menjelaskan bahwa istilah UPF belum terdefinisi dengan baik sehingga penerapannya sering bias, multitafsir, dan tidak konsisten. Kondisi ini membuat publik mudah menarik kesimpulan yang keliru saat menilai suatu produk pangan.

Menurutnya, masalah muncul ketika kategori UPF langsung dianggap identik dengan pangan yang tidak menyehatkan. Padahal, setiap produk olahan memiliki komposisi dan fungsi gizi yang berbeda-beda.

Ia menegaskan bahwa pangan olahan tidak bisa dipukul rata hanya berdasarkan tingkat pengolahannya. Penilaian yang lebih tepat harus melihat manfaat dan risikonya secara menyeluruh.

Stigma pada pangan olahan

Prof Purwiyatno menilai stigma negatif sering melekat pada produk yang sebenarnya aman, bergizi, dan telah memenuhi standar. Hal itu terjadi karena label UPF kerap dibaca sebagai tanda otomatis bahwa suatu makanan tidak sehat.

Ia menyebut beberapa produk seperti susu UHT, pangan fortifikasi, hingga sejumlah produk olahan lokal produksi IMK atau UMKM ikut terseret dalam stigma tersebut. Padahal, produk-produk itu bisa saja berperan positif dalam membantu pemenuhan gizi masyarakat.

Pandangan yang terlalu kaku terhadap UPF berisiko mengaburkan perbedaan antarproduk pangan. Akibatnya, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan pada makanan yang sebenarnya layak konsumsi.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa label proses tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam menilai pangan. Informasi gizi dan keamanan tetap harus dibaca bersama sebelum mengambil keputusan konsumsi.

Gizi tetap jadi utama

Menurut Prof Purwiyatno, penilaian pangan seharusnya tidak berhenti pada kategori UPF atau non-UPF. Kandungan zat gizi, tingkat keamanan, dan kebutuhan tubuh jauh lebih relevan untuk menentukan apakah makanan tersebut layak dikonsumsi.

Ia menambahkan, porsi dan frekuensi konsumsi juga memegang peranan penting dalam menjaga pola makan yang sehat. Makanan yang dikonsumsi berlebihan, meski tergolong baik, tetap dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan.

Dalam konteks masyarakat modern, produk olahan masih memiliki peran penting karena praktis dan mudah diakses. Selama komposisinya jelas dan sesuai standar, produk tersebut tidak otomatis menjadi ancaman bagi kesehatan.

Karena itu, publik diimbau lebih kritis membaca informasi pangan dan tidak mudah terjebak pada narasi hitam-putih. Pendekatan yang seimbang dinilai lebih tepat untuk memahami hubungan antara proses pengolahan dan kualitas gizi.

Cermat memilih makanan

Prof Purwiyatno mendorong masyarakat untuk lebih cermat saat memilih makanan, terutama produk kemasan. Langkah sederhana seperti membaca label gizi dapat membantu menilai kandungan yang masuk ke dalam tubuh.

Ia juga menekankan pentingnya melihat makanan sebagai bagian dari pola makan harian, bukan sebagai objek penilaian tunggal. Dengan cara itu, masyarakat dapat menempatkan produk olahan secara proporsional tanpa berlebihan mengkhawatirkannya.

Di sisi lain, edukasi mengenai pangan olahan perlu dilakukan secara konsisten agar publik tidak mudah terpengaruh oleh klaim yang terlalu sederhana. Pemahaman yang baik akan membantu masyarakat membedakan antara makanan yang perlu dibatasi dan yang masih dapat dikonsumsi secara wajar.

Pada akhirnya, kunci utama bukanlah sekadar menghindari label UPF, melainkan memahami kualitas pangan secara utuh. Dengan begitu, pilihan makan dapat lebih sehat, realistis, dan sesuai kebutuhan gizi masing-masing orang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!