Banyak konsumen masih ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan, terutama ketika menemukan nama bahan yang terdengar asing atau teknis. Kekhawatiran itu kerap dikaitkan dengan istilah ultra-processed food yang belakangan ramai dibahas di media sosial.
Namun, pakar teknologi pangan IPB University, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, menilai anggapan tersebut tidak selalu tepat. Menurutnya, kualitas produk pangan tidak bisa dinilai hanya dari panjangnya daftar bahan pada kemasan.
Label makanan kemasan perlu dipahami
Prof. Purwiyatno menjelaskan bahwa banyak orang langsung menganggap produk bermasalah ketika melihat daftar bahan yang panjang. Ada pula yang menilai bahan tambahan pangan sebagai tanda makanan tidak sehat.
Padahal, penilaian seperti itu belum tentu benar karena label komposisi hanya menunjukkan bahan yang digunakan dalam produk. Setiap bahan memiliki fungsi berbeda, mulai dari menjaga rasa, tekstur, hingga daya simpan.
Ia menegaskan bahwa konsumen perlu melihat label secara utuh, bukan hanya terpaku pada nama bahan yang terdengar asing. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat bisa menilai produk secara lebih objektif.
Fungsi bahan tambahan pangan
Menurut Prof. Purwiyatno, penggunaan bahan tambahan pangan tidak otomatis membuat produk menjadi berbahaya. Bahan tersebut justru kerap dipakai untuk menjaga mutu dan keamanan pangan.
Ia menyebut bahwa bahan tambahan dapat membantu mempertahankan stabilitas produk selama penyimpanan. Dalam banyak kasus, bahan itu juga berperan menjaga karakteristik pangan agar tetap layak dikonsumsi.
Karena itu, keberadaan bahan tambahan pada label tidak seharusnya langsung dipandang negatif. Yang lebih penting adalah apakah penggunaannya sesuai dengan tujuan dan kebutuhan produk.
Kesesuaian dengan regulasi
Prof. Purwiyatno menekankan pentingnya kesesuaian penggunaan bahan dengan regulasi yang berlaku. Setiap bahan tambahan memiliki batas kadar yang harus dipatuhi produsen.
Selain kadar, fungsi bahan tersebut juga harus jelas dan relevan dengan produk yang dibuat. Hal ini menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan pangan bagi konsumen.
Ia menambahkan bahwa penilaian produk pangan harus mempertimbangkan aspek mutu, keamanan, dan stabilitas secara menyeluruh. Dengan demikian, konsumen tidak mudah terjebak pada kesan visual dari label kemasan saja.
Cara konsumen membaca label
Konsumen disarankan untuk tidak langsung menilai makanan kemasan dari istilah yang terdengar ilmiah. Pemahaman dasar mengenai fungsi bahan dapat membantu mengurangi kekhawatiran yang tidak perlu.
Membaca label sebaiknya dilakukan dengan melihat komposisi, informasi nilai gizi, serta keterangan penggunaan produk. Cara ini membuat konsumen lebih bijak dalam memilih makanan.
Prof. Purwiyatno menilai edukasi publik tentang pangan olahan perlu terus diperkuat. Jika masyarakat memahami konteksnya, istilah ultra-processed food tidak lagi menjadi sumber salah tafsir yang berlebihan.
