Satelit Nusantara Lima resmi beroperasi dan diproyeksikan menjadi tulang punggung layanan internet berbasis satelit di seluruh Indonesia, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal. Peresmian ini disaksikan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Wamendiktisainstek Stella Christie, serta Komisaris Utama PSN Sofyan Djalil.
Satelit berkapasitas 160 Gbps itu diharapkan memperkuat pemerataan akses internet nasional sekaligus menambah daya saing Indonesia di kawasan ASEAN. Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso menyebut operasi satelit ini sebagai simbol penting kemandirian konektivitas Indonesia di tengah dinamika global.
Satelit Nusantara Lima dan Internet
Adi mengatakan Satelit Nusantara Lima memiliki cakupan layanan di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Dari total kapasitas, 140 Gbps dialokasikan untuk Indonesia, sementara masing-masing 20 Gbps disiapkan untuk Filipina dan Malaysia.
Menurut dia, alokasi terbesar untuk Indonesia menunjukkan komitmen perusahaan dalam mendukung pemerataan akses internet nasional. Layanan tersebut disiapkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pemerintah, swasta, hingga lembaga lain.
PSN menilai kebutuhan konektivitas yang andal semakin penting di tengah persaingan digital regional. Kehadiran satelit ini juga membuka opsi baru bagi pemanfaatan internet di wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial.
Peresmian dan Izin Operasi
Pengoperasian Satelit Nusantara Lima resmi dilakukan setelah perusahaan mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit dan Very Small Aperture Terminal dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Izin tersebut terbit usai satelit ini lolos Uji Laik Operasi di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23-24 April 2026.
Dengan selesainya proses perizinan, Satelit N5 kini dapat digunakan sebagai infrastruktur konektivitas nasional. Pemerintah menilai kehadirannya relevan untuk memperluas jangkauan layanan digital di daerah yang selama ini belum terlayani optimal.
Meutya Hafid hadir dalam seremoni peresmian sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan infrastruktur digital. Kehadiran sejumlah pejabat negara juga menegaskan pentingnya proyek ini bagi agenda pemerataan akses internet.
Investasi dan Infrastruktur
PSN mengalokasikan investasi sekitar Rp 8 triliun dari awal pengembangan hingga tahap operasi Satelit Nusantara Lima. Nilai investasi tersebut mencerminkan besarnya skala proyek yang digarap untuk menopang layanan internet nasional.
Satelit ini sebelumnya diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat, pada September 2025. Setelah itu, wahana antariksa ini menjalani fase Electric Orbit Raising sebelum menempati slot orbit 113 derajat Bujur Timur pada Januari 2026.
Seluruh infrastruktur ruas bumi, termasuk tujuh stasiun bumi dari Aceh hingga Tarakan, telah terintegrasi dengan segmen luar angkasa. Integrasi tersebut menjadi fondasi penting agar layanan internet dapat berjalan stabil dan berkelanjutan.
Dampak untuk Indonesia
Dengan kapasitas 160 Gbps, Satelit Nusantara Lima disebut sebagai salah satu satelit berkapasitas terbesar di Asia. Kapasitas itu memperkuat posisi Indonesia dalam penyediaan konektivitas digital di kawasan.
PSN menyebut satelit ini memiliki usia operasional lebih dari 15 tahun. Dalam periode itu, layanan yang disiapkan mencakup internet cepat untuk masyarakat, sektor bisnis, hingga penguatan keamanan nasional.
Keberadaan Satelit Nusantara Lima diharapkan menjadi solusi bagi pemerataan akses digital di wilayah 3T. Dalam jangka panjang, infrastruktur ini juga diproyeksikan memperkuat ketahanan konektivitas Indonesia di tengah kebutuhan data yang terus meningkat.
