Pakar IPB: Label Pangan Kemasan Tak Selalu Berbahaya

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 03:24 WIB 3
Pakar IPB: Label Pangan Kemasan Tak Selalu Berbahaya

Banyak orang ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan karena nama bahan yang terdengar asing sering dianggap berbahaya. Keraguan itu juga kerap dikaitkan dengan istilah ultra-processed food atau UPF yang belakangan ramai dibahas di media sosial. Namun, pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai anggapan tersebut belum tentu tepat. Menurutnya, kualitas produk pangan tidak bisa dinilai hanya dari daftar bahan pada kemasan.

Anggapan bahwa produk dengan daftar bahan panjang atau bahan tambahan berlabel teknis otomatis bermasalah dinilai perlu diluruskan. Purwiyatno menjelaskan, penilaian terhadap pangan kemasan harus melihat fungsi bahan, kesesuaian dengan regulasi, dan kadar penggunaannya. Ia menyampaikan pandangan itu saat dihubungi detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026. Dengan demikian, daftar bahan yang tampak rumit tidak selalu mencerminkan mutu yang buruk.

Label Pangan Kemasan

Purwiyatno menegaskan, bahan tambahan pangan tidak otomatis membuat suatu produk menjadi berbahaya. Setiap bahan memiliki fungsi tertentu, mulai dari menjaga rasa, warna, tekstur, hingga daya simpan. Karena itu, keberadaan bahan tambahan tidak bisa langsung dipandang negatif. Yang perlu diperhatikan adalah apakah penggunaannya sesuai kebutuhan produk.

Ia menambahkan, produsen menggunakan bahan tambahan untuk membantu menjaga mutu dan keamanan pangan. Dalam banyak kasus, bahan tersebut justru berperan mempertahankan stabilitas produk selama distribusi dan penyimpanan. Tanpa pengaturan yang tepat, kualitas makanan bisa cepat menurun. Maka, penilaian terhadap pangan kemasan perlu dilakukan secara lebih proporsional.

Menurutnya, label komposisi semestinya dibaca sebagai informasi, bukan dasar untuk langsung menilai produk tidak sehat. Konsumen perlu memahami bahwa istilah teknis pada label belum tentu identik dengan bahaya. Selama bahan tersebut diizinkan dan digunakan sesuai aturan, keberadaannya masih dalam koridor keamanan pangan. Sikap kritis tetap penting, tetapi harus disertai pemahaman yang benar.

Fungsi Bahan Tambahan

Bahan tambahan pangan memiliki peran yang berbeda-beda dalam setiap produk. Ada yang berfungsi sebagai pengawet, pengemulsi, penstabil, atau pemberi cita rasa. Semua itu dirancang agar produk tetap aman dan memiliki kualitas yang konsisten. Tanpa bahan tersebut, beberapa produk mungkin sulit bertahan dalam bentuk yang layak konsumsi.

Purwiyatno menjelaskan, yang menjadi soal bukanlah nama bahan, melainkan dosis dan kepatuhan terhadap ketentuan. Bahan yang digunakan berlebihan tentu dapat menimbulkan masalah, tetapi hal itu berbeda dengan penggunaan yang sesuai standar. Oleh sebab itu, konsumen perlu melihat keseluruhan konteks produk. Penilaian yang terburu-buru dapat menyesatkan dan memicu kekhawatiran yang tidak perlu.

Ia juga menekankan pentingnya memahami peran teknologi pangan dalam proses produksi modern. Teknologi pangan membantu memastikan makanan tetap aman, stabil, dan mudah didistribusikan kepada masyarakat. Dalam praktiknya, banyak bahan tambahan yang telah melewati kajian keamanan sebelum digunakan. Karena itu, keberadaannya tidak dapat disamakan dengan bahan berbahaya.

UPF Perlu Dipahami

Istilah ultra-processed food atau UPF sering muncul dalam perbincangan soal pangan kemasan. Namun, label UPF tidak bisa dipakai secara sederhana untuk menilai seluruh produk sebagai tidak sehat. Ada banyak faktor yang memengaruhi kualitas pangan, termasuk komposisi, cara pengolahan, dan kebutuhan konsumsinya. Karena itu, pemahaman yang utuh menjadi sangat penting.

Purwiyatno menyebut, masyarakat kerap menghubungkan bahan yang terdengar asing dengan kesan yang kurang aman. Padahal, nama bahan yang teknis tidak selalu menunjukkan bahwa produk tersebut buruk. Dalam ilmu pangan, banyak istilah yang memang digunakan untuk menjelaskan fungsi spesifik suatu komponen. Jika dipahami dengan benar, label justru dapat membantu konsumen mengambil keputusan lebih tepat.

Ia mengingatkan bahwa kekhawatiran terhadap pangan olahan sebaiknya tidak dibangun hanya dari persepsi. Evaluasi yang tepat perlu melihat kualitas bahan baku, proses produksi, dan kepatuhan terhadap standar keamanan. Dengan pendekatan itu, konsumen dapat membedakan antara produk yang aman dan produk yang patut diwaspadai. Pemahaman semacam ini juga membantu mengurangi misinformasi di ruang publik.

Bijak Membaca Komposisi

Konsumen disarankan membaca label komposisi dengan lebih tenang dan cermat. Informasi pada kemasan sebaiknya dipahami sebagai alat bantu untuk mengenali isi produk, bukan sumber ketakutan. Bila ada bahan yang belum dikenal, konsumen dapat mencari penjelasan dari sumber tepercaya. Langkah ini lebih bermanfaat daripada langsung menganggap produk berbahaya.

Selain itu, memperhatikan takaran saji dan frekuensi konsumsi juga menjadi bagian penting dari pola makan sehat. Produk kemasan tidak selalu harus dihindari, selama dikonsumsi secara wajar dan seimbang. Pemilihan makanan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan kondisi tubuh masing-masing orang. Dengan cara ini, konsumsi pangan menjadi lebih terukur dan realistis.

Purwiyatno menilai, literasi pangan perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum teruji. Pengetahuan yang baik akan membantu konsumen menilai produk secara objektif dan tidak terjebak pada kesan semata. Label komposisi, pada akhirnya, adalah sarana transparansi yang patut dipahami dengan benar. Jika dibaca dengan tepat, informasi itu justru dapat mendukung keputusan konsumsi yang lebih sehat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!