Pakar IPB: Label Makanan Tak Selalu Berbahaya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 26 Mei 2026 20:41 WIB 2
Pakar IPB: Label Makanan Tak Selalu Berbahaya

Banyak konsumen masih ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan, terutama ketika menemukan nama bahan yang terdengar asing atau teknis. Kekhawatiran itu makin besar ketika produk tersebut dikaitkan dengan istilah ultra-processed food yang ramai dibahas di media sosial.

Pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai anggapan bahwa produk dengan daftar bahan panjang otomatis bermasalah tidak selalu tepat. Menurutnya, kualitas pangan tidak bisa dinilai hanya dari nama-nama bahan yang tercantum pada kemasan.

Label Makanan dan UPF

Perdebatan soal label makanan kerap dipicu oleh tampilan komposisi yang dianggap rumit. Padahal, panjang pendeknya daftar bahan tidak selalu mencerminkan buruknya mutu produk.

Istilah ultra-processed food juga sering dipahami secara terlalu sederhana oleh konsumen. Akibatnya, produk yang sebenarnya masih memenuhi standar keamanan ikut dicap negatif.

Prof Purwiyatno menegaskan bahwa penilaian terhadap produk pangan perlu dilakukan secara lebih utuh. Ia menilai masyarakat perlu memahami konteks pemrosesan, bukan hanya fokus pada nama bahan.

Dalam pandangannya, label komposisi seharusnya dibaca sebagai informasi, bukan sebagai alasan untuk langsung menghakimi produk. Pendekatan yang terlalu cepat justru berpotensi menimbulkan salah paham di tengah konsumen.

Bahan Tambahan Pangan

Penggunaan bahan tambahan pangan tidak otomatis membuat suatu produk menjadi berbahaya. Bahan tersebut justru memiliki fungsi tertentu untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan.

Fungsi bahan tambahan dapat mencakup menjaga stabilitas, mempertahankan rasa, hingga membantu daya simpan produk. Karena itu, keberadaannya perlu dilihat dari tujuan penggunaannya.

Prof Purwiyatno menjelaskan bahwa yang paling penting adalah kesesuaian bahan dengan aturan yang berlaku. Selain itu, kadar pemakaian juga harus berada dalam batas yang diizinkan.

Jika digunakan sesuai ketentuan, bahan tambahan pangan dapat membantu menjaga karakteristik produk tanpa menurunkan keamanannya. Dengan demikian, keberadaannya tidak bisa langsung disamakan dengan risiko kesehatan.

Cara Membaca Komposisi

Konsumen perlu membiasakan diri membaca label secara lebih cermat sebelum menarik kesimpulan. Informasi pada kemasan sebaiknya dipahami sebagai bagian dari penilaian menyeluruh terhadap produk.

Nama bahan yang terdengar asing belum tentu berarti berbahaya. Banyak istilah teknis justru merujuk pada bahan yang memang diperlukan dalam proses produksi pangan.

Selain komposisi, konsumen juga perlu memperhatikan tujuan, fungsi, dan takaran pemakaian bahan tersebut. Informasi ini membantu pembaca memahami apakah produk diproses secara wajar atau tidak.

Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat menilai produk secara lebih objektif. Cara ini juga membantu mengurangi kepanikan yang sering muncul akibat informasi yang tidak lengkap.

Sikap Bijak Konsumen

Di tengah maraknya pembahasan pangan di media sosial, sikap kritis tetap penting untuk menjaga kualitas pilihan konsumsi. Namun, kritis tidak berarti menolak semua produk yang terlihat rumit di labelnya.

Konsumen sebaiknya memeriksa apakah produk mengikuti regulasi dan mencantumkan informasi yang jelas. Transparansi label menjadi kunci agar masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih aman.

Prof Purwiyatno menilai edukasi pangan perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak salah menafsirkan daftar bahan. Pemahaman yang baik akan membantu konsumen membedakan antara bahan tambahan yang aman dan produk yang memang bermasalah.

Pada akhirnya, keputusan membeli makanan kemasan semestinya didasarkan pada informasi yang lengkap, bukan sekadar asumsi. Dengan cara itu, konsumen dapat lebih tenang dan tetap selektif dalam memilih produk pangan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!