Pakar IPB: Label Makanan Kemasan Tak Selalu Berbahaya

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 16:26 WIB 3
Pakar IPB: Label Makanan Kemasan Tak Selalu Berbahaya

Banyak orang ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan, terutama ketika menemukan nama bahan yang terdengar asing atau teknis. Kondisi itu kerap memicu kekhawatiran bahwa produk tersebut tidak sehat, bahkan dianggap masuk kategori ultra-processed food atau UPF. Namun, pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai anggapan tersebut tidak selalu tepat.

Ia menegaskan, kualitas pangan tidak bisa dinilai hanya dari panjang daftar bahan pada kemasan. Menurutnya, penilaian harus melihat fungsi bahan, kesesuaian dengan regulasi, serta peran bahan itu dalam menjaga mutu dan keamanan produk. Pernyataan itu disampaikan saat dihubungi detikcom, Kamis, 21 Mei 2026.

Label makanan kemasan

Di tengah maraknya pembahasan soal UPF di media sosial, banyak konsumen menjadi lebih waspada terhadap isi kemasan makanan. Nama bahan tambahan yang terdengar asing sering langsung dianggap sebagai tanda bahaya. Padahal, persepsi tersebut belum tentu sesuai dengan konteks ilmiah.

Prof Purwiyatno menjelaskan bahwa label komposisi memang penting untuk membantu konsumen memahami produk. Namun, informasi di label tidak boleh dibaca secara serampangan tanpa memahami fungsi setiap bahan. Ia menilai, ketakutan berlebihan justru bisa menyesatkan penilaian terhadap produk pangan.

Menurutnya, produk dengan daftar bahan yang panjang belum tentu lebih buruk daripada produk dengan daftar singkat. Sebaliknya, ada pula produk sederhana yang tetap perlu diperhatikan dari sisi kualitas dan keamanan. Karena itu, konsumen perlu melihat keseluruhan informasi, bukan hanya nama bahan yang terdengar rumit.

Bahan tambahan pangan

Prof Purwiyatno menegaskan bahwa penggunaan bahan tambahan pangan tidak otomatis membuat produk berbahaya. Bahan tersebut memiliki fungsi tertentu, seperti menjaga stabilitas, memperpanjang daya simpan, atau mempertahankan karakteristik produk. Selama digunakan sesuai aturan, keberadaannya justru bisa mendukung mutu pangan.

Ia menjelaskan bahwa setiap bahan tambahan harus dinilai dari kadar penggunaannya. Selain itu, kesesuaian dengan regulasi menjadi syarat penting dalam menentukan apakah suatu produk aman dikonsumsi. Dengan begitu, label yang tampak teknis tidak serta-merta menunjukkan adanya masalah.

Dalam praktik industri pangan, bahan tambahan juga kerap dipakai untuk menjaga konsistensi rasa dan tekstur. Tanpa pengelolaan yang tepat, kualitas produk dapat berubah sebelum sampai ke tangan konsumen. Karena itu, keberadaan bahan tambahan perlu dipahami sebagai bagian dari proses produksi, bukan semata ancaman.

Memahami istilah upf

Istilah ultra-processed food atau UPF sering memunculkan kekhawatiran karena kerap dikaitkan dengan makanan kemasan modern. Namun, istilah tersebut tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai keamanan pangan. Banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil kesimpulan.

Prof Purwiyatno menekankan bahwa proses pengolahan pangan memiliki tujuan tertentu, termasuk menjaga ketahanan produk. Dalam banyak kasus, pengolahan dilakukan agar makanan lebih aman, tahan lama, dan praktis dikonsumsi. Oleh sebab itu, proses yang terlihat modern tidak otomatis berarti negatif.

Ia menilai edukasi konsumen menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak lengkap. Pemahaman yang baik akan membantu publik membedakan antara risiko yang nyata dan asumsi yang berlebihan. Dengan begitu, masyarakat bisa membaca label dengan lebih kritis dan proporsional.

Bijak membaca komposisi

Konsumen disarankan untuk tidak langsung menganggap bahan dengan nama asing sebagai bahan berbahaya. Langkah awal yang penting adalah memahami fungsi bahan tersebut dalam produk. Setelah itu, konsumen dapat menilai apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan konsumsi masing-masing.

Selain komposisi, informasi nilai gizi dan takaran saji juga perlu diperhatikan. Data tersebut membantu konsumen melihat kandungan gula, garam, dan lemak secara lebih jelas. Dengan membaca label secara utuh, keputusan membeli dapat dibuat secara lebih rasional.

Menurut Prof Purwiyatno, pendekatan yang seimbang jauh lebih bermanfaat daripada mencurigai semua produk kemasan. Industri pangan modern memiliki standar dan pengawasan yang harus dipatuhi. Karena itu, pemahaman yang tepat akan membantu masyarakat memilih makanan secara lebih aman, sehat, dan cerdas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!