Pakar IPB: Label Makanan Kemasan Tak Bisa Dinilai Sekilas

Lifestyle Nadia Safira Putri 29 Mei 2026 23:37 WIB 5
Pakar IPB: Label Makanan Kemasan Tak Bisa Dinilai Sekilas

Banyak orang kerap ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan, terutama ketika menemukan nama bahan yang terdengar asing atau teknis. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa produk tersebut berbahaya, tidak sehat, atau identik dengan ultra-processed food yang ramai dibahas di media sosial. Namun, pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai anggapan itu belum tentu tepat.

Menurutnya, kualitas produk pangan tidak bisa dinilai hanya dari panjangnya daftar bahan pada kemasan. Penilaian perlu melihat fungsi tiap bahan, kesesuaian dengan regulasi, serta perannya dalam menjaga mutu dan keamanan produk. Pandangan ini penting agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan makanan kemasan sebagai masalah hanya dari labelnya.

Label makanan kemasan dan persepsi

Di tengah derasnya informasi kesehatan di media sosial, label makanan kemasan sering menjadi sasaran kecurigaan konsumen. Nama bahan yang terdengar ilmiah kerap dipandang sebagai tanda bahwa produk itu tidak aman. Padahal, tidak semua bahan dengan istilah teknis memiliki dampak negatif bagi tubuh.

Prof Purwiyatno menjelaskan bahwa persepsi semacam itu muncul karena banyak orang membaca label secara terpisah dari konteks produksinya. Akibatnya, produk dengan daftar bahan yang lebih panjang sering langsung dicap buruk. Cara pandang ini, menurutnya, tidak selalu menggambarkan kualitas pangan yang sebenarnya.

Ia menilai, pemahaman publik perlu diarahkan pada cara membaca komposisi secara utuh dan proporsional. Konsumen perlu membedakan antara bahan yang berfungsi teknologi pangan dengan bahan yang memang perlu dibatasi. Dengan begitu, penilaian terhadap makanan kemasan menjadi lebih akurat dan tidak didominasi asumsi.

Bahan tambahan bukan ancaman

Penggunaan bahan tambahan pangan kerap menjadi sumber salah paham di kalangan konsumen. Banyak orang mengira bahan tambahan selalu berarti produk tersebut penuh zat berbahaya. Menurut Prof Purwiyatno, anggapan itu tidak tepat karena bahan tambahan memiliki fungsi yang jelas dalam produksi pangan.

Ia menegaskan bahwa bahan tambahan dapat membantu menjaga mutu, stabilitas, dan keamanan produk selama proses distribusi. Dalam banyak kasus, bahan tersebut justru diperlukan agar makanan tetap layak konsumsi lebih lama. Karena itu, keberadaan bahan tambahan tidak otomatis membuat produk menjadi bermasalah.

Yang lebih penting adalah memastikan bahan tersebut digunakan sesuai ketentuan yang berlaku. Dosis, tujuan penggunaan, dan karakter produk harus menjadi pertimbangan utama dalam menilai keamanan pangan. Tanpa melihat unsur itu, penilaian terhadap makanan kemasan berisiko menjadi keliru.

Fungsi dan regulasi harus dilihat

Penilaian terhadap produk pangan tidak cukup dilakukan dengan membaca daftar bahan secara sekilas. Konsumen juga perlu memahami fungsi masing-masing bahan dalam menjaga tekstur, rasa, warna, atau daya simpan. Dengan cara itu, label komposisi dapat dibaca secara lebih kritis dan tidak menimbulkan kepanikan.

Prof Purwiyatno menekankan bahwa kesesuaian dengan regulasi merupakan aspek yang sangat penting. Selama bahan digunakan dalam batas yang diizinkan, produk tidak bisa langsung dianggap berbahaya. Prinsip ini menjadi dasar dalam menilai keamanan pangan modern yang diproduksi secara massal.

Ia juga mengingatkan bahwa persepsi negatif terhadap makanan kemasan sering muncul karena informasi yang beredar tidak lengkap. Konsumen sebaiknya tidak hanya melihat nama bahan, tetapi juga memahami tujuan penambahannya. Sikap tersebut akan membantu publik mengambil keputusan yang lebih tepat saat memilih produk.

Cara membaca komposisi pangan

Masyarakat perlu membiasakan diri membaca label komposisi dengan lebih tenang dan terukur. Bahan yang terdengar asing belum tentu berbahaya, karena banyak di antaranya memang digunakan untuk kebutuhan teknologi pangan. Pemahaman dasar ini dapat mengurangi kekhawatiran yang tidak perlu.

Selain melihat daftar bahan, konsumen juga perlu memperhatikan konteks produk secara keseluruhan. Informasi gizi, takaran saji, dan cara konsumsi sama pentingnya untuk memahami kualitas makanan kemasan. Dengan begitu, keputusan membeli tidak hanya didasarkan pada satu bagian label saja.

Di sisi lain, edukasi publik tentang pangan tetap dibutuhkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh klaim yang menyesatkan. Penjelasan ahli seperti Prof Purwiyatno menunjukkan bahwa keamanan pangan harus dinilai berdasarkan ilmu, bukan sekadar kesan visual pada kemasan. Pendekatan ini diharapkan membuat konsumen lebih cermat dan rasional dalam memilih makanan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!