Pakar IPB: Label Komposisi Tak Selalu Tanda Makanan Buruk

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 18:56 WIB 5
Pakar IPB: Label Komposisi Tak Selalu Tanda Makanan Buruk

Banyak orang ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan, terutama ketika menemukan nama bahan yang terdengar asing atau teknis. Kondisi itu sering memunculkan anggapan bahwa produk tersebut berbahaya, padahal penilaian seperti itu belum tentu tepat.

Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, pakar teknologi pangan IPB University, menilai kualitas produk tidak bisa dinilai hanya dari daftar bahan pada kemasan. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap fungsi bahan, aturan penggunaan, dan konteks produk jauh lebih penting.

Label makanan kemasan

Di tengah maraknya pembahasan ultra-processed food di media sosial, banyak konsumen menjadi lebih waspada terhadap isi kemasan. Kekhawatiran itu wajar, namun tidak semua produk dengan daftar bahan yang panjang otomatis buruk bagi kesehatan.

Nama bahan yang terdengar ilmiah sering kali langsung memicu curiga, meski bahan tersebut justru umum digunakan dalam industri pangan. Persepsi semacam ini membuat konsumen kerap menilai produk berdasarkan kesan, bukan berdasarkan informasi yang utuh.

Purwiyatno menjelaskan bahwa label komposisi seharusnya dibaca dengan lebih tenang dan cermat. Menurutnya, pemahaman terhadap fungsi setiap bahan akan membantu konsumen menilai produk secara lebih objektif.

Bahan tambahan pangan

Penggunaan bahan tambahan pangan tidak otomatis membuat suatu produk berbahaya. Bahan tersebut memiliki peran tertentu untuk menjaga mutu, keamanan, stabilitas, dan karakteristik produk pangan.

Dalam banyak kasus, bahan tambahan digunakan agar makanan tetap awet, rasa tetap konsisten, atau tekstur produk tetap sesuai harapan. Selama penggunaannya sesuai aturan, keberadaan bahan itu tidak bisa langsung dianggap masalah.

Purwiyatno menegaskan, yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian bahan dengan regulasi yang berlaku. Selain itu, kadar penggunaan juga harus diperiksa karena aspek inilah yang menentukan apakah suatu produk masih aman dikonsumsi.

Menilai kualitas produk

Kualitas makanan kemasan tidak cukup dilihat dari banyaknya bahan yang tercantum pada label. Penilaian harus mempertimbangkan fungsi tiap bahan dan tujuan penggunaannya dalam produk tersebut.

Produk dengan komposisi sederhana belum tentu lebih baik daripada produk yang menggunakan bahan tambahan secara tepat. Sebaliknya, produk yang tampak rumit juga tidak selalu buruk jika seluruh komponennya sesuai standar keamanan pangan.

Karena itu, konsumen disarankan memahami konteks produk sebelum mengambil kesimpulan. Cara ini dapat membantu masyarakat menghindari penilaian yang keliru terhadap makanan kemasan.

Literasi konsumen

Pemahaman label pangan menjadi bagian penting dari literasi konsumen di era informasi yang serba cepat. Tanpa pengetahuan yang cukup, masyarakat mudah terpengaruh oleh potongan informasi yang belum tentu lengkap.

Di media sosial, istilah teknis sering dibahas secara sederhana sehingga memunculkan ketakutan berlebihan. Padahal, informasi tentang pangan seharusnya dibaca dengan dasar ilmiah agar tidak menimbulkan salah persepsi.

Dengan membaca label secara lebih cermat, konsumen dapat membuat pilihan yang lebih bijak saat membeli makanan kemasan. Sikap kritis tetap penting, tetapi harus diimbangi dengan pemahaman yang benar agar keputusan yang diambil lebih tepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!