Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik 62 Persen di Inacraft 2025

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 14:35 WIB 2
Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik 62 Persen di Inacraft 2025

Selama lima hari penyelenggaraan Inacraft 2025, sebanyak 32 UMKM binaan PT Pertamina (Persero) mencatat kenaikan omzet hampir 62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pameran yang digelar pada 5 Oktober itu menjadi ruang penting bagi pelaku usaha dari sektor wastra, kriya, fesyen, kuliner, hingga co-branding untuk memperluas pasar dan menjaring pembeli baru.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengatakan, kenaikan omzet tersebut mencerminkan kualitas produk dan daya saing UMKM binaan yang terus membaik. Menurut dia, Pertamina tidak hanya mendorong promosi, tetapi juga memperkuat kapasitas usaha agar para pelaku siap bersaing di pasar nasional maupun global.

UMKM Binaan Pertamina Tumbuh

Partisipasi UMKM binaan Pertamina di Inacraft 2025 mencatat hasil yang signifikan, baik dari sisi penjualan maupun perluasan jejaring usaha. Selama pameran berlangsung, produk unggulan mereka mampu menarik perhatian pengunjung dari berbagai kalangan. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan berkelanjutan dapat mendorong UMKM naik kelas. Pertumbuhan omzet juga menjadi sinyal positif bagi ekosistem usaha kecil di Indonesia.

Pertamina menempatkan dukungan kepada UMKM sebagai bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi yang lebih luas. Perusahaan ini menekankan pentingnya pendampingan agar pelaku usaha tidak hanya siap tampil di pameran, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan bisnis. Melalui pelatihan dan akses pembinaan, pelaku UMKM didorong memahami pasar secara lebih matang. Pendekatan tersebut dinilai membantu produk lokal bersaing dengan merek yang lebih besar.

Fadjar menyampaikan bahwa keberhasilan UMKM tidak semata diukur dari transaksi. Ia menilai dampak sosial, budaya, dan kemandirian pelaku usaha juga menjadi ukuran penting. Karena itu, Pertamina terus mendorong UMKM binaan agar memiliki nilai tambah yang kuat. Upaya tersebut diharapkan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan daerah asal produk.

Batik Mata Andau Menarik Pembeli

Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Batik Mata Andau asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Usaha rumahan yang dirintis Yoga Rustaman bersama istrinya sejak 2017 itu membawa misi mengenalkan batik khas Dayak ke khalayak yang lebih luas. Dalam hitungan hari, produk mereka terjual lebih dari 800 outer bermotif Dayak. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa produk budaya lokal memiliki pasar yang menjanjikan.

Batik Mata Andau juga melibatkan 20 pengrajin dalam proses produksinya. Sebagian besar di antaranya adalah perempuan berusia di atas 50 tahun yang selama ini mendapatkan ruang untuk tetap produktif. Model usaha tersebut tidak hanya menggerakkan ekonomi keluarga, tetapi juga menjaga warisan budaya daerah. Dukungan terhadap pengrajin lokal menjadi nilai penting dalam pertumbuhan bisnis mereka.

Produk Batik Mata Andau bahkan dilirik pembeli dari Korea, Jepang, hingga Turki. Selain itu, salah satu BUMN transportasi mempercayakan pembuatan seragam bernuansa budaya Nusantara kepada usaha tersebut. Menurut Yoga, keikutsertaan bersama Pertamina membuka banyak peluang baru bagi usahanya. Ia menilai pendampingan Pertamina memberi dampak nyata, bukan hanya saat pameran berlangsung.

Smart Batik Usung Inovasi Hijau

Selain Batik Mata Andau, Smart Batik Yogyakarta juga menjadi sorotan dalam ajang tersebut. UMKM ini memperkenalkan Batik Sawit, kain batik ramah lingkungan yang memadukan kearifan lokal dengan teknologi hijau. Inovasi itu menunjukkan bahwa batik dapat berkembang tanpa meninggalkan aspek keberlanjutan. Produk tersebut sekaligus memperkaya pilihan pasar yang semakin peduli pada isu lingkungan.

Founder Smart Batik, Miftahudin Nur Ihsan, menyebut pameran pertama bersama Pertamina sebagai pengalaman yang sangat berkesan. Ia mengatakan banyak relasi baru terjalin, termasuk peluang kolaborasi dengan Duta Besar RI untuk Meksiko, Toferry Primanda Soetikno. Kehadiran tokoh nasional dan diplomat memberi dorongan moral bagi pengembangan usaha. Bagi Smart Batik, jaringan baru ini penting untuk memperluas pasar ke luar negeri.

Saat ini Smart Batik memberdayakan 65 ibu-ibu pembatik di Yogyakarta. Keterlibatan mereka memperkuat peran UMKM sebagai penggerak ekonomi berbasis komunitas. Dengan konsep produksi yang berorientasi lingkungan, usaha ini berupaya menjaga nilai tradisi sekaligus merespons kebutuhan pasar modern. Langkah tersebut membuat Smart Batik memiliki posisi yang semakin relevan di industri batik.

Dukungan Pertamina Diperluas

Partisipasi 32 UMKM binaan Pertamina dalam Inacraft 2025 terbagi ke dalam beberapa kategori. Sebanyak 18 UMKM sektor wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A, sementara enam UMKM kuliner unggulan hadir di Talam Hall B. Selain itu, tujuh UMKM co-branding ikut berpartisipasi secara mandiri. Pembagian ini menunjukkan keragaman portofolio usaha yang dibina Pertamina.

Pertamina menyebut dukungan terhadap UMKM sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran poin ketiga. Fokusnya adalah menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat industri kreatif, dan menumbuhkan kewirausahaan melalui pelatihan serta akses permodalan. Dengan pendekatan tersebut, UMKM diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan. Peran korporasi dalam pembinaan pun menjadi semakin strategis.

Melalui pameran ini, Pertamina menegaskan komitmennya untuk mendorong UMKM naik kelas. Peningkatan omzet, apresiasi publik, dan peluang ekspor menjadi indikator bahwa pembinaan yang tepat dapat menghasilkan dampak nyata. Bagi para pelaku usaha, ajang ini membuka jalan untuk memperkuat reputasi dan memperluas jejaring pasar. Momentum tersebut menjadi modal penting bagi pertumbuhan UMKM Indonesia ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!