Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran berdampak pada ekonomi global, dengan harga minyak dunia menembus di atas USD 100 per barel.
Kenaikan ini menambah tekanan pada biaya energi dan berpotensi memicu inflasi global akibat biaya produksi serta transportasi yang lebih tinggi.
Fenomena ini memicu kekhawatiran investor mengenai volatilitas pasar keuangan secara internasional pada Mei 2026.
Dinamika minyak global
Ari Rizaldi, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, menegaskan bahwa konflik tersebut telah mendorong lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan risiko inflasi di seluruh dunia, terutama akibat kenaikan biaya energi yang berkelanjutan.
Menurutnya, terganggunya pasokan minyak juga meningkatkan volatilitas pasar keuangan global dan membuat bank sentral cenderung menahan penurunan suku bunga.
Juga disebutkan bahwa konsensus pasar menunjukkan suku bunga AS kemungkinan tetap di level 3,75% hingga 2027, sehingga tekanan terhadap likuiditas global diperkirakan tetap tinggi.
Di sisi domestik, meski ada dinamika global, Indonesia menunjukkan beberapa tanda ketahanan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 sebesar 5,61%, lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2025 sebesar 5,4%.
Nilai tukar rupiah pun melemah sekitar 3,9% sepanjang 2026 akibat kombinasi faktor global dan domestik.
Segalanya menambah tantangan bagi pasar keuangan domestik yang juga diwarnai oleh arus modal asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi pada periode yang sama.
Imbas bagi Indonesia
Di pasar keuangan domestik, aliran modal asing keluar dari pasar saham mencapai sekitar Rp37,6 triliun secara year-to-date hingga 8 Mei 2026.
Sementara itu, arus keluar dari pasar obligasi tercatat sekitar Rp13,3 triliun, menunjukkan tekanan kolerasional terhadap pasar pendanaan domestik.
IHSG tercatat turun sekitar 19,4% menjadi level 6.969 poin, mencerminkan dampak gejolak global terhadap pasar modal nasional.
Di sisi obligasi, yield pemerintah meningkat sekitar 53 basis poin menjadi sekitar 6,6% sepanjang tahun ini, menambah tantangan pembiayaan negara di tengah ketidakpastian global.
Ari Rizaldi menekankan bahwa meski tekanan eksternal meningkat, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dengan adanya dinamika positif pada pertumbuhan dan kebijakan domestik sebagai penahan volatilitas pasar keuangan.
