Met Gala 2026 Dikecam, Boikot Muncul Usai Dukungan Jeff Bezos

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 00:48 WIB 6
Met Gala 2026 Dikecam, Boikot Muncul Usai Dukungan Jeff Bezos

Gelombang kritik terhadap Met Gala kembali menguat menjelang perhelatan tahun 2026 di Metropolitan Museum of Art, New York City. Seruan boikot mencuat setelah diketahui acara mode bergengsi itu didukung oleh Jeff Bezos dan istrinya, Lauren Sánchez Bezos. Aktivis kemudian memasang poster protes di sekitar The Met untuk menekan sorotan publik terhadap sumber pendanaan acara tersebut.

Poster yang muncul memuat pesan bernada penolakan, termasuk ajakan untuk memboikot Met Gala. Aksi itu menyoroti keterkaitan Bezos dengan Amazon dan kebijakan imigrasi yang menjadi perdebatan di Amerika Serikat. Di sisi lain, pihak museum menyebut dukungan para donor diperlukan untuk menopang Costume Institute dan penyelenggaraan acara tahunan itu.

Kritik Met Gala Menguat

Seruan boikot terhadap Met Gala bermula dari keberatan atas peran Jeff Bezos sebagai pendonor utama. Sejumlah aktivis menilai kehadiran miliarder teknologi itu berpotensi menciptakan pengaruh berlebihan dalam ajang mode paling prestisius di dunia. Kritik tersebut lalu menyebar melalui poster dan seruan di ruang publik sekitar museum.

Poster yang dipasang aktivis memuat kalimat yang secara langsung menyasar hubungan Bezos dengan kebijakan dan operasi perusahaannya. Salah satu pesan menyebut acara itu didukung oleh pihak yang dianggap menopang sistem penegakan imigrasi. Simbol protes tersebut memperlihatkan bahwa kritik tidak hanya menyasar fesyen, tetapi juga isu sosial yang lebih luas.

Gelombang penolakan ini menambah tekanan terhadap penyelenggara Met Gala. Publik menyoroti bagaimana acara glamor itu kerap berada di persimpangan antara seni, bisnis, dan kekuasaan. Dalam situasi seperti ini, reputasi penyelenggara ikut dipertaruhkan oleh persepsi terhadap para penyokong dana.

Meski demikian, protes yang muncul belum menghentikan persiapan acara. Pihak yang menggelar Met Gala tetap menegaskan pentingnya dukungan filantropi bagi dunia seni dan mode. Namun, sorotan publik menunjukkan bahwa transparansi sponsor kini menjadi isu yang tak bisa diabaikan.

Dukungan Bezos Disorot

Keterlibatan Jeff Bezos dan Lauren Sánchez Bezos sebagai sponsor utama menjadi pemicu utama kontroversi. Pengumuman dari pihak museum pada November lalu menegaskan bahwa dukungan mereka ikut memungkinkan penyelenggaraan Met Gala 2026. Informasi itu segera memantik perdebatan di kalangan pengamat mode dan aktivis.

Laporan Page Six menyebut Bezos menyumbang sekitar US$ 10 juta atau hampir Rp 175 miliar untuk Costume Institute. Dana tersebut disebut dialokasikan untuk divisi pameran fashion di The Met. Besarnya nilai sumbangan membuat publik kembali mempertanyakan relasi antara filantropi dan pengaruh sosial.

Sejumlah pihak menilai donasi besar dari tokoh teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat citra di ruang budaya elit. Kritik itu muncul karena Met Gala dikenal sebagai panggung yang sangat eksklusif dan berpengaruh. Ketika dana besar mengalir ke sana, publik cenderung mempertanyakan siapa yang paling diuntungkan.

Di sisi lain, museum dan mitranya memandang dukungan finansial sebagai bagian penting dari keberlanjutan institusi seni. Costume Institute membutuhkan pendanaan besar untuk merawat koleksi, pameran, dan program edukasi. Karena itu, kontroversi ini memperlihatkan perdebatan klasik antara kebutuhan dana dan independensi institusi budaya.

Poster Protes di The Met

Aksi protes terlihat di berbagai titik dekat Metropolitan Museum of Art, New York City. Aktivis gerilya memasang poster yang mudah menarik perhatian pejalan kaki dan pengunjung area tersebut. Lokasi itu dipilih karena menjadi pusat perhatian jelang Met Gala 2026.

Di antara pesan yang dipasang, terdapat kalimat yang menyinggung Bezos secara langsung. Tulisan seperti “Bezos Met Gala: Brought to you by the firm that powers ICE” menjadi sorotan utama. Pesan itu dirancang untuk memancing respons publik terhadap sponsor acara.

Poster lain bertuliskan “Boycott the Bezos Met Gala” sebagai ajakan terbuka untuk menolak acara tersebut. Bahasa yang dipakai lugas, singkat, dan mudah diingat oleh khalayak. Strategi ini memperlihatkan bagaimana gerakan protes memanfaatkan simbol visual untuk memperluas jangkauan pesan.

Ilustrasi tabung gas air mata di karpet merah juga dipasang sebagai bagian dari kritik. Gambar itu merujuk pada tudingan terhadap Amazon dalam konteks perlakuan terhadap pekerja gudang asing. Dengan simbol tersebut, protes menautkan glamor Met Gala dengan isu ketenagakerjaan dan imigrasi.

Implikasi Bagi Ajang Mode

Kontroversi ini berpotensi memengaruhi cara publik memandang Met Gala di masa mendatang. Acara yang selama ini identik dengan kemewahan kini ikut diseret ke ruang debat politik dan sosial. Hal tersebut dapat mengubah fokus perhatian dari busana ke sumber dana dan jejaring kekuasaan di baliknya.

Bagi industri mode, sorotan seperti ini bukan hal baru, tetapi tetap berdampak besar. Merek, selebritas, dan lembaga budaya kerap berada di bawah pengawasan publik ketika sponsor dianggap bermasalah. Situasi tersebut membuat reputasi acara menjadi sama pentingnya dengan daftar tamu undangan.

Para pengamat menilai penyelenggara perlu menjelaskan secara terbuka alasan memilih sponsor dan bagaimana dana digunakan. Transparansi dapat membantu meredam kecurigaan terhadap motif politik maupun ekonomi. Tanpa penjelasan yang memadai, gelombang kritik berisiko terus melebar menjelang hari pelaksanaan.

Di tengah protes yang menguat, Met Gala 2026 tetap dijadwalkan berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026. Namun, perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada busana para tamu, melainkan juga pada perdebatan etika di balik acara tersebut. Dengan demikian, ajang mode itu kembali membuktikan bahwa kemewahan dan kontroversi kerap berjalan beriringan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!