Mengapa Stres Bisa Picu Kembung dan Begah

Lifestyle Nadia Safira Putri 01 Juni 2026 14:54 WIB 3
Mengapa Stres Bisa Picu Kembung dan Begah

Stres dan emosi yang memuncak tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga bisa membuat tubuh bereaksi tidak nyaman, termasuk munculnya perut kembung dan begah. Kondisi ini dapat terjadi meski pola makan seseorang tidak berubah, karena sistem pencernaan sangat dipengaruhi oleh respons saraf dan hormon stres. Para ahli menyebut, hubungan antara otak dan usus membuat tekanan emosional mudah tercermin pada perut.

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menjelaskan bahwa usus kerap disebut sebagai otak kedua manusia. Ia menegaskan, sistem pencernaan dan kondisi emosional saling terhubung, sehingga stres dapat mengganggu kerja saluran cerna. Akibatnya, makanan dapat dicerna lebih lambat dan gas lebih mudah terperangkap di dalam perut.

Stres dan pencernaan

Sistem saraf enterik berperan penting dalam saluran pencernaan, karena mengatur proses pencernaan dan menjadi penghubung antara saraf dengan fungsi usus. Saat seseorang berada dalam tekanan, sistem ini dapat terganggu dan membuat kerja pencernaan tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut sering memunculkan sensasi tidak nyaman, seperti perut penuh, begah, atau kembung.

Melissa Groves Azzaro, RDN, menyebut tubuh manusia pada dasarnya bergerak dalam dua keadaan, yaitu fight-or-flight dan rest-and-digest. Ketika ancaman dirasakan, baik ancaman nyata maupun tekanan modern seperti tenggat waktu, tubuh akan melepas hormon stres dalam jumlah besar. Kortisol, adrenalin, dan noradrenalin kemudian memicu respons fisik yang mempersiapkan tubuh untuk bertahan.

Dalam kondisi itu, sistem pencernaan berhenti bekerja sejenak karena tubuh memprioritaskan penyelamatan diri dibandingkan mencerna makanan. Aliran darah dialihkan dari saluran cerna menuju otot, sementara kontraksi otot pencernaan menurun. Produksi sekresi pencernaan juga ikut melambat, sehingga proses pemecahan makanan tidak berlangsung normal.

Kenapa perut jadi begah

Ketika makanan tidak dipecah dengan baik, makanan bisa bertahan lebih lama di lambung dan saluran cerna. Kondisi ini membuat makanan lebih mudah memerangkap gas di dalam sistem pencernaan. Akibatnya, perut terasa penuh, kencang, dan muncul keluhan begah yang sering mengganggu aktivitas.

Ditkoff menjelaskan, respons tubuh terhadap stres tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian orang mengalami kembung, sementara yang lain justru merasakan kram perut atau diare. Pada kondisi tertentu, stres juga dapat memperburuk gangguan pencernaan kronis yang sebelumnya sudah ada.

Reaksi tubuh terhadap stres bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari nafsu makan yang meningkat hingga rasa mual. Ada pula orang yang merasa kondisi tubuhnya memburuk saat berada dalam tekanan emosional. Karena itu, gejala pada sistem pencernaan sering menjadi sinyal bahwa tubuh sedang tidak berada dalam keadaan tenang.

Hubungan otak dan usus

Hubungan antara otak dan usus berjalan dua arah, sehingga kondisi emosional dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan. Saat pikiran tegang, sinyal yang dikirim ke usus bisa mengubah ritme kerja saluran cerna. Inilah yang membuat keluhan di perut sering muncul saat seseorang sedang stres berat.

Ditkoff menekankan bahwa kondisi ini sangat umum dan hampir semua orang pernah mengalaminya dalam bentuk yang berbeda-beda. Ada yang cenderung makan terus saat stres, sementara yang lain justru kehilangan selera makan. Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa tubuh merespons tekanan emosional dengan cara yang unik.

Dalam beberapa situasi, respons fight-or-flight memang dibutuhkan, misalnya ketika tubuh sedang berlari atau menghadapi ancaman. Namun dalam kehidupan sehari-hari, respons yang terlalu sering aktif dapat membuat pencernaan bekerja tidak stabil. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memperburuk rasa begah dan tidak nyaman di perut.

Cara meredakan kembung

Untuk membantu meredakan kembung akibat stres, tubuh perlu dikembalikan ke fase rest-and-digest agar sistem pencernaan dapat bekerja dengan lebih tenang. Saat kondisi ini tercapai, hormon stres tidak melonjak dan aliran darah dapat kembali lancar ke seluruh tubuh. Kontraksi otot pencernaan pun berangsur normal sehingga proses cerna berjalan lebih baik.

Ditkoff menyarankan agar seseorang makan dalam kondisi yang tenang, karena tubuh lebih siap mencerna makanan saat tidak berada di bawah tekanan. Meski begitu, tidak makan sama sekali ketika sedang stres juga bukan pilihan yang baik. Kebiasaan makan perlu dijaga secara seimbang agar tubuh tetap mendapat asupan yang cukup.

  • Ambil jeda dan tarik napas dalam sebelum makan.
  • Konsumsi makanan secara perlahan, dengan porsi yang lebih terkontrol.
  • Hindari makan terburu-buru saat emosi sedang memuncak.
  • Perbanyak istirahat dan kelola stres dengan aktivitas yang menenangkan.

Jika keluhan kembung, begah, atau gangguan pencernaan terus berulang, pemeriksaan ke tenaga kesehatan perlu dipertimbangkan. Langkah ini penting untuk memastikan apakah gejala tersebut murni dipicu stres atau berkaitan dengan masalah pencernaan lain. Dengan penanganan yang tepat, kesehatan usus dan kenyamanan tubuh dapat lebih terjaga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!