Mantan PMI Siti Fatimah Sukses Bangun Bisnis Singkong

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 22:55 WIB 7
Mantan PMI Siti Fatimah Sukses Bangun Bisnis Singkong

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, membuktikan bahwa kepulangan ke Tanah Air dapat menjadi awal baru untuk membangun usaha. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu mulai merintis bisnis jajanan tradisional berbahan singkong setelah kembali dari Hongkong pada Mei 2017.

Berbekal tekad kuat, modal terbatas, dan dukungan keluarga, Fatimah mengembangkan usaha rumahan bernama Qtello Ayu. Dari yang semula hanya tiga varian, kini produknya tumbuh menjadi sembilan varian dengan pasar yang terus meluas.

Bisnis Singkong dari Rumah

Fatimah memutuskan berhenti merantau setelah lima tahun bekerja sebagai tenaga kerja perempuan di Hongkong. Ia menilai pekerjaan tersebut tidak lagi memberi ruang berkembang, sementara kebutuhan hidup terus bertambah. Dari situ, ia memilih pulang dan memulai usaha dari rumah.

Keputusan itu lahir dari tanggung jawab sebagai orang tua tunggal yang harus menghidupi anak-anaknya. Ia menyadari bahwa bertahan di luar negeri bukan satu-satunya jalan untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Niat merintis usaha pun menjadi pilihan yang dianggap paling realistis.

Pada akhir 2017, ia mulai menjual aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong dengan nama Qtello Ayu. Nama tersebut merupakan perpaduan kata ketela dan ayu, yang mencerminkan produk sederhana namun menarik. Modal awalnya hanya Rp700 ribu, yakni sisa tabungan yang ia bawa pulang.

Dengan modal yang sangat terbatas, Fatimah bertekad memaksimalkan apa yang ada di rumah. Ia ingin uang Rp700 ribu itu benar-benar menjadi titik awal usaha baru. Tekad tersebut menjadi pondasi utama pertumbuhan bisnisnya hingga saat ini.

Inovasi Produk dan Pemasaran

Pada awal usaha, Fatimah hanya memproduksi tiga jenis jajanan, yaitu ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Seiring waktu, variasi produknya berkembang menjadi sembilan jenis. Beberapa di antaranya adalah sarang burung, getuk bakar, talam lapis, dan talam pisang.

Ia juga menghadirkan produk singkong modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi ini membuat jajanan tradisional tampil lebih segar dan mudah diterima pasar. Tampilan warna-warni menjadi nilai tambah yang membedakan produknya dari pesaing.

Meski berbahan baku sederhana, Fatimah mengemas produknya secara lebih menarik secara visual. Pendekatan tersebut membuat jajanan tradisional memiliki daya tarik baru di kalangan konsumen. Strategi ini juga membantu produk tampil lebih layak dijual sebagai oleh-oleh.

Pemasaran dilakukan melalui WhatsApp, grup alumni, media sosial, dan promosi dari mulut ke mulut. Cara ini membuat usahanya dikenal tanpa biaya promosi besar. Jaringan pertemanan dan komunitas menjadi penopang penting dalam perluasan pasar.

Pertumbuhan Omzet dan Permintaan

Usaha Qtello Ayu kini telah memiliki pelanggan tetap dari dalam dan luar daerah. Produksi harian bahkan bisa mencapai 400 kotak saat pesanan meningkat. Rata-rata omzet harian yang diperoleh mencapai sekitar Rp1 juta.

Fatimah mengakui pendapatan usahanya tidak selalu sama setiap hari. Ada waktu ketika omzet berada di bawah rata-rata, namun ada pula hari tertentu yang menyentuh Rp2 juta hingga Rp3 juta. Fluktuasi itu tetap dianggap wajar dalam bisnis makanan rumahan.

Pasar penjualan produknya tidak hanya mencakup Tulungagung dan Trenggalek. Produk Qtello Ayu juga kerap dibawa ke luar kota sebagai oleh-oleh. Beberapa daerah tujuan antara lain Surabaya, Probolinggo, dan Jakarta.

Untuk memenuhi permintaan, Fatimah tidak bekerja sendiri. Ia dibantu keluarga dan dua karyawan harian yang ikut menjaga kelancaran produksi. Seluruh proses tetap dijalankan dari rumah agar kualitas dan kesegaran produk terjaga.

Dampak Ekonomi bagi Keluarga

Keberhasilan usaha itu membawa perubahan besar bagi kondisi ekonomi keluarga Fatimah. Ia kini mampu melunasi utang yang sempat membebani hidupnya. Selain itu, hasil usaha juga memungkinkan dirinya membeli mobil untuk kebutuhan operasional.

Perkembangan bisnisnya bahkan membuka peluang baru bagi keluarga. Salah satu anaknya yang telah berkeluarga diketahui membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Langkah ini menunjukkan bahwa usaha rumahan tersebut mulai memiliki nilai ekspansi.

Fatimah berharap usahanya dapat berkembang ke lebih banyak kota karena permintaan terus datang dari berbagai daerah. Ia menilai peluang pasar untuk jajanan tradisional masih terbuka lebar. Kunci utamanya, menurut dia, adalah menjaga kualitas dan konsistensi.

Ia juga berpesan kepada siapa pun yang ingin memulai usaha agar siap menghadapi proses yang tidak mudah. Saat semangat menurun, tujuan awal harus kembali diingat agar langkah tetap terjaga. Menurutnya, ketekunan merupakan modal yang sama pentingnya dengan uang.

Peluang PMI Menjadi Wirausaha

Kisah Fatimah menunjukkan bahwa mantan pekerja migran memiliki peluang besar untuk menjadi wirausaha sukses di daerah asal. Pengalaman kerja di luar negeri dapat menjadi bekal disiplin, ketahanan, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar. Saat modal dan ide bertemu, usaha kecil bisa tumbuh menjadi sumber penghidupan baru.

Keberhasilan itu juga memperlihatkan bahwa bisnis berbasis makanan tradisional masih memiliki tempat di pasar modern. Dengan inovasi kemasan, pemasaran digital, dan sentuhan visual yang menarik, produk lokal dapat bersaing lebih luas. Hal ini menjadi contoh nyata penguatan ekonomi keluarga melalui usaha rumahan.

Bagi mantan PMI lainnya, kisah tersebut memberi gambaran bahwa pulang kampung bukan akhir dari perjuangan. Justru, kepulangan bisa menjadi kesempatan untuk membangun kemandirian ekonomi. Kuncinya adalah keberanian memulai dari skala kecil dan mengelola usaha secara konsisten.

Qtello Ayu kini tidak hanya menjadi bisnis jajanan, tetapi juga simbol perubahan hidup bagi Fatimah. Dari sisa tabungan Rp700 ribu, ia membangun usaha yang bertahan dan terus berkembang. Kisah ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan tekad dapat mengubah arah hidup seseorang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!