Mantan Ilmuwan NASA Ungkap Tiga Kali Mati Suri

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 22:40 WIB 6
Mantan Ilmuwan NASA Ungkap Tiga Kali Mati Suri

Mantan ilmuwan NASA asal Kolombia, Ingrid Honkala, mengaku telah tiga kali mengalami mati suri sepanjang hidupnya. Pengalaman itu, menurut perempuan berusia 55 tahun tersebut, meninggalkan kesan mendalam dan mengubah cara pandangnya tentang kematian serta kesadaran manusia.

Honkala menuturkan bahwa setiap kali berada di ambang kematian, ia merasakan sensasi yang serupa. Ia mengaku seolah masuk ke dimensi lain yang tidak dapat dijelaskan oleh pancaindra manusia, dengan kesadaran yang terasa luas, cerdas, dan saling terhubung.

Pengalaman Mati Suri Honkala

Honkala memiliki latar belakang akademik yang kuat, dengan gelar doktor di bidang ilmu kelautan. Ia juga pernah bekerja untuk NASA dan Angkatan Laut Amerika Serikat, sebelum kisah spiritualnya lebih banyak menarik perhatian publik.

Menurut pengakuannya, pengalaman mati suri pertama terjadi saat ia masih berusia dua tahun. Saat itu, ia terjatuh ke dalam tangki air dingin di rumahnya tanpa diketahui pengasuh yang sedang berada di ruangan lain.

Ibunya disebut pulang tepat waktu dan berhasil menyelamatkannya dari insiden tersebut. Namun, momen itulah yang justru menjadi awal dari pengalaman yang ia anggap luar biasa dan sulit dijelaskan secara ilmiah.

Honkala mengatakan rasa panik akibat kesulitan bernapas perlahan berubah menjadi ketenangan yang mendalam. Ia menyebut sensasi itu terasa seperti memasuki keheningan yang sangat luas, jauh dari rasa takut dan tekanan fisik.

Kisah Pertama Saat Balita

Dalam kesaksiannya, Honkala merasa kesadarannya terpisah dari tubuh fisiknya ketika berada di dalam air. Ia mengaku dapat melihat tubuh kecilnya mengambang dan merasa tidak lagi berada di dalam tubuh anak-anak.

Ia menggambarkan dirinya sebagai kesadaran murni, sebuah medan cahaya yang tidak terikat pada waktu. Menurutnya, pada saat itu tidak ada rasa takut, tidak ada pikiran, dan tidak ada batasan seperti yang biasa dialami manusia.

Salah satu bagian paling aneh dari pengalamannya, kata Honkala, adalah kemampuannya melihat ibunya yang berada beberapa blok dari rumah. Ia juga mengklaim bisa berkomunikasi dengan sang ibu tanpa berbicara secara fisik.

Tak lama kemudian, ibunya bergegas pulang dan menemukan Honkala di dalam tangki air. Sejak peristiwa itu, Honkala mengaku tidak pernah lagi memandang kematian sebagai sesuatu yang sepenuhnya menakutkan.

Mati Suri Saat Dewasa

Selain pengalaman masa kecil, Honkala mengaku mengalami dua kejadian mati suri lainnya saat dewasa. Yang pertama terjadi setelah kecelakaan motor ketika ia berusia 25 tahun.

Pengalaman kedua dialaminya saat berusia 52 tahun, ketika tekanan darahnya turun drastis dalam proses operasi. Ia mengatakan ketiga pengalaman tersebut selalu membawanya pada keadaan damai yang sama.

Honkala menilai pengalamannya tidak hanya meninggalkan jejak emosional, tetapi juga membentuk pandangannya tentang kehidupan. Ia percaya bahwa apa yang disebut kehidupan setelah mati terasa seperti keberadaan yang sangat dekat, bukan tempat yang jauh.

Baginya, pengalaman itu juga memunculkan keyakinan bahwa kesadaran mungkin tidak semata-mata dihasilkan oleh otak. Ia menduga ada sesuatu yang lebih mendasar yang menjadi sumber dari kesadaran manusia.

Sains Dan Spiritualitas

Menariknya, pengalaman spiritual justru membuat Honkala semakin tertarik pada sains. Ia mengatakan ingin memahami hakikat realitas melalui observasi dan penelitian yang sistematis.

Selama bertahun-tahun, ia memilih fokus pada karier ilmiah dan jarang membicarakan pengalamannya di depan publik. Namun, seiring waktu, ia mulai melihat bahwa sains dan spiritualitas tidak selalu harus dipertentangkan.

Menurut Honkala, keduanya mungkin hanya berupaya menjelaskan misteri yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Pandangan itu membuatnya lebih terbuka terhadap dialog antara temuan ilmiah dan pengalaman batin manusia.

Meski demikian, pengalaman mati suri seperti yang dialami Honkala masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti. Sebagian ilmuwan menilai fenomena itu bisa dipicu halusinasi atau mekanisme psikologis saat seseorang berada di ambang kematian.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!