Makanan UPF Tidak Selalu Buruk, Ini Penjelasannya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 15:36 WIB 2
Makanan UPF Tidak Selalu Buruk, Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF semakin sering dibicarakan di media sosial, terutama ketika membahas makanan kemasan yang dianggap tidak sehat. Padahal, tidak semua pangan olahan memiliki karakteristik, komposisi, dan dampak gizi yang sama bagi tubuh.

Sejumlah produk yang kerap dicurigai sebagai UPF justru masih menyimpan protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang dibutuhkan. Karena itu, penilaian terhadap makanan olahan perlu dilakukan dengan melihat komposisi, bukan sekadar label kemasannya.

Makanan UPF Perlu Dipahami

UPF merupakan istilah yang merujuk pada makanan dengan proses industri tinggi dan biasanya mengandung banyak bahan tambahan. Namun, keberadaan bahan tambahan tidak otomatis membuat suatu produk menjadi buruk bagi kesehatan.

Dalam praktiknya, klasifikasi makanan olahan sangat bergantung pada daftar bahan, tingkat pemrosesan, dan tujuan formulasi produk. Produk yang terlihat serupa bisa saja masuk kategori yang berbeda karena kandungannya tidak sama.

Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat saat menilai makanan kemasan, terutama yang dikonsumsi setiap hari. Pemahaman ini penting agar kekhawatiran terhadap UPF tidak berubah menjadi asumsi yang keliru.

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan kerap dianggap sebagai makanan ultra-proses, padahal statusnya bergantung pada komposisinya. Jika hanya berisi ikan, garam, minyak, atau saus tomat sederhana, produk tersebut cenderung lebih dekat ke processed foods.

Masalah muncul ketika produsen menambahkan perisa, pengental, pemanis, atau aditif lain dalam jumlah lebih kompleks. Pada kondisi seperti itu, sebagian produk sarden kalengan dapat masuk kategori ultra-processed foods.

Artinya, konsumen tidak bisa menyamaratakan semua sarden kalengan sebagai makanan yang sama. Membaca komposisi tetap menjadi langkah paling aman sebelum membeli atau mengonsumsinya.

Susu UHT dan UPF

Susu UHT plain juga sering menjadi bahan perdebatan dalam klasifikasi UPF. Sebagian peneliti menempatkannya sebagai processed foods, karena proses pemanasan dilakukan untuk memperpanjang daya simpan.

Berbeda halnya dengan susu UHT yang sudah diberi perisa, pemanis, atau formulasi tambahan yang lebih kompleks. Produk seperti ini lebih berpotensi masuk ke kategori ultra-processed foods.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua susu kemasan memiliki nilai gizi dan tingkat pemrosesan yang sama. Konsumen perlu memperhatikan varian produk, bukan hanya nama kategorinya.

Cermat Membaca Label

Langkah paling sederhana untuk menghindari salah persepsi adalah membaca label komposisi secara utuh. Daftar bahan yang terlalu panjang, penuh aditif, atau menggunakan banyak zat tambahan patut dicermati lebih serius.

Selain itu, kandungan protein, gula, garam, dan lemak juga perlu diperhatikan sebelum menjadikan suatu produk sebagai konsumsi rutin. Informasi gizi membantu konsumen menimbang apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan harian.

Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat dapat bersikap lebih bijak terhadap makanan kemasan. Tidak semua yang diproses otomatis tidak sehat, sebab kualitas gizi tetap ditentukan oleh isi produk dan pola konsumsi secara keseluruhan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!