Makanan Sehari-hari Bisa Picu Jerawat, Ini Penjelasannya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 20:52 WIB 6
Makanan Sehari-hari Bisa Picu Jerawat, Ini Penjelasannya

Jerawat tidak selalu dipicu oleh skincare atau kebersihan wajah yang kurang terjaga. Sejumlah makanan sehari-hari, seperti yang tinggi gula, produk susu, dan ultra processed food, juga disebut dapat membuat breakout lebih mudah muncul. Kondisi ini kerap membuat jerawat sulit mereda meski perawatan kulit sudah dilakukan dengan benar.

Dokter sekaligus praktisi estetika dr Silvia Kartika dari Seraphim Medical Center menjelaskan bahwa pengaruh makanan terhadap jerawat tidak terjadi pada semua orang. Namun, pada sebagian individu, pola makan dapat memperburuk kondisi kulit dan memicu peradangan. Karena itu, hubungan antara makanan dan jerawat kini semakin banyak diperhatikan.

Jerawat dan pola makan

Jerawat merupakan kondisi yang dipengaruhi banyak faktor, bukan hanya makanan. Hormon, stres, genetik, dan kebiasaan merawat kulit juga memiliki peran yang cukup besar. Meski begitu, asupan harian tetap dapat ikut menentukan seberapa mudah jerawat muncul.

Menurut dr Silvia, makanan tertentu bisa memicu breakout pada sebagian orang. Ia menegaskan bahwa tidak semua orang akan mengalami reaksi yang sama setelah mengonsumsi makanan yang sama. Perbedaan respons inilah yang membuat hubungan makanan dan jerawat sering terlihat tidak konsisten.

Secara ilmiah, kaitan keduanya diduga berhubungan dengan peradangan dan perubahan hormon di dalam tubuh. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi produksi minyak pada kulit. Saat minyak meningkat dan pori-pori tersumbat, jerawat lebih mudah terbentuk atau menjadi lebih meradang.

Makanan pemicu jerawat

Makanan tinggi gula sering disebut sebagai salah satu pemicu yang perlu diwaspadai. Asupan gula berlebih dapat memengaruhi kadar insulin dan proses peradangan di dalam tubuh. Pada sebagian orang, kondisi ini berimbas pada kulit yang lebih mudah berjerawat.

Produk susu juga kerap dikaitkan dengan munculnya jerawat pada kelompok tertentu. Sejumlah orang mengaku kulitnya lebih sensitif setelah rutin mengonsumsi susu atau olahannya. Meski demikian, respons ini tetap bergantung pada kondisi tubuh masing-masing.

Ultra processed food menjadi perhatian karena umumnya mengandung gula, garam, dan lemak dalam kadar tinggi. Jenis makanan ini juga cenderung minim serat serta nutrisi yang mendukung kesehatan kulit. Jika dikonsumsi berlebihan, risiko peradangan dalam tubuh dapat meningkat.

Respons kulit berbeda-beda

Tidak semua orang perlu menghindari makanan tertentu secara ketat. Respons kulit sangat dipengaruhi oleh sensitivitas tubuh, gaya hidup, dan kondisi kesehatan secara umum. Karena itu, makanan pemicu jerawat pada satu orang belum tentu memberi efek yang sama pada orang lain.

Dr Silvia menekankan bahwa pola makan hanya salah satu faktor yang dapat memperburuk jerawat. Artinya, penyebab utama jerawat tetap tidak bisa disederhanakan hanya pada satu jenis makanan. Pendekatan yang tepat perlu melihat kondisi kulit secara menyeluruh.

Pemantauan terhadap makanan yang dikonsumsi dapat membantu mengenali pola pemicu breakout. Cara ini biasanya dilakukan dengan memperhatikan perubahan kulit setelah konsumsi makanan tertentu. Dengan begitu, seseorang bisa lebih mudah menentukan langkah perawatan yang sesuai.

Cara menjaga kulit

Menjaga pola makan seimbang dapat menjadi langkah awal untuk membantu kulit tetap stabil. Konsumsi makanan bergizi, cukup air putih, dan kurangi makanan tinggi gula secara berlebihan. Kebiasaan ini dapat mendukung upaya perawatan kulit dari dalam.

Perawatan luar tetap penting agar jerawat tidak semakin memburuk. Membersihkan wajah dengan lembut, memakai produk yang sesuai jenis kulit, dan menjaga rutinitas harian dapat membantu mengurangi risiko sumbatan pori. Jika jerawat terus berulang, pemeriksaan ke dokter dapat menjadi pilihan yang tepat.

Memahami pemicu jerawat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih tepat dalam merawat kulit. Pola makan yang baik tidak menjamin jerawat hilang sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi risikonya. Dengan kombinasi perawatan yang benar dan kebiasaan sehat, kondisi kulit berpeluang membaik secara bertahap.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!