Makaila Haifa dan UNHCR Wujudkan Talenta Pengungsi lewat Mishka Project

Lifestyle Anindya Kirana Putri 13 Mei 2026 14:07 WIB 12
Makaila Haifa dan UNHCR Wujudkan Talenta Pengungsi lewat Mishka Project

Brand hijab Makaila Haifa bekerja sama dengan UNHCR merayakan Hari Perempuan Internasional 2026 melalui acara bertema Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Acara trunk show ini memberi panggung bagi pengungsi wanita dari berbagai negara untuk tampil sebagai model sekaligus seniman. Kehadiran Mishka Project menambah dinamika dengan menampilkan lima wanita pengungsi dan satu peraga busana asal India, Revathi Prabaharan.

Para pengungsi berasal dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan yang mencari suaka di Indonesia. Lewat arahan Ling Hida, pendiri Makaila Haifa, acara ini bertujuan mengubah narasi menjadi peluang empati dan pemberdayaan. Acara tersebut menegaskan komitmen kolaborasi antara brand lokal dengan organisasi kemanusiaan untuk menyoroti talenta yang sering terpinggirkan.

Acara ini menegaskan bahwa talenta pengungsi dapat tampil di atas panggung mode melalui karya yang relevan dengan tema resilience. Panggung juga menampilkan kombinasinya antara busana modest wear dengan elemen fashion modern yang menonjolkan kepercayaan diri para peserta. Secara keseluruhan, acara ini menggugah publik untuk melihat pengungsi dari sudut pandang yang lebih konstruktif dan empatik.

Talenta Pengungsi Diapresiasi

Acara menampilkan para pengungsi wanita sebagai model yang menunjukkan bakat di luar peran tradisionalnya. Pembawaannya menegaskan bahwa gaya dan seni adalah alat pemberdayaan yang efektif untuk meningkatkan citra diri. Panggung menegaskan narasi baru tentang pengungsi yang memiliki talenta, ketajaman fashion, dan kemampuan berkarya.

Langkah ini mendapat dukungan dari komunitas lokal yang menghargai kontribusi sosial dan budaya. Makaila Haifa melalui Ling Hida menegaskan bahwa kolaborasi ini menempatkan pengungsi sebagai pelaku kreatif, bukan obyek. Inisiatif ini juga menggambarkan bagaimana industri mode dapat berperan dalam inklusi sosial.

Penampilan para model pengungsi menampilkan koleksi yang disesuaikan dengan tema resilience. Kesan kuat hadir melalui kombinasi busana modest wear yang modern dan karya seni yang terpampang. Acara ini menjadi contoh bagaimana cerita personal dapat diubah menjadi karya yang diapresiasi publik.

Trunk Show Mishka Project

Mishka Project menampilkan trunk show khusus yang mengangkat lima pengungsi wanita dan satu peraga busana asal India, Revathi Prabaharan. Penampilan mereka dirancang untuk memperlihatkan bakat, gaya, dan narasi hidup mereka. Kehadiran Revathi Prabaharan menambah variasi durasi dan konteks budaya dalam acara.

Penyelenggara menyampaikan bahwa kolaborasi ini bertujuan meruntuhkan stereotip pengungsi sebagai sosok pasif. Acara ini menekankan bahwa fashion dapat menjadi jembatan untuk mengekspresikan identitas dan daya tahan. Ling Hida menyatakan kebanggaan atas pencapaian para peserta meski menghadapi tantangan.

Kehadiran model dan seniman pengungsi lain menciptakan momen interaksi antara publik, penata busana, dan kolaborator. Para tamu mencatat suasana hangat serta fokus pada pemberdayaan melalui karya kreatif. Trunk show ini memperlihatkan bagaimana karya fashion dapat mengangkat kisah harapan.

Karya fashion bertema resilience

Selain trunk show, acara ini juga menampilkan pameran karya fashion painting dari pengungsi asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya tersebut menambah dimensi visual yang melengkapi tema resilience dalam presentasi busana. Kurator menekankan interseksi antara tekstil, seni rupa, dan pengalaman pribadi para kontributor.

Pameran dibuka untuk umum sehingga peserta dapat meresapi narasi melalui karya visual. Karya seni menjadi pelecut diskusi mengenai hak dan peluang bagi pengungsi. Kehadiran para seniman pengungsi memperkaya ekosistem mode lokal dengan perspektif yang beragam.

Acara secara keseluruhan menekankan bahwa resilience tidak hanya bertumpu pada bertahan, tetapi juga tumbuh. Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR menunjukkan bagaimana industri mode dapat memedulikan komunitas rentan. Harapannya, inisiatif serupa dapat melahirkan peluang lebih luas bagi talenta pengungsi di masa depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!