Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 17:54 WIB 6
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar panggung bertajuk Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini menjadi ruang apresiasi bagi perempuan pengungsi dari sejumlah negara untuk tampil sebagai model sekaligus seniman.

Melalui kegiatan tersebut, perempuan dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan mendapat sorotan dalam format trunk show dan pameran karya. Inisiatif ini juga menegaskan peran fashion sebagai medium yang mampu menyampaikan pesan kemanusiaan secara kuat dan relevan.

Fashion Hijab dan Resiliensi

Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR menghadirkan pesan bahwa fashion dapat menjadi ruang pemberdayaan, bukan hanya soal tampilan. Lewat panggung ini, perempuan pengungsi diberi kesempatan menunjukkan bakat, karakter, dan keberanian mereka di hadapan publik.

Acara Women’s Resilience: From Surviving to Thriving dirancang untuk merayakan ketangguhan perempuan yang tetap berkarya di tengah situasi sulit. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Hari Perempuan Internasional yang menempatkan perempuan sebagai pusat perubahan sosial.

Dengan konsep yang inklusif, panggung tersebut mempertemukan estetika modest wear dengan narasi kemanusiaan yang lebih luas. Kehadiran para peserta menjadi simbol bahwa identitas, pengalaman, dan kreativitas dapat berjalan berdampingan dalam satu ruang apresiasi.

Mishka Project Angkat Narasi

Dalam kesempatan itu, Mishka Project mempersembahkan trunk show yang menampilkan lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana asal India, Revathi Prabaharan. Para pengungsi yang terlibat berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, yang kini mencari suaka di Indonesia.

Penampilan mereka memberi perspektif baru tentang bagaimana fashion show dapat menyuarakan cerita yang lebih personal dan bermakna. Alih-alih sekadar memperlihatkan busana, pertunjukan ini juga menampilkan perjalanan hidup para peserta yang penuh tantangan.

Melalui kurasi yang dikerjakan dengan cermat, Mishka Project menghadirkan suasana yang hangat sekaligus inspiratif. Setiap penampilan menjadi pengingat bahwa ketahanan perempuan dapat diwujudkan dalam banyak bentuk, termasuk lewat panggung mode.

Ling Hida dan Makna Baru

Sentuhan pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi bagian penting dalam membangun arah artistik acara tersebut. Ia mendorong narasi pengungsi yang kerap dipandang sulit menjadi kisah tentang daya juang dan talenta.

Langkah itu memperlihatkan bahwa industri fashion lokal dapat mengambil peran yang lebih luas dalam isu sosial. Dengan pendekatan yang tepat, koleksi dan pertunjukan busana dapat menjadi sarana untuk membangun empati publik.

Kolaborasi ini juga memperkuat posisi Makaila Haifa sebagai brand hijab dan modest wear yang tidak hanya fokus pada desain. Brand tersebut menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian dari identitas kreatif yang ingin terus dibawa ke ruang yang lebih luas.

Karya Seni dan Panggung

Selain trunk show, acara ini turut menampilkan pameran fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Kehadiran karya seni tersebut memperkaya pengalaman audiens, karena menghadirkan ekspresi visual di luar busana.

Pameran ini menunjukkan bahwa perempuan pengungsi memiliki kemampuan kreatif yang layak mendapat ruang tampil. Dalam konteks yang lebih luas, seni dan fashion menjadi jembatan untuk menyampaikan pengalaman hidup secara lebih manusiawi.

Melalui seluruh rangkaian acara, pesan yang dibawa cukup jelas, yakni perempuan dapat bertahan, tumbuh, dan memberi inspirasi bagi sekelilingnya. Panggung ini pun menegaskan bahwa resiliensi tidak hanya dirayakan, tetapi juga perlu terus didukung melalui kesempatan yang nyata.

Tag Terkait
#fashion#hijab#UNHCR

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!