Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 31 Mei 2026 12:26 WIB 4
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Kegiatan ini menghadirkan perempuan pengungsi dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan sebagai model sekaligus seniman. Panggung tersebut menjadi ruang apresiasi bagi ketangguhan mereka, sekaligus menampilkan pesan bahwa fashion dapat menjadi medium pemberdayaan.

Melalui Mishka Project, para perempuan pengungsi tampil dalam trunk show bersama satu peraga busana asal India, Revathi Prabaharan. Sejumlah peserta berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia yang kini mencari suaka di Indonesia. Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana karya busana dapat membuka ruang inklusif bagi kelompok rentan untuk menunjukkan talenta mereka.

Fashion untuk Pemberdayaan

Makaila Haifa dan UNHCR menghadirkan konsep acara yang menempatkan perempuan pengungsi sebagai subjek utama. Alih-alih dipandang dari sisi keterbatasan, mereka ditampilkan sebagai sosok yang memiliki keberanian dan kreativitas. Pendekatan ini memberi makna baru pada panggung fashion yang tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga nilai kemanusiaan.

Founder Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi sosok di balik pengembangan Mishka Project. Ia mengubah narasi tentang pengungsi yang kerap dianggap penuh tantangan menjadi kisah tentang daya tahan dan potensi. Melalui inisiatif tersebut, fashion diposisikan sebagai ruang yang mampu mengangkat martabat dan kepercayaan diri para peserta.

Kolaborasi ini juga menegaskan bahwa industri modest wear dapat berkontribusi pada isu sosial yang lebih luas. Keterlibatan UNHCR memperkuat pesan solidaritas terhadap perempuan yang terdampak konflik dan perpindahan paksa. Dalam konteks itu, panggung fashion menjadi jembatan antara ekspresi diri dan kepedulian publik.

Trunk Show Mishka Project

Trunk show yang digelar Mishka Project menampilkan rangkaian busana yang diperagakan oleh perempuan pengungsi dari Palestina, Somalia, dan Afghanistan. Kehadiran Revathi Prabaharan dari India turut memberi warna pada pertunjukan tersebut. Susunan ini membuat pertunjukan terasa beragam, sekaligus mencerminkan semangat lintas budaya.

Para model tampil bukan hanya sebagai peraga busana, tetapi juga sebagai representasi kekuatan perempuan yang bertahan di tengah situasi sulit. Setiap penampilan membawa pesan tentang keteguhan, harapan, dan kemampuan untuk terus berkarya. Acara ini menunjukkan bahwa busana dapat menjadi sarana bercerita tentang pengalaman hidup yang penuh makna.

Selain peragaan busana, acara tersebut menjadi ruang temu bagi komunitas, kreator, dan pengunjung yang ingin melihat karya dari perspektif yang lebih humanis. Format trunk show membuat publik dapat menyaksikan langsung narasi yang dibangun melalui busana dan penampilan para peserta. Dengan demikian, Mishka Project menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar presentasi koleksi fashion.

Karya dan Kisah Pengungsi

Acara ini juga menampilkan pameran karya fashion painting dari pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya-karya tersebut memperlihatkan sisi lain kreativitas para pengungsi di luar peragaan busana. Kehadiran pameran menambah dimensi artistik pada rangkaian acara yang telah dirancang secara inklusif.

Melalui pameran itu, publik dapat melihat bahwa bakat para pengungsi tidak terbatas pada satu bentuk ekspresi. Mereka memiliki kemampuan untuk berkarya dalam medium visual, sekaligus menyalurkan pengalaman hidup mereka ke dalam seni. Hal ini memperkaya pesan acara bahwa setiap individu berhak mendapat ruang untuk berkembang.

Partisipasi perempuan pengungsi dari beberapa negara juga menegaskan pentingnya dukungan terhadap kelompok rentan di berbagai lini kehidupan. Panggung ini memperlihatkan bahwa apresiasi terhadap seni dapat berjalan seiring dengan upaya membangun solidaritas. Dalam kerangka tersebut, fashion dan seni menjadi alat untuk membuka percakapan yang lebih luas tentang kemanusiaan.

Pesan Solidaritas Global

Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 menjadi momentum yang tepat untuk menyoroti isu ketahanan perempuan di tingkat global. Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR memperlihatkan bahwa perayaan tidak harus berhenti pada simbol, tetapi dapat diwujudkan melalui aksi nyata. Acara ini memberi ruang bagi perempuan pengungsi untuk berdiri di panggung yang setara dan dihargai.

Pesan utama dari kegiatan ini adalah bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk bangkit, meski menghadapi perpindahan, kehilangan, dan ketidakpastian. Ketika panggung fashion dibuka bagi mereka, publik diajak melihat potensi yang selama ini mungkin terabaikan. Inisiatif seperti ini dapat menjadi contoh bagaimana industri kreatif berkontribusi pada perubahan sosial.

Dengan mengusung tema Women's Resilience: From Surviving to Thriving, acara tersebut menempatkan ketahanan sebagai pusat narasi. Perempuan pengungsi tidak hanya hadir sebagai penerima simpati, tetapi juga sebagai individu yang mampu menginspirasi. Dari panggung Makaila Haifa dan UNHCR, pesan tentang daya juang perempuan menggaung lebih luas kepada masyarakat.

Tag Terkait
#fashion#hijab#UNHCR

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!