Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Hari Perempuan

Lifestyle Clara Monica 29 Mei 2026 15:55 WIB 6
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Hari Perempuan

Brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR untuk menggelar acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026. Kegiatan ini menghadirkan pengungsi wanita dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan sebagai model sekaligus seniman. Acara tersebut menjadi panggung apresiasi bagi perempuan yang terus bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan hidup.

Dalam gelaran itu, Mishka Project mempersembahkan trunk show yang menampilkan lima pengungsi wanita dan satu peraga busana perempuan asal India, Revathi Prabaharan. Para peserta berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia yang kini mencari suaka di Indonesia. Kehadiran mereka menegaskan bahwa fashion dapat menjadi ruang ekspresi, solidaritas, dan pemberdayaan.

Kolaborasi fashion dan kemanusiaan

Makaila Haifa dan UNHCR menghadirkan kolaborasi yang memadukan fashion dengan pesan kemanusiaan. Acara ini dirancang untuk memberi ruang tampil bagi perempuan pengungsi yang selama ini jarang mendapat sorotan publik. Lewat panggung tersebut, mereka tidak hanya tampil sebagai model, tetapi juga sebagai individu dengan talenta dan cerita hidup yang kuat.

Konsep Women's Resilience dipilih untuk menyoroti perjalanan perempuan yang mampu bertahan dalam situasi sulit. Tema itu selaras dengan semangat Hari Perempuan Internasional yang menekankan kesetaraan dan pemberdayaan perempuan. Dalam konteks ini, busana menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang ketangguhan dan harapan.

Kolaborasi ini juga memperlihatkan peran brand lokal dalam mendukung isu global. Melalui pendekatan yang inklusif, acara tersebut mempertemukan komunitas fashion dengan kelompok rentan yang membutuhkan ruang representasi. Hasilnya, panggung mode berubah menjadi ajang apresiasi yang lebih bermakna.

Mishka Project angkat narasi baru

Di balik inisiatif ini, pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, mengambil peran penting dalam membentuk arah presentasi Mishka Project. Ia mengubah narasi pengungsi yang kerap dipandang sulit menjadi kisah tentang daya juang dan talenta. Pendekatan itu memberi dimensi baru pada acara fashion yang tidak hanya berfokus pada estetika.

Mishka Project kemudian menjadi wadah untuk menampilkan perempuan pengungsi sebagai sosok yang berdaya. Mereka diberi kesempatan tampil secara percaya diri di hadapan publik melalui trunk show yang terkurasi. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa setiap perempuan memiliki potensi untuk berkembang jika diberi kesempatan.

Panggung ini juga menunjukkan bahwa fashion dapat menjadi alat advokasi sosial. Dengan mengangkat pengalaman para pengungsi, penyelenggara berupaya membangun empati sekaligus membuka ruang dialog. Langkah tersebut memberi contoh bagaimana industri kreatif dapat terlibat dalam isu kemanusiaan.

Para perempuan di panggung utama

Dalam pertunjukan tersebut, lima wanita pengungsi tampil bersama Revathi Prabaharan sebagai peraga busana tamu. Para model berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, dengan latar belakang sebagai pencari suaka di Indonesia. Kehadiran mereka menambah kekuatan visual dan emosional dalam setiap tampilan koleksi.

Selain peragaan busana, acara juga menghadirkan pameran karya fashion painting. Karya tersebut dibuat oleh pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Kehadiran seni visual melengkapi pengalaman penonton dalam memahami kreativitas para peserta dari berbagai negara.

Penggabungan trunk show dan pameran karya ini membuat acara terasa lebih utuh. Fashion tidak hanya ditampilkan sebagai produk, tetapi juga sebagai ekspresi identitas dan pengalaman hidup. Dengan cara itu, para perempuan pengungsi memperoleh ruang untuk menunjukkan sisi lain dari perjalanan mereka.

Pesan ketahanan dan pemberdayaan

Acara ini menegaskan pentingnya memberi ruang bagi perempuan untuk dikenal dari kemampuan, bukan hanya dari status sosialnya. Ketahanan yang ditunjukkan para pengungsi menjadi inti pesan dalam gelaran tersebut. Dari panggung fashion, publik diajak melihat bahwa keberanian dapat tumbuh di tengah kondisi yang serba terbatas.

Makaila Haifa melalui kolaborasi ini menempatkan busana muslim sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Brand lokal tersebut tidak hanya menghadirkan desain, tetapi juga membawa pesan inklusif yang relevan dengan isu global. Pendekatan ini memperkuat citra fashion sebagai medium perubahan sosial.

Gelaran bersama UNHCR itu pun memberi makna baru bagi peringatan Hari Perempuan Internasional 2026. Perempuan pengungsi tampil bukan sebagai korban, melainkan sebagai pribadi yang memiliki suara, bakat, dan harapan. Melalui panggung ini, pesan tentang bertahan dan bertumbuh tersampaikan dengan kuat kepada publik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!