Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet Rp5 Juta dari We.Eats

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 04:51 WIB 3
Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet Rp5 Juta dari We.Eats

Seorang mahasiswi asal Palangka Raya, Windy Maulidya, berhasil membangun usaha kuliner kekinian bernama We.Eats sejak 2023. Berawal dari tugas kuliah yang relevan dengan dunia bisnis, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk merintis usaha sambil tetap menempuh pendidikan. Kini, bisnis yang dimulai dari skala kecil tersebut berkembang hingga melayani pesanan harian dan menghasilkan omzet bersih hingga Rp5 juta per bulan.

Windy mengaku ide usaha itu muncul pada September 2023, ketika ia semakin yakin untuk menekuni bidang kuliner karena hobi memasak. Pada tahap awal, ia hanya menjual dengan sistem pre-order kepada teman terdekat, sebelum promosi di media sosial membuat pesanan datang lebih rutin. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ide bisnis dapat tumbuh dari kebutuhan sederhana, lalu berkembang menjadi sumber pundi-pundi rupiah.

Awal usaha kuliner We.Eats

Windy menyebut latar belakang kuliah di jurusan bisnis sangat membantu dirinya memahami dasar-dasar usaha. Banyak tugas perkuliahan yang menurutnya bisa diterapkan langsung untuk membangun bisnis secara bertahap. Dari situ, ia melihat peluang untuk menjadikan minat memasak sebagai sumber penghasilan.

Usaha We.Eats kemudian lahir pada September 2023 dengan konsep penjualan yang masih sederhana. Pada masa awal, Windy hanya membuka pesanan khusus untuk orang-orang terdekat melalui sistem pre-order. Cara itu menjadi langkah awal untuk menguji minat pasar sebelum memperluas jangkauan penjualan.

Promosi melalui media sosial menjadi titik penting dalam perkembangan usaha tersebut. Pesanan yang semula terbatas mulai berdatangan lebih sering dan membuat We.Eats dikenal lebih luas. Dari sana, Windy mulai membangun ritme usaha yang lebih teratur dan terukur.

Modal kecil, langkah bertahap

Untuk memulai usahanya, Windy tidak membutuhkan modal besar. Ia mengaku hanya menyiapkan dana sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta untuk membeli bahan baku harian di pasar. Sementara itu, peralatan masak yang digunakan sebagian besar sudah tersedia di dapur rumah.

Strategi tersebut membuatnya dapat menekan biaya awal dan menjaga arus kas tetap aman. Windy memilih tumbuh pelan-pelan dengan menambah bahan baku, peralatan, dan fasilitas sesuai kebutuhan. Pola step by step itu menjadi kunci agar usaha tetap berjalan tanpa beban modal yang terlalu berat.

Pendekatan sederhana ini juga memudahkan Windy menyesuaikan skala produksi dengan jumlah pesanan. Ia tidak langsung mengejar ekspansi besar, melainkan memastikan operasional harian tetap stabil. Dengan cara itu, bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan.

Pendapatan dan tantangan harian

Dari usaha kuliner yang ia jalankan, Windy kini mampu mengantongi omzet bersih hingga Rp5 juta per bulan. Angka itu menjadi pencapaian penting bagi mahasiswa yang membangun bisnis dari nol. Pendapatan tersebut juga menunjukkan bahwa usaha kecil bisa memberi hasil yang menjanjikan jika dikelola dengan konsisten.

Meski demikian, Windy masih menghadapi tantangan dalam operasional sehari-hari. Ia hanya dibantu satu orang karyawan untuk memasak dan menyiapkan produk bagi pelanggan. Dengan sumber daya manusia yang terbatas, ia kerap kewalahan saat pesanan meningkat.

Ketika pesanan di pesan langsung terlalu banyak, Windy terpaksa menutup sementara layanan di platform tertentu. Langkah itu diambil agar pesanan tetap terkontrol dan pelanggan menerima makanan tepat waktu. Menurutnya, menjaga kualitas layanan lebih penting daripada memaksakan jumlah pesanan yang melebihi kapasitas.

Pelajaran dari bisnis mahasiswa

Kisah Windy menunjukkan bahwa peluang usaha bisa muncul dari aktivitas kampus yang sehari-hari. Tugas kuliah yang relevan dengan bisnis membantu dirinya melihat potensi pasar dan memahami dasar pengelolaan usaha. Dari sana, ide sederhana dapat berubah menjadi bisnis yang menghasilkan.

Selain itu, konsistensi dan keberanian memulai menjadi faktor penting dalam perjalanan We.Eats. Windy tidak langsung menargetkan skala besar, tetapi membangun usaha secara bertahap sesuai kemampuan. Pendekatan ini membuat bisnisnya lebih adaptif terhadap perubahan permintaan.

Pengalaman Windy juga memperlihatkan pentingnya pengelolaan keuangan yang cermat dalam usaha kecil. Modal awal yang terbatas, jika digunakan efektif, bisa menjadi pijakan untuk pertumbuhan berikutnya. Bagi mahasiswa lain, kisah ini menjadi contoh bahwa usaha rumahan tetap berpeluang memberi hasil nyata bila dijalankan dengan disiplin.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!