Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet dari We.Eats

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 11:19 WIB 2
Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet dari We.Eats

Seorang mahasiswi asal Palangka Raya, Windy Maulidya, berhasil mengubah tugas kuliah menjadi peluang usaha yang menjanjikan melalui bisnis kuliner kekinian bernama We.Eats. Usaha yang dirintis sejak September 2023 itu kini tumbuh dari penjualan kecil berbasis pre-order menjadi layanan harian yang aktif di media sosial dan platform pesan antar.

Berbekal latar belakang kuliah bisnis dan kegemaran memasak, Windy memulai usahanya dengan modal Rp1 juta hingga Rp3 juta untuk membeli bahan baku harian. Dari langkah sederhana itu, ia mampu mengantongi omzet bersih hingga Rp5 juta per bulan, meski masih menghadapi tantangan keterbatasan tenaga kerja dan tingginya pesanan.

Bisnis kuliner dari kampus

Windy Maulidya, mahasiswi berusia 23 tahun asal Palangka Raya, membangun We.Eats sebagai usaha kuliner kekinian yang lahir dari kebutuhan mempraktikkan ilmu bisnis di bangku kuliah. Ia melihat tugas-tugas perkuliahan sebagai peluang untuk membentuk usaha yang bisa dijalankan secara nyata. Dari situ, ide untuk membuka bisnis makanan mulai terbentuk pada September 2023.

Menurut Windy, ketertarikan terhadap dunia kuliner juga menjadi dorongan penting dalam memulai usaha tersebut. Ia merasa lebih yakin untuk terjun ke bisnis makanan karena memang senang memasak sejak awal. Kombinasi antara minat pribadi dan pelajaran kampus membuat langkahnya terasa lebih terarah.

Sejak awal, We.Eats dirancang sebagai usaha yang bisa tumbuh secara bertahap tanpa membebani modal terlalu besar. Windy memilih memulai dari skala kecil agar operasional tetap terkendali dan risiko bisa ditekan. Pendekatan itu kemudian menjadi fondasi perkembangan usaha yang lebih stabil.

Promosi media sosial dorong pesanan

Pada tahap awal, Windy menjalankan penjualan dengan sistem pre-order kepada teman terdekat. Cara ini membantunya mengukur respons pasar tanpa harus menyiapkan produksi dalam jumlah besar. Dari situ, ia mulai memahami jenis menu yang paling diminati pelanggan.

Promosi melalui media sosial menjadi faktor penting yang memperluas jangkauan We.Eats. Pesanan yang semula datang dari lingkaran pertemanan perlahan bertambah dari konsumen yang mengenal produk lewat Instagram. Seiring waktu, permintaan meningkat hingga pesanan masuk setiap hari.

Windy mengatakan usahanya kini tidak lagi bergantung pada open PO seperti di awal. We.Eats sudah bisa dipesan setiap hari melalui GoFood dan Instagram. Perubahan pola penjualan itu menunjukkan adanya pertumbuhan yang konsisten.

Modal kecil hasilkan omzet

Untuk memulai usaha, Windy hanya membutuhkan modal sekitar Rp1 juta sampai Rp3 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku harian di pasar sesuai kebutuhan produksi. Adapun peralatan masak, ia memakai perlengkapan yang sudah tersedia di dapur rumah.

Pilihan memanfaatkan fasilitas yang ada membuat biaya awal usaha tetap rendah. Strategi ini memberi ruang bagi Windy untuk menyesuaikan belanja dengan jumlah pesanan. Dengan demikian, arus kas usaha tetap terjaga sejak tahap awal.

Dari usaha yang dibangun secara bertahap itu, Windy kini mampu memperoleh omzet bersih hingga Rp5 juta per bulan. Pertumbuhan tersebut dicapai melalui proses penambahan bahan baku, peralatan, dan fasilitas lain sedikit demi sedikit. Ia menyebut perkembangan bisnisnya berjalan pelan namun pasti.

Tantangan tenaga kerja terbatas

Meski omzet terus bertumbuh, Windy masih menghadapi kendala pada sisi sumber daya manusia. Saat ini ia hanya dibantu satu karyawan untuk memasak dan menyiapkan produk. Kondisi tersebut membuat proses produksi harus diatur dengan ketat agar tetap efisien.

Keterbatasan tenaga kerja kerap membuat Windy kewalahan ketika pesanan datang dalam jumlah besar. Ia mengaku kadang harus membatasi order agar kualitas makanan dan ketepatan waktu tetap terjaga. Langkah itu diambil demi menjaga kepuasan pelanggan yang sudah memesan.

Ketika pesanan di pesan langsung sudah terlalu banyak, Windy juga menonaktifkan sementara layanan di GoFood. Cara ini dilakukan agar seluruh pesanan bisa terkontrol dengan baik. Dengan pengelolaan seperti itu, ia berupaya menjaga reputasi We.Eats di tengah pertumbuhan permintaan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!