Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 16:59 WIB 2
Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Aktris Hollywood Lucy Liu mengungkap pengalaman pribadinya menjalani operasi payudara setelah menemukan benjolan, yang semula diduga kanker. Peristiwa itu terjadi pada 1990-an, saat akses informasi kesehatan masih terbatas dan ia sepenuhnya mengandalkan penjelasan dokter. Belakangan, Liu mengetahui bahwa diagnosis awal tersebut keliru, meski benjolan sudah terlanjur diangkat melalui operasi. Kisah ini kini kembali disorot karena ia menekankan pentingnya skrining kanker dan keberanian untuk mencari pendapat kedua.

Dalam wawancara dengan PEOPLE, aktris berusia 57 tahun itu mengaku langsung mengambil tindakan ketika dokter menyebut benjolan di payudaranya sebagai kanker. Saat itu, tidak ada pemeriksaan lanjutan seperti ultrasound atau mammogram yang dilakukan sebelum keputusan operasi dibuat. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Liu tentang arti informasi kesehatan yang akurat. Ia kini menggunakan suaranya untuk mendorong masyarakat lebih aktif menjaga kesehatan diri.

Pengalaman Lucy Liu

Lucy Liu mengatakan, benjolan di payudaranya pertama kali ditemukan saat ia memeriksakan diri ke dokter pada era 1990-an. Dokter yang memeriksa lalu menyampaikan bahwa benjolan itu merupakan kanker. Tanpa pemeriksaan tambahan, ia menerima penjelasan tersebut sebagai diagnosis resmi. Karena pada masa itu internet belum tersedia luas, ia merasa tidak memiliki banyak pilihan lain.

Bintang Devil Wears Prada 2 itu kemudian segera menjadwalkan operasi untuk mengangkat benjolan tersebut. Keputusan itu diambil setelah ia percaya penuh pada saran medis yang diterimanya. Namun, setelah tindakan dilakukan, ia mengetahui bahwa benjolan tersebut bukan kanker. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa diagnosis awal tidak selalu tepat.

Dalam penuturannya, Liu menyebut situasi itu terasa menakutkan karena ia tidak memiliki akses informasi yang memadai. Ia juga mengaku tidak terlalu banyak mempertanyakan langkah medis yang disarankan kepadanya. Menurutnya, kondisi saat itu sangat berbeda dengan sekarang, ketika informasi kesehatan lebih mudah diakses. Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik penting dalam cara pandangnya terhadap kesehatan.

Belajar Membela Diri

Beberapa dekade kemudian, Lucy Liu menilai pengalamannya itu sebagai awal dari pemahaman tentang pentingnya membela diri sendiri. Ia menyadari bahwa menerima diagnosis tanpa bertanya lebih jauh bisa berisiko, terutama jika informasi yang tersedia terbatas. Meski ada teman yang menyarankan pendapat kedua, ia saat itu memilih mengikuti arahan dokter. Dari situ, ia memahami bahwa sikap kritis terhadap kesehatan sangat diperlukan.

Liu mengatakan, kala itu ia berpikir dokter tentu mengetahui apa yang mereka lakukan. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, ia melihat pentingnya pasien ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan medis. Menurutnya, bertanya dan meminta penjelasan bukan berarti tidak percaya pada tenaga kesehatan. Sebaliknya, hal itu merupakan bagian dari upaya melindungi diri sendiri.

Ia juga menilai pengalaman pribadi dapat menjadi pengingat bagi banyak orang untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh. Benjolan, rasa nyeri, atau perubahan pada tubuh sebaiknya tidak diabaikan begitu saja. Pemeriksaan dini memberi peluang lebih besar untuk mengetahui kondisi kesehatan secara tepat. Dengan begitu, keputusan medis dapat diambil berdasarkan data yang lebih lengkap.

Kampanye Skrining Kanker

Saat ini, Lucy Liu bekerja sama dengan Pfizer untuk kampanye Every Breakthrough Matters atau Setiap Terobosan Penting. Kampanye tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini melalui skrining kanker. Ia ingin pengalaman pribadinya menjadi dorongan bagi orang lain untuk lebih peduli pada kesehatan. Menurutnya, informasi yang benar dapat membantu orang mengambil keputusan yang lebih baik.

Liu menegaskan bahwa kampanye itu bukan sekadar tentang memperbaiki masalah kesehatan setelah terjadi. Fokus utamanya adalah memahami apa itu skrining dan mengapa pemeriksaan dini begitu penting. Ia menilai advokasi kesehatan harus dimulai dari keberanian untuk mencari tahu. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat dapat lebih siap menghadapi risiko penyakit.

Aktris tersebut juga menyoroti bahwa banyak orang sebenarnya memiliki akses teknologi, tetapi tetap menunda pemeriksaan. Sebagian merasa takut mengetahui hasilnya, sementara yang lain terlalu sibuk untuk memeriksakan diri. Kondisi itu, menurut Liu, membuat skrining sering diabaikan. Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk tidak menunggu gejala menjadi lebih serius.

Pentingnya Deteksi Dini

Pengalaman Lucy Liu menjadi gambaran bahwa deteksi dini tidak hanya bergantung pada tindakan medis, tetapi juga pada keberanian pasien untuk bertanya. Pemeriksaan lanjutan seperti ultrasound atau mammogram dapat membantu memberikan gambaran yang lebih jelas. Langkah ini penting agar diagnosis tidak hanya berdasarkan pemeriksaan fisik semata. Dalam banyak kasus, ketepatan diagnosis sangat menentukan arah penanganan.

Kasus ini juga menunjukkan bahwa informasi kesehatan yang memadai dapat mengubah cara seseorang merespons gejala. Saat masyarakat memahami pilihan pemeriksaan yang tersedia, mereka dapat lebih aktif dalam menjaga kesehatannya. Pendapat kedua dari tenaga medis lain pun dapat menjadi pertimbangan penting. Sikap tersebut membantu mengurangi risiko keputusan yang terburu-buru.

Melalui kisahnya, Lucy Liu berharap lebih banyak orang berani menjadi pendukung terbesar bagi diri sendiri. Ia ingin masyarakat tidak ragu mencari informasi, meminta penjelasan, dan menjalani skrining bila diperlukan. Menurutnya, kesehatan adalah tanggung jawab yang perlu dihadapi dengan kesadaran penuh. Pesan itu menjadi inti dari advokasinya hari ini.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!