Limbah Daun Nanas Disulap Jadi Serat Ekspor

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 22 Mei 2026 18:16 WIB 5
Limbah Daun Nanas Disulap Jadi Serat Ekspor

Bagi banyak petani, daun nanas selama ini dianggap limbah yang tidak bernilai dan kerap dibakar setelah panen. Namun, bagi Alan Sahroni, sisa tanaman itu justru menjadi bahan baku bisnis bernilai tinggi yang menggerakkan ekonomi petani. Melalui Alfiber, ia mengolah daun nanas menjadi serat dan mengekspornya ke sejumlah negara, termasuk Singapura, Malaysia, Jerman, hingga Jepang.

Serat daun nanas yang dihasilkan Alfiber dapat digunakan untuk tekstil, fesyen, dan kerajinan. Inovasi ini lahir dari pengamatan Alan terhadap potensi Subang sebagai daerah penghasil nanas yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dari bahan yang semula dibuang, ia membangun rantai usaha yang kini dikenal di pasar internasional.

Daun Nanas Jadi Serat

Perjalanan Alan dimulai pada 2013 saat ia mengikuti lomba business plan nasional untuk memenuhi syarat pengambilan ijazah. Saat itu, ia merupakan mahasiswa STT Tekstil Bandung penerima beasiswa dari Kementerian Perindustrian. Dari tugas akademik tersebut, ia justru menemukan peluang usaha yang kemudian berkembang menjadi bisnis nyata.

Alan melihat bahwa nanas di Subang tidak hanya unggul pada buahnya, tetapi juga pada daun yang menyimpan serat kuat. Ia menilai serat tersebut berpotensi diolah menjadi bahan baku kain, produk fashion, hingga kerajinan. Temuan itu menjadi dasar pengembangan Alfiber sebagai pelaku usaha berbasis limbah pertanian.

Setelah memenangkan lomba, Alan memperoleh fasilitas untuk membuat mesin pengolah daun nanas menjadi serat. Karena belum ada mesin serupa di pasaran, ia bersama dosen merancang dekortikator dari nol. Mesin itu kemudian menjadi tulang punggung produksi serat daun nanas yang dijalankan secara komersial.

Mesin Buatan Sendiri

Produksi komersial Alfiber mulai berjalan pada 2013, meski pasar saat itu belum mengenal serat daun nanas. Kondisi tersebut membuat Alan harus membangun edukasi pasar dari awal. Ia memanfaatkan blog gratis untuk memperkenalkan produk dan menjangkau calon pembeli.

Upaya itu perlahan membuahkan hasil ketika perhatian datang dari akademisi, mahasiswa, dan media nasional. Publik mulai melihat bahwa serat daun nanas bukan sekadar inovasi, tetapi juga solusi pemanfaatan limbah. Dari sana, Alfiber mendapat ruang untuk memperluas jaringan usaha.

Selain menjual serat siap olah, Alfiber juga menawarkan paket produksi lengkap yang berisi mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin. Produk tersebut banyak dipesan pelaku industri kecil serta universitas yang membutuhkan mesin mini untuk laboratorium. Model bisnis ini membuat usaha Alan tidak hanya menjual bahan baku, tetapi juga teknologi pengolahannya.

Pasar Tumbuh Dari Edukasi

Alan menyebut tantangan terbesar pada awal usaha bukan pada produksi, melainkan pemasaran. Serat daun nanas termasuk produk baru, sehingga banyak pihak belum memahami kegunaan dan nilainya. Ia pun harus menjelaskan manfaat produk secara berulang kepada calon pembeli.

Seiring waktu, pasar mulai menerima produk tersebut karena penggunaannya cukup luas. Serat daun nanas dapat diolah menjadi bahan tekstil, fesyen, maupun produk kerajinan. Nilai tambah itulah yang membuat limbah pertanian berubah menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Keberhasilan pemasaran juga didorong oleh konsistensi Alan dalam mengembangkan produk dan memperluas jaringan. Ia tidak hanya mengandalkan penjualan, tetapi juga memperkuat edukasi mengenai proses pengolahan serat. Pendekatan itu membantu Alfiber bertahan di tengah pasar yang semula ragu terhadap produk baru.

Ekspor Tembus Mancanegara

Pencapaian penting Alfiber terjadi pada 2021 ketika berhasil mengekspor serat daun nanas ke Singapura di tengah pandemi COVID-19. Pengiriman dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan stok dan kebutuhan pembeli. Dalam periode itu, total ekspor ke Negeri Singa mencapai 1,2 ton.

Alan menjelaskan bahwa pengiriman pada masa pandemi berjalan dengan penyesuaian, termasuk saat barang harus menunggu proses karantina. Meski begitu, transaksi tetap berlangsung dan produk berhasil diterima pasar luar negeri. Harga jual serat tersebut mencapai Rp187 ribu per kilogram.

Ekspor itu menjadi bukti bahwa produk berbasis limbah pertanian memiliki peluang besar di pasar global. Selain meningkatkan nilai ekonomi, usaha ini juga membuka manfaat langsung bagi petani nanas. Dari daun yang dulu dibakar, tercipta sumber cuan yang kini menembus batas negara.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!