Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 01:01 WIB 2
Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan sehari-hari. Sejumlah makanan diketahui dapat meningkatkan risiko kanker tertentu, terutama jika dikonsumsi berlebihan dan berlangsung lama. Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa sebagian besar risiko kanker pada orang dewasa berasal dari lingkungan, gaya hidup, kebiasaan, serta paparan yang masuk ke tubuh. Karena itu, pemahaman terhadap faktor risiko menjadi langkah penting untuk pencegahan.

Data dan kajian dari berbagai sumber menunjukkan bahwa makanan tertentu dapat memicu obesitas, diabetes tipe 2, hingga pembentukan senyawa karsinogenik. Kondisi tersebut kemudian berkaitan dengan meningkatnya risiko beberapa jenis kanker. Berikut makanan yang perlu diwaspadai karena berpotensi memberi dampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.

Makanan Pemicu Kanker

Daging olahan menjadi salah satu kelompok makanan yang paling sering dikaitkan dengan risiko kanker. Jenis makanan ini mencakup sosis, kornet sapi, ham, dan hot dog yang telah diawetkan dengan cara diasap, diasinkan, atau dikalengkan. Proses pengolahan tersebut dapat menghasilkan senyawa karsinogen, termasuk N-nitroso dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon. Sebuah ulasan pada 2019 juga menyebut daging merah atau olahan dapat meningkatkan risiko kanker lambung.

Makanan yang digoreng juga perlu dibatasi, terutama jika berbahan tepung dan dimasak pada suhu tinggi. Proses ini dapat memunculkan akrilamida, yang ditemukan pada kentang goreng dan keripik kentang. Studi pada 2020 menyatakan akrilamida dapat merusak DNA dan memicu kematian sel. Selain itu, konsumsi berlebihan makanan gorengan dapat meningkatkan obesitas dan diabetes tipe 2 yang berkaitan dengan risiko kanker.

Makanan yang terlalu matang pun berpotensi membahayakan karena dapat menghasilkan PAH dan heterocyclic amines. Zat tersebut muncul saat daging dimasak pada suhu sangat tinggi atau terlalu lama. FDA juga menyebutkan bahwa memasak makanan bertepung terlalu lama dapat meningkatkan pembentukan akrilamida. Untuk menekan risikonya, masyarakat dapat memilih teknik memasak yang lebih aman, seperti merebus perlahan, memakai panci presto, atau memasak dengan suhu lebih rendah.

Makanan Manis dan Olahan

Makanan manis dan karbohidrat olahan tidak secara langsung menyebabkan kanker, tetapi dapat meningkatkan faktor risiko lain. Contohnya adalah roti putih, nasi putih, dan sereal manis yang cenderung tinggi gula serta pati. Konsumsi berlebihan dapat memicu kenaikan berat badan dan diabetes tipe 2. Dua kondisi ini berhubungan dengan peradangan dan stres oksidatif yang dapat meningkatkan risiko kanker tertentu.

Sebuah tinjauan pada 2019 menyebut diabetes tipe 2 dapat berkaitan dengan kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Karena itu, pemilihan sumber karbohidrat menjadi bagian penting dalam pola makan sehat. Masyarakat disarankan mengganti roti putih dengan roti gandum utuh, atau nasi putih dengan beras merah. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil.

Asupan gula berlebih juga perlu dikendalikan karena dapat mendorong kebiasaan makan yang kurang seimbang. Jika konsumsi makanan manis terus berlanjut, risiko obesitas akan semakin meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memperbesar peluang munculnya penyakit kronis. Pola makan yang lebih terukur akan lebih aman dibanding kebiasaan mengonsumsi makanan olahan secara rutin.

Alkohol dan Kerusakan Sel

Alkohol termasuk zat yang patut diwaspadai karena dapat dipecah hati menjadi asetaldehida. Senyawa ini bersifat karsinogenik dan dapat meningkatkan kerusakan DNA. Tinjauan pada 2017 menyebut asetaldehida juga memicu stres oksidatif. Kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan tubuh mengenali sel prakanker dan kanker.

Selain menimbulkan kerusakan sel, alkohol dapat melemahkan fungsi kekebalan tubuh. Akibatnya, tubuh menjadi kurang efektif dalam melawan pertumbuhan sel abnormal. Risiko tersebut semakin besar jika konsumsi dilakukan secara rutin dalam jumlah tinggi. Karena itu, pembatasan asupan alkohol menjadi bagian penting dari pencegahan kanker.

Para ahli kesehatan umumnya mendorong masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih asupan harian. Langkah sederhana seperti mengurangi makanan olahan, gorengan, dan minuman beralkohol dapat memberi dampak besar bagi kesehatan. Kebiasaan makan yang lebih seimbang juga membantu menekan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Dengan pola hidup yang lebih baik, upaya pencegahan kanker dapat dilakukan sejak dini.

Langkah Makan Lebih Aman

Pencegahan kanker melalui makanan dapat dimulai dari kebiasaan yang paling mudah dilakukan. Masyarakat dapat memperbanyak bahan pangan segar, serat, serta sumber protein yang tidak diproses berlebihan. Pilihan makanan yang lebih alami cenderung mengurangi paparan zat berbahaya. Cara ini juga membantu menjaga berat badan tetap ideal.

Metode memasak ikut menentukan kualitas makanan yang dikonsumsi. Memasak dengan suhu terlalu tinggi sebaiknya dihindari agar senyawa karsinogen tidak mudah terbentuk. Teknik seperti merebus, mengukus, atau memasak perlahan dapat menjadi alternatif yang lebih aman. Kebiasaan tersebut juga membantu mempertahankan nilai gizi makanan.

Perubahan kecil dalam pola makan dapat memberi perlindungan jangka panjang bagi tubuh. Masyarakat perlu memahami bahwa risiko kanker tidak hanya dipengaruhi faktor keturunan, tetapi juga gaya hidup harian. Dengan memilih makanan yang lebih sehat, risiko berbagai penyakit kronis dapat ditekan. Kesadaran sejak dini menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!