Jungkook BTS Ungkap Diet OMAD, Ini Penjelasannya

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 02:22 WIB 2
Jungkook BTS Ungkap Diet OMAD, Ini Penjelasannya

Jungkook BTS mengungkapkan bahwa dirinya menjalani pola makan OMAD atau One Meal A Day, yakni hanya makan satu kali dalam sehari. Pengakuan itu disampaikan dalam wawancara bersama Rolling Stone UK, saat ia juga menyebut rutin berolahraga pada pagi dan sore hari.

Diet OMAD menjadi perhatian karena dikaitkan dengan penurunan berat badan dan pola hidup teratur. Meski demikian, metode ini tidak cocok untuk semua orang, sehingga pemahaman yang tepat diperlukan sebelum mengikuti pola makan serupa.

Diet OMAD Jungkook BTS

Jungkook menjelaskan bahwa ia sedang diet dan hanya makan satu kali dalam sehari. Ia mengaku menantikan waktu makan tersebut karena menjadi satu-satunya momen untuk mengisi energi. Kebiasaan ini membuat publik penasaran terhadap pola makan yang dijalankannya. OMAD pun kembali ramai dibahas di kalangan penggemar dan pemerhati kesehatan.

Dalam wawancara itu, Jungkook juga menuturkan bahwa ia berolahraga dua kali sehari. Rutinitas tersebut menunjukkan bahwa pola dietnya tidak berdiri sendiri, melainkan disertai aktivitas fisik yang konsisten. Kombinasi itu diduga menjadi bagian dari upaya menjaga kebugaran. Namun, hasilnya dapat berbeda pada setiap orang.

Istilah OMAD merujuk pada metode makan satu kali dalam jangka waktu tertentu. Pola ini termasuk bagian dari puasa intermiten yang membatasi asupan kalori dalam sehari. Karena durasi makan sangat singkat, tubuh cenderung menerima kalori lebih sedikit. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan penurunan berat badan.

Cara kerja diet OMAD

Diet OMAD pada dasarnya adalah bentuk puasa yang dilakukan dalam waktu panjang. Seseorang menahan diri dari makanan dan minuman berkalori selama hampir sepanjang hari. Asupan hanya diberikan pada satu waktu makan yang dipilih. Durasi makan biasanya berlangsung sekitar satu jam.

Beberapa orang memilih makan malam sebagai satu-satunya waktu makan. Sebagian lainnya memilih sarapan atau makan siang, sesuai kebutuhan dan jadwal harian. Dalam beberapa versi, camilan kecil masih diperbolehkan. Namun, banyak pelaku OMAD yang benar-benar menghindari kalori di luar waktu makan.

Metode ini bekerja dengan cara menciptakan defisit kalori secara alami. Saat asupan lebih rendah daripada kebutuhan tubuh, berat badan dapat turun. Karena itu, OMAD sering dipilih oleh mereka yang ingin mengontrol porsi makan. Meski begitu, pengawasan gizi tetap penting agar kebutuhan nutrisi tercukupi.

Manfaat diet OMAD

Salah satu alasan OMAD diminati adalah potensi membantu penurunan berat badan. Dengan hanya makan sekali, banyak orang secara otomatis mengonsumsi lebih sedikit kalori. Pola ini juga dianggap memudahkan sebagian orang dalam mengatur jadwal makan. Bagi yang disiplin, OMAD bisa menjadi cara sederhana mengurangi kebiasaan ngemil.

Sejumlah penelitian pada puasa intermiten menunjukkan adanya peluang penurunan lemak tubuh. Sebuah studi yang dikutip dari Healthline menyebut pembatasan asupan kalori dalam jendela empat jam dapat menurunkan lemak tubuh lebih besar dibanding makan tiga kali sehari. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa waktu makan dapat memengaruhi respons tubuh. Namun, temuan ini tidak otomatis berlaku untuk semua individu.

Selain berat badan, sebagian orang menilai OMAD membantu mereka lebih fokus pada pola makan. Saat waktu makan terbatas, pilihan makanan cenderung dibuat lebih terencana. Hal ini dapat mendorong disiplin dalam konsumsi harian. Akan tetapi, manfaat tersebut tetap bergantung pada kualitas makanan yang dikonsumsi.

Risiko diet OMAD

Meskipun terlihat praktis, OMAD memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Makan hanya satu kali dapat membuat sebagian orang kekurangan energi, terutama jika aktivitas harian cukup tinggi. Tubuh juga berisiko tidak memperoleh protein, vitamin, dan mineral yang memadai. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang.

Diet yang terlalu ketat juga bisa memicu rasa lapar berlebihan saat waktu makan tiba. Akibatnya, sebagian orang justru makan terlalu banyak dalam satu kesempatan. Pola seperti ini dapat mengganggu kenyamanan pencernaan. Dalam jangka tertentu, kebiasaan tersebut bisa menyulitkan pengendalian berat badan.

Ahli gizi umumnya menekankan bahwa pola makan harus disesuaikan dengan kondisi tubuh. Orang dengan penyakit tertentu, ibu hamil, remaja, dan individu dengan riwayat gangguan makan perlu berhati-hati. Konsultasi medis sangat disarankan sebelum mencoba OMAD. Dengan begitu, risiko bisa ditekan dan tujuan kesehatan tetap aman.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!