Sarden Kalengan Viral: UPF atau Bukan?

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 03:24 WIB 2
Sarden Kalengan Viral: UPF atau Bukan?

Media sosial tengah diramaikan oleh perdebatan soal sarden kalengan dan produk sejenis yang disebut bukan termasuk Ultra Processed Food atau UPF. Diskusi ini memicu perubahan pandangan banyak orang, dari yang semula menganggap makanan kalengan kurang sehat menjadi lebih positif setelah label UPF tidak lagi disematkan. Lalu, apakah benar UPF otomatis tidak sehat dan non-UPF selalu lebih baik.

Secara umum, ikan kalengan tetap masuk kategori makanan olahan karena melewati proses pemanasan, pengawetan, dan pengemasan. Proses tersebut membuat produk lebih tahan lama, lebih praktis, dan mudah disimpan. Namun, status olahan tidak selalu identik dengan buruk, karena komposisi dan cara pengolahannya sangat menentukan.

Sarden Kalengan dan UPF

Istilah UPF sering dikaitkan dengan makanan yang melalui proses industri lebih jauh, dengan penambahan bahan yang tidak umum digunakan di dapur rumah. Dalam klasifikasi NOVA, bahan seperti pengawet, penguat rasa, pengental, dan pengemulsi memang kerap menjadi penanda produk ultra olahan. Meski begitu, tidak semua makanan kalengan otomatis masuk kategori tersebut.

Pada sarden kalengan, bahan utama tetap ikan, baik sarden, makarel, maupun tuna. Komposisi ikan di sejumlah produk bisa mencapai 60 persen, tetapi ada pula yang hanya berada di kisaran 20 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kualitas produk sangat bergantung pada merek dan formula yang digunakan.

Pengolahan kaleng dilakukan untuk menjaga keamanan pangan dan memperpanjang daya simpan. Sterilisasi suhu tinggi membantu menekan pertumbuhan mikroorganisme sehingga produk tetap aman selama penyimpanan. Karena itu, makanan kalengan tidak bisa disamakan begitu saja dengan makanan ultra olahan yang komposisinya jauh lebih kompleks.

Isi Nutrisi Sarden Kalengan

Selain ikan, produk sarden kalengan biasanya mengandung air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan rempah. Dalam beberapa produk, susunannya masih relatif sederhana dan menyerupai bahan masakan rumahan. Kondisi ini membuat sebagian sarden kalengan tetap dekat dengan konsep makanan olahan biasa.

Minyak dipakai untuk menjaga tekstur ikan agar tetap lembut setelah proses sterilisasi. Saus tomat berfungsi bukan hanya sebagai penambah rasa, tetapi juga membantu kestabilan produk selama penyimpanan. Sementara itu, garam natrium berperan penting dalam memperkuat rasa dan memperpanjang masa simpan.

Dari sisi konsumsi, sarden kalengan dapat menjadi sumber protein yang praktis. Namun, konsumen tetap perlu memperhatikan kadar natrium, gula, dan minyak yang terkandung di dalamnya. Pemilihan produk dengan komposisi lebih sederhana umumnya lebih disarankan untuk konsumsi harian.

Bahan Tambahan dan Fungsinya

Pada beberapa merek, ditemukan bahan tambahan seperti natrium benzoat yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroba. Ada pula MSG atau mononatrium L-glutamat yang dipakai untuk memperkuat cita rasa gurih. Bahan-bahan ini sering memunculkan kesan bahwa produk tersebut lebih dekat ke UPF.

Selain itu, terdapat pati termodifikasi atau modified starch untuk membuat saus lebih kental dan tidak mudah terpisah. Pengatur keasaman seperti asam sitrat juga digunakan untuk menjaga stabilitas rasa dan kondisi produk. Beberapa produk bahkan menambahkan gum sebagai pengental atau pengemulsi.

Meski terdengar lebih teknis, penggunaan bahan tambahan pangan tetap berada dalam pengawasan regulasi. Artinya, tidak semua bahan tambahan otomatis berbahaya selama digunakan sesuai batas aman. Yang perlu dicermati adalah frekuensi konsumsi, porsi, dan keseluruhan pola makan.

Cara Menilai Produk Kalengan

Konsumen disarankan membaca label komposisi sebelum membeli sarden kalengan. Semakin pendek dan mudah dikenali daftar bahannya, biasanya semakin sederhana formulanya. Langkah ini membantu membedakan produk yang relatif natural dari yang lebih banyak memakai aditif.

Perhatikan juga kandungan natrium, gula, dan jenis minyak yang digunakan. Produk dengan kandungan garam tinggi sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan, terutama oleh orang dengan tekanan darah tinggi. Jika ingin pilihan yang lebih baik, produk dengan ikan lebih banyak dan saus yang tidak terlalu manis bisa menjadi pertimbangan.

Pada akhirnya, label UPF tidak bisa dijadikan satu-satunya penentu sehat atau tidak sehatnya makanan. Yang lebih penting adalah komposisi, porsi konsumsi, dan keseimbangan menu harian. Dengan pemahaman ini, sarden kalengan bisa dinilai secara lebih adil, tanpa terjebak pada anggapan yang terlalu sederhana.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!