Lima Makanan yang Dapat Memicu Risiko Kanker

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 00:41 WIB 2
Lima Makanan yang Dapat Memicu Risiko Kanker

Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan, gaya hidup, dan lingkungan. Sejumlah makanan diketahui dapat meningkatkan risiko kanker tertentu karena memicu obesitas, diabetes tipe 2, atau paparan senyawa berbahaya. Karena itu, pemilihan makanan sehari-hari menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan. Pemahaman yang tepat dapat membantu masyarakat mengurangi risiko sejak dini.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menilai faktor risiko kanker pada orang dewasa sebagian besar berasal dari gaya hidup dan lingkungan. Ia menyebut sekitar 95 persen risiko kanker berkaitan dengan faktor dari luar tubuh, termasuk kebiasaan makan. Temuan itu sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan hubungan antara pola makan tertentu dan meningkatnya risiko kanker. Dengan demikian, pengaturan konsumsi harian perlu menjadi perhatian utama.

Kanker dan daging olahan

Daging olahan menjadi salah satu kelompok makanan yang paling sering dikaitkan dengan risiko kanker. Produk seperti sosis, kornet, ham, dan hot dog umumnya diawetkan dengan cara diasap, diasinkan, atau dikalengkan. Proses tersebut dapat membentuk senyawa karsinogen, terutama jika menggunakan nitrit atau pengasapan. Dalam jangka panjang, konsumsi berlebihan berpotensi meningkatkan risiko kanker lambung.

Sejumlah penelitian juga menyoroti hubungan antara daging merah olahan dan gangguan kesehatan metabolik. Bahan pengawet yang dipakai dalam proses produksi dapat membentuk senyawa N-nitroso, yang bersifat berbahaya bagi tubuh. Asap dari pengolahan daging pun dapat menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon atau PAH. Meski begitu, para peneliti masih menilai perlunya studi lanjutan untuk memperjelas kaitan pastinya.

Di sisi lain, pembatasan konsumsi daging olahan dapat menjadi langkah pencegahan yang sederhana namun efektif. Masyarakat disarankan memperbanyak sumber protein yang lebih segar, seperti ikan, tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Pilihan ini tidak hanya membantu menurunkan paparan senyawa karsinogen, tetapi juga mendukung pola makan yang lebih seimbang. Perubahan kecil dalam menu harian dapat memberi dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.

Kanker dan cara memasak

Cara memasak juga berpengaruh terhadap terbentuknya zat berbahaya dalam makanan. Saat makanan bertepung dimasak pada suhu tinggi, akrilamida dapat terbentuk, terutama saat menggoreng, memanggang, atau membakar. Senyawa ini banyak ditemukan pada kentang goreng dan keripik kentang. Pada penelitian tertentu, akrilamida disebut memiliki sifat karsinogenik.

Pemanasan berlebihan pada daging juga dapat memunculkan zat lain yang berisiko, yaitu heterocyclic amines atau HCA dan PAH. Kedua senyawa tersebut dapat merusak DNA sel tubuh dan memicu perubahan yang tidak diinginkan. FDA turut mengingatkan bahwa makanan bertepung yang dimasak terlalu lama dapat meningkatkan pembentukan akrilamida. Karena itu, teknik memasak yang lebih lembut menjadi pilihan yang lebih aman.

Metode seperti merebus perlahan, menggunakan panci presto, atau memasak dengan suhu lebih rendah dapat membantu menekan risiko. Slow cooker juga bisa menjadi alternatif untuk menjaga kualitas makanan tanpa pembentukan senyawa berbahaya yang berlebihan. Selain itu, membalik daging secara teratur saat dipanggang dapat mengurangi gosong pada permukaan makanan. Kebiasaan memasak yang lebih hati-hati akan membantu menjaga kesehatan keluarga.

Kanker dan gula berlebih

Makanan manis dan karbohidrat olahan sering kali dipandang sepele, padahal dampaknya cukup besar bagi kesehatan. Roti putih, nasi putih, dan sereal manis termasuk contoh makanan yang cepat meningkatkan gula darah. Konsumsi berlebihan dapat memicu obesitas dan diabetes tipe 2. Dua kondisi tersebut diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker tertentu.

Diabetes tipe 2 dapat memicu peradangan dan stres oksidatif dalam tubuh. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang lebih mendukung pertumbuhan sel abnormal. Sebuah tinjauan pada 2019 menyebut diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Karena itu, pengendalian asupan gula menjadi bagian penting dari pencegahan kanker.

Alternatif yang lebih baik adalah memilih karbohidrat kompleks, seperti roti gandum utuh, pasta gandum utuh, dan beras merah. Bahan makanan tersebut cenderung lebih tinggi serat dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Selain membantu mengontrol gula darah, pilihan ini juga mendukung kesehatan pencernaan. Pola makan yang lebih seimbang akan memberi perlindungan ganda bagi tubuh.

Kanker dan alkohol

Alkohol juga termasuk faktor yang tidak boleh diabaikan dalam kaitannya dengan kanker. Saat masuk ke dalam tubuh, alkohol dipecah oleh hati menjadi asetaldehida, senyawa yang bersifat karsinogenik. Proses ini dapat meningkatkan kerusakan DNA dan memicu stres oksidatif. Dalam jangka panjang, dampaknya dapat memperbesar peluang munculnya sel kanker.

Tinjauan pada 2017 menunjukkan asetaldehida juga dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, tubuh menjadi lebih sulit mengenali dan menargetkan sel prakanker maupun sel kanker. Risiko ini semakin besar bila konsumsi alkohol berlangsung terus-menerus. Oleh sebab itu, pembatasan atau penghentian konsumsi alkohol menjadi langkah pencegahan yang penting.

Upaya mengurangi risiko kanker tidak selalu membutuhkan perubahan besar secara instan. Langkah sederhana seperti memilih makanan segar, menghindari masakan yang terlalu gosong, dan membatasi gula dapat memberi manfaat nyata. Jika perlu, masyarakat dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menyesuaikan pola makan yang lebih aman. Kesadaran sejak dini akan membantu menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!