Kuasa Hukum Erin Klaim CCTV Ungkap Fakta Berbeda

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 15:47 WIB 3
Kuasa Hukum Erin Klaim CCTV Ungkap Fakta Berbeda

Kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan Rien Wartia Trigina atau Erin terhadap mantan asisten rumah tangganya, Herawati, memasuki babak baru setelah kuasa hukum mengklaim menemukan fakta berbeda dari rekaman kamera pengawas. Temuan itu disebut memperlihatkan kondisi terbalik dari narasi yang selama ini disampaikan pihak pelapor, sehingga menjadi dasar bagi Erin untuk menyiapkan pembelaan hukum. Rekaman CCTV dari sejumlah titik di rumah disebut menjadi bukti utama yang akan ditelaah lebih lanjut.

Kuasa hukum Erin menyampaikan bahwa visual dalam rekaman justru menunjukkan adanya tindakan penarikan paksa terhadap klien mereka saat perselisihan terjadi. Mereka menilai bukti tersebut penting untuk menilai ulang dugaan kekerasan fisik yang sebelumnya diarahkan kepada Erin. Kasus ini kini bergeser dari sekadar adu klaim menjadi pertarungan pembuktian berbasis rekaman.

CCTV jadi bukti utama

Tim kuasa hukum Erin menyatakan telah memeriksa rekaman dari induk recorder CCTV yang terpasang di 12 titik rumah. Mereka menilai rekaman itu merekam rangkaian peristiwa yang tidak sejalan dengan tuduhan awal dari mantan ART. Karena itu, bukti visual tersebut ditempatkan sebagai dasar utama pembelaan.

Farhanaz Maharani mengatakan hasil penelusuran CCTV justru memperlihatkan tangan Erin ditarik secara paksa oleh Herawati. Menurutnya, kondisi itu terjadi ketika keduanya berada di rumah dan situasi memanas. Ia menegaskan, gambaran tersebut berbeda dari tuduhan yang berkembang di ruang publik.

Kuasa hukum menilai tindakan penarikan paksa itu dapat masuk dalam unsur kekerasan fisik. Mereka menyebut, peristiwa tersebut tidak bisa dipandang sebagai kejadian biasa karena terjadi di dalam lingkungan kediaman klien mereka. Oleh sebab itu, mereka menegaskan akan menggunakan rekaman tersebut dalam proses hukum.

Selain itu, pihak Erin juga meminta agar publik tidak hanya mengandalkan narasi sepihak. Mereka mengajak semua pihak menunggu penilaian yang lebih objektif terhadap bukti yang ada. Menurut mereka, CCTV memberi gambaran yang lebih utuh tentang apa yang benar-benar terjadi.

Narasi pelapor dipersoalkan

Kuasa hukum Erin menyoroti adanya perbedaan antara keterangan Herawati di media dan hasil pengamatan mereka atas rekaman. Mereka menyebut mantan ART itu sempat berteriak meminta tolong, namun di saat yang sama melakukan kontak fisik yang kasar. Bagi pihak Erin, kondisi tersebut menunjukkan situasi yang tidak sesederhana yang digambarkan sebelumnya.

Adlina Amalia mengatakan pihaknya akan melanjutkan penelusuran lebih jauh terkait peristiwa itu. Ia menilai ada indikasi Herawati menarik tangan Erin secara paksa ketika kejadian berlangsung. Menurutnya, fakta itu patut menjadi perhatian dalam penyelidikan lanjutan.

Tim kuasa hukum juga menilai ada kontradiksi antara tuduhan dan visual yang terekam. Mereka menyebut, jika memang terjadi kekerasan berat seperti pencekikan atau penodongan pisau, maka jejak fisik seharusnya dapat terlihat lebih jelas. Namun, mereka mengklaim kondisi yang terlihat tidak mendukung tuduhan tersebut.

Karena itu, pihak Erin menganggap narasi yang beredar perlu diuji dengan bukti objektif. Mereka menekankan pentingnya verifikasi sebelum publik menarik kesimpulan. Menurut mereka, rekaman kamera pengawas jauh lebih kuat dibandingkan asumsi yang berkembang di luar proses hukum.

Kondisi pelapor ikut disorot

Selain membahas rekaman CCTV, kuasa hukum Erin juga menyoroti kondisi fisik Herawati setelah kejadian. Mereka menilai tidak terlihat tanda cedera serius yang sejalan dengan tuduhan penganiayaan berat. Pandangan itu disampaikan untuk mendorong penilaian yang lebih cermat terhadap laporan yang masuk.

Stivany Agusia mempertanyakan apakah mantan ART tersebut benar-benar mengalami luka parah seperti yang diduga. Ia menyebut kondisi pelapor dapat dinilai langsung oleh masyarakat melalui informasi yang tersedia. Menurutnya, hasil pengamatan itu penting agar tidak muncul asumsi yang keliru.

Pihak Erin menilai perbedaan antara klaim kekerasan berat dan kondisi fisik pelapor menjadi hal yang perlu ditelusuri. Mereka tidak ingin ada kesimpulan yang terburu-buru sebelum seluruh bukti diperiksa. Dalam pandangan mereka, objektivitas harus menjadi dasar utama penanganan perkara ini.

Kuasa hukum juga mengingatkan agar tuduhan yang dilemparkan tidak justru berbalik merugikan pihak pelapor sendiri. Mereka menilai setiap pernyataan harus dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Karena itu, bukti visual dan kondisi fisik dinilai sama-sama penting dalam membaca perkara ini.

Langkah hukum Erin

Pihak Erin memastikan akan menindaklanjuti temuan rekaman CCTV secara serius sebagai bagian dari pembelaan diri. Mereka meyakini bukti dari 12 kamera pengawas itu akan membantu mengungkap fakta sebenarnya. Proses hukum pun diperkirakan akan menjadi ruang utama untuk menguji semua klaim yang ada.

Farhanaz menyebut temuan tersebut menjadi titik berat pembelaan dalam laporan yang disiapkan. Ia menegaskan, fokus mereka adalah menunjukkan bahwa kliennya justru menjadi pihak yang mengalami tindakan paksa. Dengan demikian, arah pembelaan akan diarahkan pada pembuktian visual.

Tim hukum Erin juga berencana menempuh langkah lanjutan sesuai prosedur yang berlaku. Mereka akan mengkaji detail setiap rekaman untuk memastikan kronologi kejadian dapat dijelaskan secara utuh. Menurut mereka, kejelasan bukti sangat menentukan arah perkara ini.

Di tengah polemik yang berkembang, pihak Erin meminta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan yang lebih komprehensif. Mereka berharap proses hukum dapat memisahkan fakta dari asumsi. Dengan begitu, kasus ini bisa diselesaikan berdasarkan bukti, bukan persepsi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!