Laporan terbaru Ookla menyoroti kualitas internet di hotel-hotel mewah sekitar Makkah dan Madinah, yang menjadi tempat menginap jutaan jemaah dari berbagai negara. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan besar dalam performa jaringan, terutama saat kebutuhan komunikasi dan layanan digital semakin tinggi. Akses internet kini tidak lagi dipandang sebagai fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan utama selama ibadah berlangsung. Kondisi tersebut membuat stabilitas jaringan hotel menjadi perhatian serius pada musim haji.
Dalam analisis itu, hanya tiga dari 16 hotel mewah yang diteliti mampu mencatat kecepatan unduh median di atas 100 Mbps. Swissôtel Makkah berada di posisi teratas dengan 152,17 Mbps, disusul Fairmont Hotel sebesar 148,87 Mbps dan Swissôtel Al Maqam dengan 124 Mbps. Di sisi lain, beberapa hotel lain masih tertinggal jauh dan sebagian bahkan berada pada level yang berpotensi mengganggu kenyamanan tamu. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kualitas konektivitas di kawasan suci masih belum merata.
Performa Hotel Teratas
Hasil pengukuran Ookla menunjukkan bahwa sebagian hotel mewah di Makkah telah memiliki performa internet yang sangat kompetitif. Swissôtel Makkah mencatat kecepatan unduh median 152,17 Mbps, sehingga menempati urutan pertama dalam analisis tersebut. Fairmont Hotel menyusul dengan 148,87 Mbps, sedangkan Swissôtel Al Maqam membukukan 124 Mbps. Angka ini menempatkan ketiganya jauh di atas rata-rata hotel lain yang ikut diteliti.
Kinerja tinggi tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur digital di sejumlah properti premium sudah mendukung kebutuhan tamu secara lebih baik. Kecepatan seperti itu memungkinkan akses video call, navigasi digital, hingga pengiriman dokumen berlangsung lebih lancar. Bagi jemaah yang mengandalkan ponsel untuk koordinasi keluarga dan rombongan, kualitas jaringan semacam ini sangat penting. Namun, keunggulan pada beberapa hotel belum otomatis menggambarkan kondisi keseluruhan kawasan.
Selain tiga hotel teratas, Pullman ZamZam Makkah masih mampu mencatat kecepatan hingga 96,80 Mbps. Anwar Al Madinah Mövenpick juga menunjukkan performa cukup baik dengan 78,42 Mbps. Meski demikian, kelompok hotel lain berada di kisaran 18 Mbps hingga 38 Mbps, yang menandakan variasi layanan masih lebar. Kondisi itu menjadi sinyal bahwa peningkatan kualitas jaringan belum merata di seluruh hotel mewah.
Kesenjangan Saat Jam Sibuk
Masalah utama dalam temuan Ookla bukan hanya kecepatan puncak, tetapi juga konsistensi layanan saat jam sibuk. Dalam situasi padat pengguna, jaringan yang terlihat cepat pada kondisi normal dapat mengalami penurunan yang cukup tajam. Ookla mencatat bahwa bahkan di hotel-hotel terbaik, 10 persen pengguna terbawah masih bisa merasakan kecepatan di bawah 15 Mbps. Situasi ini berpotensi menimbulkan frustrasi, terutama ketika banyak tamu mengakses internet secara bersamaan.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terlihat pada beberapa hotel premium lain yang justru membukukan hasil jauh lebih rendah. Hilton Makkah Convention Hotel hanya mencatat kecepatan 4,95 Mbps, sedangkan Anjum Hotel Makkah berada di angka 10,51 Mbps. Performa tersebut dinilai belum memadai untuk kebutuhan digital para jemaah yang kian bergantung pada konektivitas. Dalam praktiknya, pengalaman jaringan yang buruk dapat menghambat komunikasi dan aktivitas harian tamu.
Ketidakstabilan jaringan juga dapat memunculkan keluhan saat pengguna mencoba mengakses layanan penting di hotel. Pengiriman pesan, pembaruan lokasi, hingga akses informasi ibadah bisa terganggu ketika koneksi melambat drastis. Bagi jemaah lanjut usia maupun rombongan besar, hambatan seperti ini dapat menambah beban selama perjalanan spiritual. Karena itu, konsistensi layanan dinilai sama pentingnya dengan angka kecepatan tertinggi.
Teknologi Penentu Kinerja
Ookla menilai perbedaan performa internet di hotel-hotel tersebut sangat dipengaruhi oleh teknologi jaringan yang digunakan. Hotel dengan dukungan Wi-Fi 6, frekuensi 5 GHz, dan koneksi fiber optik terbukti lebih stabil dibanding hotel yang masih bertumpu pada Wi-Fi 4. Pita 2,4 GHz juga disebut kurang ideal ketika beban pengguna meningkat. Kombinasi teknologi yang lebih modern menjadi pembeda utama dalam menjaga kualitas layanan.
Penggunaan Wi-Fi 6 memberi keuntungan dalam menangani banyak perangkat secara bersamaan. Teknologi ini lebih efisien dalam mengelola trafik data, sehingga jaringan tidak mudah turun ketika penghuni hotel aktif mengakses internet. Sementara itu, koneksi fiber optik menyediakan jalur data yang lebih besar dan lebih andal untuk kebutuhan hotel dengan okupansi tinggi. Dengan dukungan tersebut, pengalaman pengguna dapat lebih stabil pada berbagai kondisi.
Hotel yang belum memperbarui infrastruktur berisiko tertinggal saat permintaan konektivitas terus meningkat. Para tamu di kawasan Makkah dan Madinah membutuhkan akses cepat, bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk kebutuhan praktis selama berada di Tanah Suci. Kesenjangan teknologi ini menjadi tantangan yang harus dijawab oleh pengelola hotel dan penyedia layanan internet. Tanpa pembaruan sistem, performa jaringan sulit mengejar kebutuhan pengguna yang semakin tinggi.
Lonjakan Data Jemaah
Musim Haji 2025 memperlihatkan betapa pentingnya konektivitas digital bagi jemaah. Ookla mengungkapkan penggunaan data rata-rata mencapai 1,26 GB per hari untuk setiap pengguna. Angka itu sekitar tiga kali lipat rata-rata global, yang menunjukkan tingginya ketergantungan pada internet selama ibadah. Dibandingkan musim Haji 2024 yang berada di level 876 MB per pengguna per hari, terjadi kenaikan yang sangat signifikan.
Peningkatan pemakaian data tersebut didorong oleh kebutuhan untuk berkomunikasi, mencari informasi, dan memakai layanan digital sehari-hari. Banyak jemaah menggunakan internet untuk menghubungi keluarga, memantau jadwal, serta mengandalkan aplikasi peta dan pesan instan. Dalam kondisi padat seperti di Makkah dan Madinah, jaringan yang stabil menjadi bagian dari kenyamanan perjalanan. Karena itu, kualitas internet hotel menjadi faktor yang semakin relevan.
Menanggapi temuan itu, Ookla menilai penyedia hotel perlu segera meningkatkan kapasitas ISP dan memperluas koneksi fiber. Prioritas penggunaan jaringan 5 GHz juga dinilai penting agar beban trafik dapat terbagi lebih baik. Selain itu, penambahan titik akses dibutuhkan untuk mengurangi area tanpa sinyal di dalam properti. Langkah-langkah tersebut dinilai krusial agar pengalaman digital para jemaah menjadi lebih layak dan konsisten.
