Korban yang dinyatakan hilang akibat erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, akhirnya ditemukan dan dievakuasi. Proses pencarian dilakukan tim SAR gabungan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Emergency Response Team NHM, sejak Sabtu (9/5/2026). Operasi kuat ini dilaksanakan di tengah medan terjal dan cuaca yang tidak menentu.
Bentrokan waktu antara evakuasi dan penanganan wilayah terdampak menandai upaya komprehensif yang dilakukan bersama aparat, relawan, dan warga setempat. Zakaria Barham, pemimpin tim NHM, menegaskan komitmen personel meskipun menghadapi risiko tinggi. Dengan evakuasi korban selesai, upaya kemanusiaan perusahaan terus didorong demi keselamatan komunitas sekitar.
Tim SAR Gabungan
Tim Rescue NHM berkoordinasi dengan TNI, Polri, Basarnas, BPBD Halmahera Utara, MAPALA, relawan, dan masyarakat setempat dalam operasi. Mereka meluncur ke lokasi sejak Sabtu, 9 Mei 2026, mengikuti rencana evakuasi yang telah disusun. Keterlibatan lintas instansi tersebut bertujuan mempercepat penyelamatan korban yang terjebak pada lereng Gunung Dukono.
Pelacakan lokasi dilakukan untuk memastikan jalur evakuasi aman. Tim melakukan penyisiran wilayah terdampak secara sistematis. Pertolongan pertama diberikan segera sebelum evakuasi menuju titik aman.
Zakaria menegaskan ERT NHM bukan sekadar bentuk kepedulian korporat. Kapasitas dan sumber daya perusahaan menjadi bagian dari respons kemanusiaan yang lebih luas. NHM akan terus mendukung masyarakat dan wilayah operasional melalui kerja sama dengan aparat dan relawan.
Penanganan Korban
Tim Rescue NHM menjalankan tahap pertolongan pertama di lokasi penemuan korban. Setelah dipastikan stabil, korban dievakuasi menuju pos penanganan darurat. Label identitas dan catatan medis terus diperbarui untuk kelancaran penanganan lebih lanjut.
Korban pertama, Engel Krishela Pradita, dievakuasi pada 9 Mei 2026 dalam keadaan meninggal dunia. Sehari berselang, pada 10 Mei 2026, dua korban terakhir juga ditemukan dalam kondisi sama. Dengan ditemukannya semua korban, mereka dipindahkan ke pos penanganan darurat.
Zakaria menegaskan ERT NHM bukan sekadar bentuk kepedulian korporat. Kapasitas dan sumber daya perusahaan menjadi bagian dari respons kemanusiaan yang lebih luas. NHM bekerja sama dengan aparat dan relawan untuk kelanjutan proses evakuasi.
Dukungan NHM
Dalam operasi, ERT NHM menggunakan fasilitas dan peralatan untuk mempercepat evakuasi. Kepala tim menegaskan komitmen tinggi meski menghadapi medan berat. Cerita ini mencerminkan peran korporasi dalam respons darurat di wilayah operasionalnya.
Keterlibatan NHM menjadi contoh kolaborasi antarinstitusi dalam penanganan bencana. Relawan, TNI, Polri, Basarnas, dan pemerintah daerah bekerja sama secara terkoordinasi. Upaya kemanusiaan ini didorong oleh semangat kebersamaan demi keselamatan publik.
Kepala perusahaan menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar program CSR, melainkan kewajiban sosial. Pihak NHM menilai bahwa dukungan kepada masyarakat adalah bagian dari operasional yang berkelanjutan. Operasi ini menambah pengalaman perusahaan dalam menghadapi situasi darurat di masa mendatang.
