Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan menjadi pendorong utama adopsi jaringan 5G di Indonesia. Saat ini, cakupan 5G nasional masih terbatas, meski teknologi tersebut sudah hadir sejak pertengahan 2021. Pemerintah menargetkan perluasan cakupan jaringan cepat itu sejalan dengan Rencana Strategis Komdigi 2025-2029.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menyebut AI berpotensi menjadi killer content yang mempercepat pemanfaatan layanan 5G di berbagai sektor. Menurut dia, Indonesia tengah memasuki fase transformasi digital yang menuntut konektivitas lebih cerdas dan berbasis data. Kombinasi 5G dan AI dinilai dapat membuka model bisnis baru sekaligus memperkuat ekosistem digital nasional.
AI Dorong Adopsi 5G
Wayan mengatakan AI dapat menjadi penggerak utama pemanfaatan 5G, seperti momentum besar yang dulu mendorong migrasi ke televisi digital. Ia menilai kebutuhan layanan berbasis data yang semakin kompleks membuat jaringan berkecepatan tinggi menjadi semakin relevan. Dalam forum IndoTelko di Jakarta, ia menegaskan bahwa AI dan 5G saling melengkapi.
Menurut Wayan, 5G menyediakan konektivitas dengan kecepatan tinggi dan latensi rendah. Sementara itu, AI berperan mengolah data menjadi insight dan inovasi yang bisa langsung dimanfaatkan industri. Karena itu, integrasi keduanya dinilai lebih dari sekadar pembaruan teknologi.
Ia menjelaskan bahwa sinergi 5G dan AI akan mempercepat lahirnya berbagai layanan baru. Peluang itu terbuka di banyak sektor, mulai dari manufaktur, kesehatan digital, hingga kota cerdas. Dengan dukungan ekosistem yang tepat, adopsi 5G dapat bergerak lebih cepat.
Komdigi melihat kehadiran AI bukan hanya sebagai tren, melainkan kebutuhan untuk memperluas manfaat 5G. Teknologi tersebut dinilai mampu menciptakan penggunaan jaringan yang lebih produktif dan efisien. Dalam konteks itu, AI disebut sebagai pemicu yang memperkuat nilai ekonomi 5G.
5G Buka Peluang Baru
Wayan menyebut kombinasi 5G dan AI dapat mendorong transformasi di sektor industri. Salah satu contoh yang disorot adalah manufaktur berbasis Industry 4.0 yang memerlukan konektivitas stabil dan cepat. Dengan dukungan analitik berbasis AI, proses produksi dapat menjadi lebih responsif.
Di sektor kesehatan, integrasi 5G dan AI berpotensi mendukung layanan digital yang lebih cepat dan akurat. Teknologi ini dapat membantu pertukaran data medis secara real time serta memperluas jangkauan pelayanan. Kondisi itu dinilai penting untuk meningkatkan kualitas layanan publik.
Komdigi juga menyoroti peluang pengembangan smart city melalui pemanfaatan dua teknologi tersebut. Kota cerdas membutuhkan jaringan yang andal untuk menghubungkan perangkat, sensor, dan pusat data. AI kemudian berperan mengolah informasi agar layanan kota berjalan lebih efisien.
Menurut Wayan, potensi ekonomi dari integrasi 5G dan AI tidak bisa diabaikan. Kombinasi ini dapat melahirkan model bisnis baru di berbagai lini usaha. Pemerintah menilai peluang tersebut harus ditangkap melalui kebijakan yang tepat sasaran.
Tantangan Ekosistem Digital
Meski peluang 5G dan AI besar, pemerintah menilai tantangannya juga tidak ringan. Wayan menekankan bahwa pembangunan infrastruktur saja tidak cukup untuk memastikan teknologi benar-benar digunakan masyarakat. Manfaatnya harus dapat dirasakan secara nyata, inklusif, dan aman.
Ia menilai ekosistem pendukung perlu dibangun secara paralel agar pemanfaatan teknologi lebih optimal. Infrastruktur jaringan harus diperkuat, pusat data perlu diperluas, dan ketersediaan talenta digital harus ditingkatkan. Tanpa itu, adopsi teknologi berisiko berjalan lambat.
Komdigi juga menaruh perhatian pada aspek kesiapan sumber daya manusia. Talenta digital dibutuhkan untuk mengembangkan solusi berbasis AI yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Karena itu, pengembangan kapasitas menjadi bagian penting dari strategi pemerintah.
Selain itu, pemerintah ingin memastikan transformasi digital tidak menciptakan kesenjangan baru. Teknologi harus hadir sebagai alat yang memperluas akses dan memberi manfaat yang setara. Wayan menegaskan bahwa keberhasilan 5G dan AI diukur dari dampaknya bagi publik.
Frekuensi Jadi Penopang
Untuk mempercepat pemerataan layanan, Komdigi telah membuka proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kedua pita frekuensi itu dipandang penting untuk mendongkrak akses internet 4G hingga 5G. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi konektivitas nasional.
Wayan mengatakan regulasi harus hadir sebagai enabler, bukan penghambat. Kebijakan yang adaptif dinilai penting agar pengembangan 5G dan AI dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan industri. Dengan pendekatan itu, ekosistem digital dapat berkembang lebih sehat.
Pemerintah juga menyiapkan arah pengembangan yang selaras dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Fokusnya bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada kesinambungan pemanfaatan di lapangan. Hal ini diharapkan membuat investasi digital lebih menarik dan terukur.
Meski cakupan 5G saat ini baru mencapai 4,44 persen, Komdigi menargetkan angka tersebut naik menjadi 7 persen pada 2029. Target itu menunjukkan bahwa ekspansi jaringan masih terus berjalan dalam jangka menengah. Di tengah proses tersebut, AI diposisikan sebagai katalis untuk mempercepat adopsi 5G di Indonesia.
