Komdigi: AI Jadi Pendorong Adopsi 5G di Indonesia

Teknologi BRH 23 Mei 2026 14:12 WIB 6
Komdigi: AI Jadi Pendorong Adopsi 5G di Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan menjadi motor utama percepatan adopsi jaringan 5G di Indonesia. Saat ini, cakupan 5G nasional masih tergolong rendah sejak pertama kali hadir pada pertengahan 2021. Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, penetrasi jaringan tersebut baru mencapai 4,44 persen. Targetnya, cakupan internet berkecepatan tinggi itu naik menjadi 7 persen pada 2029.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menilai AI berpotensi menjadi killer content yang mendorong pemanfaatan 5G di berbagai sektor. Ia menyebut integrasi dua teknologi itu dapat menciptakan nilai baru, mulai dari industri hingga layanan publik. Pernyataan tersebut disampaikan dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu, 29 Mei 2026. Menurutnya, Indonesia kini memasuki fase baru transformasi digital yang lebih cerdas dan berbasis data.

AI dan 5G

Wayan menjelaskan bahwa 5G dan AI memiliki peran yang saling melengkapi dalam ekosistem digital. Jaringan 5G menyediakan konektivitas berkecepatan tinggi dengan latensi rendah. Sementara itu, AI mengolah data menjadi wawasan yang lebih bernilai. Kombinasi keduanya dinilai mampu mendorong inovasi lintas sektor.

Ia membandingkan situasi saat ini dengan era penyiaran yang membutuhkan momentum besar untuk mendorong migrasi ke TV digital. Pada masa itu, momentum seperti Piala Dunia menjadi pemicu perubahan perilaku masyarakat. Dalam konteks sekarang, AI dinilai memiliki daya dorong serupa untuk mendorong penggunaan 5G. Karena itu, pemerintah melihat AI bukan sekadar fitur tambahan, melainkan penggerak utama.

Menurut Wayan, integrasi 5G dan AI akan melahirkan model bisnis baru yang lebih efisien dan adaptif. Peluang itu mencakup layanan yang lebih cepat, pemrosesan data yang lebih akurat, dan respons sistem yang lebih cerdas. Industri pun berpotensi memanfaatkan konektivitas ini untuk meningkatkan produktivitas. Di sisi lain, masyarakat dapat menikmati layanan digital yang lebih relevan dengan kebutuhan harian.

Ia menegaskan bahwa perkembangan tersebut akan menjadi pijakan penting bagi akselerasi transformasi digital nasional. Dengan fondasi konektivitas yang kuat, AI dapat berkembang lebih luas di berbagai layanan. Pemerintah, kata dia, perlu memastikan manfaat teknologi itu tidak hanya dirasakan pelaku industri. Arah kebijakan harus menghubungkan inovasi dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Peluang Industri Baru

Wayan menyebut kombinasi 5G dan AI membuka ruang besar bagi sektor manufaktur, kesehatan, dan kota cerdas. Pada industri manufaktur berbasis Industry 4.0, konektivitas rendah latensi dapat menunjang otomasi dan pemantauan real time. Dalam layanan kesehatan digital, AI dapat membantu analisis data medis dengan lebih cepat. Adapun pada pengembangan smart city, kedua teknologi itu mendukung pengelolaan layanan publik yang lebih efisien.

Peluang tersebut dinilai penting karena kebutuhan digital masyarakat terus berkembang. Perusahaan membutuhkan infrastruktur yang mampu menangani data dalam jumlah besar dan waktu respons yang singkat. Di sisi lain, pemerintah daerah memerlukan sistem yang dapat mendukung keputusan berbasis data. Kondisi ini membuat adopsi 5G semakin relevan bagi pertumbuhan ekonomi digital.

Meski demikian, Wayan menekankan bahwa manfaat teknologi tidak otomatis dirasakan semua pihak. Pemerintah harus memastikan pemanfaatan 5G dan AI bersifat inklusif, aman, dan memberikan dampak nyata. Ia menilai pembangunan infrastruktur saja belum cukup tanpa kesiapan ekosistem. Karena itu, akses yang merata perlu berjalan seiring dengan literasi digital masyarakat.

Ia juga menilai keberhasilan transformasi digital sangat ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha dan institusi dalam memanfaatkan teknologi. Jika ekosistemnya kuat, maka inovasi akan lebih cepat muncul di berbagai sektor. Sebaliknya, jika pemanfaatannya terbatas, investasi infrastruktur tidak akan optimal. Hal itu menjadi alasan mengapa Komdigi mendorong pendekatan yang terintegrasi.

Ekosistem Digital Dipercepat

Untuk memperkuat adopsi 5G dan AI, Komdigi terus mendorong pengembangan ekosistem pendukung. Langkah itu mencakup perluasan infrastruktur jaringan, penguatan pusat data, dan penyediaan talenta digital. Pemerintah menilai ketiga komponen tersebut saling berkaitan dalam membangun layanan digital yang andal. Tanpa dukungan ekosistem, pemanfaatan teknologi berisiko tidak berjalan maksimal.

Talenta digital menjadi salah satu perhatian utama karena kebutuhan tenaga ahli terus meningkat. Pengembangan solusi berbasis AI memerlukan sumber daya manusia yang memahami data, sistem, dan keamanan digital. Selain itu, industri membutuhkan tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru. Karena itu, kesiapan SDM menjadi bagian penting dari strategi nasional.

Komdigi juga menyiapkan kebijakan yang adaptif agar pertumbuhan teknologi dapat berjalan seiring dengan perkembangan industri. Regulasi, menurut Wayan, harus menjadi enabler dan bukan penghambat. Pendekatan ini diperlukan agar inovasi dapat tumbuh tanpa mengabaikan perlindungan publik. Dengan demikian, ruang bagi investasi dan pengembangan layanan digital tetap terbuka.

Dalam kerangka tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa teknologi baru tidak hanya hadir sebagai simbol kemajuan. Pemanfaatannya harus mampu menjawab kebutuhan ekonomi, sosial, dan layanan publik. Jika ekosistem tumbuh sehat, maka adopsi 5G akan lebih mudah dipercepat. AI pun dapat menjadi katalis untuk perubahan yang lebih luas.

Spektrum Jadi Penopang 5G

Di sisi lain, Komdigi telah membuka proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kedua pita frekuensi itu dinilai penting untuk memperkuat pemerataan akses internet 4G hingga 5G. Spektrum yang lebih memadai akan membantu operator memperluas jangkauan layanan. Dengan begitu, kualitas konektivitas diharapkan semakin merata di berbagai wilayah.

Pemerintah memandang ketersediaan frekuensi sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan perluasan jaringan. Tanpa dukungan spektrum yang cukup, pengembangan layanan berkecepatan tinggi akan berjalan lebih lambat. Karena itu, pelelangan frekuensi menjadi bagian dari strategi besar transformasi digital nasional. Upaya ini juga mendukung kebutuhan industri yang semakin bergantung pada koneksi stabil.

Wayan menilai bahwa pemerataan akses internet tidak cukup hanya dibangun di wilayah padat penduduk. Daerah yang selama ini belum optimal tersentuh layanan digital juga perlu masuk dalam prioritas. Hal itu penting agar manfaat 5G tidak terkonsentrasi di kota-kota besar saja. Dengan akses yang lebih luas, peluang ekonomi digital dapat terbuka lebih merata.

Ke depan, Komdigi berharap 5G dan AI dapat berjalan beriringan sebagai fondasi ekonomi digital Indonesia. Infrastruktur yang kuat, regulasi yang adaptif, dan ekosistem yang siap menjadi syarat utamanya. Jika seluruh unsur itu bergerak bersama, target perluasan jaringan akan lebih realistis dicapai. Pada saat yang sama, masyarakat dapat merasakan manfaat teknologi secara lebih langsung.

Tag Terkait
#AI#5G#Komdigi

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!