Kisah UliMus, Usaha Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 02 Juni 2026 14:11 WIB 3
Kisah UliMus, Usaha Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Peluang usaha kerap lahir dari persoalan sederhana di rumah, termasuk yang dialami Romauli Sri Astuti Sitoris, atau akrab disapa Uli. Pada 2022, perempuan 40 tahun itu mendirikan usaha bawang goreng crispy bernama UliMus setelah mencari cara agar sang anak menyukai bawang goreng. Dari dapur rumah, ide tersebut berkembang menjadi produk camilan dan taburan makanan yang kini memiliki nilai jual.

Perjalanan usaha itu bermula ketika Uli menyiapkan bawang goreng dengan cita rasa berbeda untuk dibawa ke pesantren tempat anaknya menempuh pendidikan di Parung pada awal 2020. Respons positif dari anak dan teman-temannya membuat produk tersebut mulai dilirik banyak orang, lalu membuka peluang penjualan rutin setiap kali Uli berkunjung. Dukungan keluarga, kebutuhan ekonomi, dan ketekunan menjadi kunci utama tumbuhnya usaha yang dirintis dari modal terbatas.

Bermula dari bawang goreng

Uli mengatakan inovasi bawang goreng crispy itu lahir dari keinginan sederhana agar anaknya mau memakan bawang goreng. Ia kemudian mengolah bawang goreng dengan rasa barberque dan balado, sehingga tampil seperti camilan, bukan sekadar pelengkap makanan. Hasilnya, sang anak justru menyukainya dan membawa produk itu ke lingkungan pesantren.

Setiap kali mengunjungi pesantren, Uli membawa stok produk dalam jumlah cukup banyak untuk dititipkan kepada anaknya. Dari situ, teman-teman sang anak ikut mencoba dan mulai membeli karena tertarik dengan rasa serta teksturnya. Pola penjualan yang berulang membuat Uli melihat adanya potensi pasar yang menjanjikan.

Menurut Uli, kebiasaan membawa produk ke pesantren kemudian menjadi sumber penghasilan tambahan yang konsisten. Ia menyebut, setiap kunjungan bukan hanya untuk menjenguk anak, tetapi juga membawa peluang cuan dari bawang goreng buatannya. Pengalaman itu menjadi titik awal keseriusan dirinya menekuni usaha secara lebih terarah.

Bangkit dengan modal kecil

Uli mulai menjalankan usaha secara lebih serius dari rumah setelah mendapat dukungan penuh dari suaminya. Keputusan itu diambil ketika usaha sang suami terdampak pandemi dan tidak lagi berjalan normal. Situasi tersebut mendorong keluarga mencari sumber penghasilan baru yang bisa menopang kebutuhan harian.

Ia mengaku modal awal yang digunakan sangat terbatas, yakni kurang dari Rp 500 ribu. Dengan dana kecil itu, Uli tetap berani memulai produksi dan menjual secara bertahap kepada orang-orang terdekat. Langkah sederhana tersebut menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usahanya.

Meski dimulai dari skala rumah tangga, Uli terus menjaga kualitas rasa dan konsistensi produk. Strategi ini membuat pelanggan mulai mengenali bawang goreng crispy UliMus sebagai produk yang praktis dan serbaguna. Dari usaha kecil, bisnis itu perlahan naik kelas karena ketekunan dan keberanian untuk mencoba.

Legalitas dan identitas usaha

Perkembangan usaha UliMus mencapai babak baru ketika resmi memiliki legalitas pada 2022. Legalitas tersebut memberi pengakuan usaha sekaligus memperkuat kepercayaan konsumen terhadap produk yang dijual. Bagi Uli, langkah ini penting agar bisnisnya tidak berhenti sebagai usaha rumahan semata.

Nama UliMus diambil dari nama Uli dan suaminya, Mustofa, sebagai simbol kerja sama keluarga dalam membangun usaha. Penamaan itu mencerminkan identitas pribadi sekaligus perjalanan usaha yang tumbuh dari kebersamaan. Dengan nama yang khas, produk UliMus lebih mudah diingat oleh pelanggan.

Keunikan produk UliMus terletak pada fungsinya yang ganda, yakni bisa dinikmati sebagai camilan atau digunakan sebagai taburan makanan. Karakter tersebut membuat produknya berbeda dari bawang goreng biasa yang umumnya hanya hadir sebagai pelengkap. Inovasi sederhana ini menjadi nilai tambah yang kuat di tengah persaingan produk sejenis.

Peran UMKM binaan

Perjalanan UliMus juga berkaitan dengan pendampingan sebagai UMKM binaan Rumah BUMN BRI. Dukungan seperti ini membantu pelaku usaha kecil memahami pentingnya pengelolaan bisnis yang lebih rapi. Bagi pelaku UMKM, akses pembinaan sering menjadi pintu menuju pertumbuhan yang lebih stabil.

Kisah Uli menunjukkan bahwa peluang usaha dapat lahir dari pengamatan terhadap kebutuhan keluarga sendiri. Dari anak yang tidak menyukai bawang goreng, muncul produk yang justru diminati banyak orang. Cerita ini sekaligus menegaskan pentingnya kreativitas dalam membaca peluang pasar.

Dengan modal kecil, dukungan keluarga, dan keberanian berinovasi, UliMus berkembang menjadi contoh usaha rumahan yang berpotensi berkelanjutan. Pengalaman Romauli Sri Astuti Sitoris memperlihatkan bahwa bisnis tidak selalu bermula dari dana besar, melainkan dari ketekunan dan kejelian melihat kesempatan. Dari dapur rumah, sebuah ide sederhana dapat berubah menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!