Kisah Sonal Keay yang Alergi Sinar Matahari

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 04:28 WIB 2
Kisah Sonal Keay yang Alergi Sinar Matahari

Sonal Keay hidup dengan kondisi kulit langka yang membuatnya sangat sensitif terhadap sinar matahari. Paparan cahaya UV dalam waktu singkat dapat memicu rasa sakit hebat, seperti kulitnya terbakar. Karena itu, ia harus membatasi aktivitas di siang hari dan baru merasa aman saat malam tiba.

Keluhan itu mulai disadari Sonal ketika berusia 18 tahun, saat ia tengah berlibur ke luar negeri. Setelah kembali ke rumah, reaksi pada kulitnya justru semakin parah dan tidak kunjung membaik. Ia kemudian mengetahui bahwa masalah yang dialaminya berkaitan dengan alergi terhadap sinar matahari.

Alergi Sinar Matahari

Sonal mengaku kondisi tersebut membuatnya harus sangat berhati-hati terhadap paparan ultraviolet. Bahkan, berada di luar rumah lebih dari satu menit dapat memicu reaksi yang menyakitkan. Ia juga tetap berisiko merasakan keluhan meski cuaca sedang mendung.

Menurut penuturannya dalam wawancara dengan ITV This Morning, rasa sakit yang muncul sangat luar biasa. Ia menyebut sensasi itu begitu mengganggu hingga membuatnya ingin segera menghilangkan rasa nyeri tersebut. Pengalaman itu membuatnya sadar bahwa sinar matahari, yang umum dianggap menyehatkan, justru menjadi ancaman baginya.

Sebelum diagnosis ditegakkan, Sonal sudah mengalami eksim sejak kecil. Namun, ia sempat tidak menyadari bahwa ketidaknyamanan yang dirasakan berkaitan langsung dengan paparan matahari. Selama dua tahun, ia hidup dengan rasa sakit tanpa memahami penyebab utamanya.

Kemudian, dokter mendiagnosisnya dengan dermatitis aktinik kronis, yakni kondisi kulit langka yang dapat memicu lesi eksim. American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa alergi kulit fotosensitif memiliki beberapa jenis. Pada kasus Sonal, kondisi itu menimbulkan rasa sakit yang jauh lebih berat dari keluhan kulit biasa.

Dampak Pada Kehidupan

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi fisik Sonal, tetapi juga kehidupan sosialnya. Ia harus menghindari aktivitas siang hari agar tidak memicu reaksi alergi. Situasi tersebut membuat rutinitas harian menjadi sangat terbatas.

Ia bahkan harus memikirkan paparan cahaya sejak langkah pertama keluar rumah. Mengambil kunci mobil atau memakai sepatu pun menjadi kegiatan yang membutuhkan perlindungan ekstra. Sonal tidak boleh lupa mengoleskan tabir surya sebelum melakukan aktivitas sederhana.

Ketergantungan pada perlindungan itu menunjukkan betapa sensitifnya kulit Sonal. Cahaya yang menembus jendela juga dapat memicu reaksi parah pada tubuhnya. Karena itu, ia memasang tirai anti-UV agar tetap bisa beraktivitas di dalam rumah.

Meski terlihat normal dari luar, Sonal menegaskan bahwa hidupnya tidak berjalan normal. Ia harus terus menyesuaikan diri dengan batasan yang ditentukan oleh kondisi kulitnya. Situasi itu menjadikan setiap hari sebagai tantangan tersendiri.

Gejala Yang Dirasakan

Sonal menjelaskan bahwa paparan sinar matahari membuat kulitnya terasa sangat sakit. Rasa tidak nyaman itu muncul cepat dan dapat bertahan selama tubuhnya masih terpapar cahaya. Ia menyebut sensasinya seperti terbakar, meski paparan yang diterima sangat singkat.

Keluhan tersebut tidak hanya muncul pada area yang terkena matahari secara langsung. Lesi eksim juga dapat timbul pada bagian kulit yang tidak terpapar. Hal ini menunjukkan bahwa reaksi yang dialaminya tergolong kompleks dan tidak biasa.

Reaksi alerginya juga tetap bisa terjadi saat cuaca mendung. Kondisi itu membuatnya tidak dapat mengandalkan perkiraan sederhana tentang terik matahari. Bagi Sonal, risiko tetap ada selama masih berada di luar ruangan.

Ia menyebut bahwa jika berada di luar selama sekitar satu menit, kulitnya dapat bereaksi parah. Setelah matahari terbenam sepenuhnya, barulah ia merasa aman. Pola hidup seperti itu memaksanya mengatur waktu dengan sangat disiplin.

Adaptasi Sehari Hari

Untuk menjaga diri, Sonal harus mengenakan perlindungan kulit setiap kali hendak keluar rumah. Ia juga perlu mempertimbangkan waktu, lokasi, dan intensitas cahaya sebelum beraktivitas. Semua itu dilakukan agar reaksi alergi tidak semakin berat.

Di dalam rumah, Sonal pun tidak lepas dari kewaspadaan. Cahaya yang masuk melalui jendela dapat memicu keluhan pada kulitnya. Karena itu, penggunaan tirai anti-UV menjadi bagian penting dari penyesuaian ruang tinggalnya.

Kondisi ini turut memengaruhi kesehatan mentalnya. Sonal mengaku pernah merasa takut terhadap cahaya, termasuk lampu. Ketakutan tersebut menunjukkan dampak psikologis yang ikut menyertai penyakit langka ini.

Meski menghadapi keterbatasan besar, Sonal tetap berupaya menjalani hidup dengan normal sebisanya. Ia membagikan pengalamannya agar orang lain memahami bahwa alergi sinar matahari bukan sekadar keluhan ringan. Pengalamannya menjadi pengingat bahwa kondisi kulit tertentu dapat mengubah seluruh pola hidup seseorang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!