Kisah Siti Fatimah, PMI yang Sukses Bangun Usaha Jajanan

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 22:02 WIB 2
Kisah Siti Fatimah, PMI yang Sukses Bangun Usaha Jajanan

Mantan pekerja migran Indonesia tidak selalu kembali tanpa arah, sebab sebagian di antaranya justru mampu membangun usaha di Tanah Air. Salah satunya adalah Siti Fatimah, perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, yang pulang dari Hongkong pada Mei 2017 dan kemudian merintis bisnis jajanan tradisional dari rumah.

Fatimah menilai pekerjaannya sebagai TKW selama lima tahun tidak lagi memberi ruang berkembang, sementara kebutuhan hidup terus bertambah. Berbekal tekad sebagai single parent dan modal tabungan Rp700 ribu, ia memulai usaha yang kini dikenal dengan nama Qtello Ayu.

Perjalanan Pulang ke Tanah Air

Keputusan pulang diambil Fatimah setelah merasa penghasilannya di luar negeri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia melihat masa depan yang lebih baik justru bisa dibangun dari rumah, bersama anak-anaknya.

Dalam wawancara dengan detikcom, Fatimah mengaku tidak ingin kembali merantau dan memilih fokus pada usaha kecil. Dorongan itu menjadi titik awal perubahan hidupnya, meski jalan yang ditempuh tidak mudah.

Ia menegaskan bahwa tekad untuk bertahan di kampung halaman menjadi modal penting sebelum memulai bisnis. Dari sanalah ia mulai menyusun rencana sederhana, yakni mengolah bahan pangan lokal menjadi produk bernilai jual.

Modal Kecil, Ide Besar

Pada akhir 2017, Fatimah mulai membuat aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong untuk dijual. Produk pertamanya terdiri atas ongol-ongol, getuk, dan klepon dengan kemasan sederhana.

Nama Qtello Ayu dipilih sebagai perpaduan kata ketela dan ayu, yang mencerminkan identitas produk sekaligus tampilan yang menarik. Meski modalnya hanya berasal dari sisa tabungan, ia berusaha menjaga cita rasa dan kualitas agar pembeli datang kembali.

Seiring waktu, variasi produknya bertambah menjadi sembilan jenis dengan tampilan yang lebih berwarna. Beberapa di antaranya adalah sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu.

Pemasaran Lewat Jaringan Digital

Fatimah tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga memperhatikan tampilan produk agar lebih menarik secara visual. Strategi itu membuat jajanan tradisional yang ia buat terlihat lebih modern dan mudah diterima pasar.

Untuk menjangkau pembeli, ia memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, media sosial, serta promosi dari mulut ke mulut. Pola pemasaran ini efektif karena membangun kepercayaan konsumen melalui jaringan pertemanan dan komunitas.

Pendekatan sederhana itu berhasil memperluas pasar hingga ke berbagai daerah. Produk Qtello Ayu kini tidak hanya dikenal di Tulungagung dan Trenggalek, tetapi juga dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta.

Usaha Rumahan yang Tumbuh

Permintaan yang terus meningkat membuat produksi Qtello Ayu mencapai sekitar 400 kotak per hari. Dengan volume tersebut, omzet hariannya rata-rata menyentuh Rp1 juta, meski kadang bisa lebih tinggi.

Fatimah menjalankan usaha itu dari rumah dengan bantuan keluarga dan dua karyawan harian. Seluruh proses tetap dijaga agar produk sampai ke tangan pembeli dalam kondisi segar dan berkualitas.

Hasil usaha tersebut tidak hanya memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya, tetapi juga membantu melunasi utang dan membeli mobil untuk operasional. Bahkan, salah satu anaknya yang sudah berkeluarga kini membuka cabang Qtello Ayu di Bandung.

Fatimah berharap usahanya bisa berkembang ke lebih banyak kota karena permintaan terus berdatangan. Ia juga berpesan agar siapa pun yang ingin berbisnis siap menjalani proses yang tidak mudah, serta tetap mengingat tujuan saat semangat mulai menurun.

Bagi masyarakat yang ingin mencicipi jajanan tradisional buatannya, harga produk Qtello Ayu mulai dari Rp8 ribuan per kotak. Informasi lebih lanjut tersedia melalui akun Instagram resmi @qtelloayu_trenggalek.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!