Kisah Siti Fatimah Bangun Bisnis Jajanan dari Rumah

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 03:04 WIB 14
Kisah Siti Fatimah Bangun Bisnis Jajanan dari Rumah

Siti Fatimah, mantan pekerja migran Indonesia asal Trenggalek, berhasil membangun usaha jajanan tradisional dari rumah setelah pulang dari Hong Kong pada Mei 2017. Perempuan 46 tahun itu memilih kembali ke Tanah Air karena ingin mencari penghidupan yang lebih berkembang bagi keluarganya. Dari modal sisa tabungan Rp700 ribu, ia memulai merek Qtello Ayu yang kini dikenal luas di daerahnya.

Keputusan itu berangkat dari kegelisahan saat bekerja di luar negeri, ketika kebutuhan hidup terus bertambah tetapi ruang pengembangan diri terasa terbatas. Berbekal tekad sebagai single parent, Fatimah mengubah singkong menjadi aneka kudapan modern yang laku di pasaran. Usahanya kini menghasilkan omzet harian rata-rata sekitar Rp1 juta, dengan produksi mencapai 400 kotak per hari.

Bisnis Jajanan Siti Fatimah

Fatimah memulai usaha pada akhir 2017 dengan tiga varian awal, yakni ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Nama Qtello Ayu dipilih sebagai identitas produk yang menggabungkan unsur ketela dan cantik. Dari dapur rumahnya, ia membangun fondasi bisnis dengan konsep sederhana namun konsisten.

Modal Rp700 ribu digunakan seefisien mungkin untuk membeli bahan baku dan perlengkapan dasar produksi. Ia menegaskan tidak ingin kembali merantau, sehingga seluruh energi diarahkan untuk membuka peluang usaha di kampung halaman. Tekad itu menjadi titik awal perubahan ekonomi keluarganya.

Seiring waktu, varian produk bertambah menjadi sembilan jenis dengan tampilan yang lebih beragam. Menu itu mencakup sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi tersebut membuat jajanan tradisional terasa lebih segar di mata konsumen.

Meski berbahan dasar sederhana, setiap produk dikemas secara menarik agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Fatimah mengombinasikan rasa tradisional dengan tampilan yang rapi dan warna-warni. Strategi ini membantu produknya menembus pasar yang lebih luas tanpa meninggalkan ciri khas lokal.

Pemasaran Lewat Jaringan Digital

Untuk memperluas pasar, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial sebagai saluran promosi utama. Ia juga mengandalkan metode getok tular atau dari mulut ke mulut yang terbukti efektif di komunitasnya. Cara ini membuat produk lebih cepat dikenal tanpa biaya pemasaran besar.

Jangkauan penjualan Qtello Ayu tidak hanya terbatas di Tulungagung dan Trenggalek. Produk itu juga kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta. Permintaan dari luar daerah menunjukkan adanya peluang pasar yang terus tumbuh.

Fatimah menyebut penjualan harian bisa berada di kisaran Rp1 juta, namun pada hari tertentu dapat meningkat menjadi Rp2 juta hingga Rp3 juta. Angka tersebut sangat bergantung pada jumlah pesanan dan momen penjualan. Kondisi itu memperlihatkan bahwa usaha rumahan pun bisa menghasilkan pendapatan yang stabil.

Harga produknya relatif terjangkau, yakni mulai dari Rp8 ribuan per kotak. Dengan banderol itu, jajanan tradisionalnya mudah diterima konsumen untuk konsumsi harian maupun acara. Kombinasi harga ramah dan kemasan menarik menjadi kekuatan utama bisnisnya.

Produksi Rumahan Tetap Terjaga

Dalam menjalankan usaha, Fatimah tidak bekerja seorang diri karena dibantu keluarga dan dua karyawan harian. Sistem kerja ini membuat produksi tetap berjalan ketika pesanan meningkat. Seluruh proses masih dilakukan dari rumah agar biaya operasional tetap terkendali.

Ia menempatkan kualitas dan kesegaran produk sebagai prioritas utama. Setiap pesanan diproses dengan pengawasan langsung agar rasa dan tampilan tetap konsisten. Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan yang sudah menjadi pembeli tetap.

Model usaha berbasis rumah memberi fleksibilitas bagi Fatimah untuk menyesuaikan kapasitas produksi. Ketika permintaan naik, ia dapat menambah tenaga bantuan sesuai kebutuhan. Cara tersebut membuat bisnis tetap efisien tanpa mengorbankan mutu.

Pengelolaan yang disiplin juga membantu usaha bertahan di tengah perubahan permintaan pasar. Fatimah membuktikan bahwa bisnis kecil bisa tumbuh jika dikelola dengan konsisten. Dari dapur rumah, usahanya menjelma menjadi sumber penghidupan yang nyata.

Dari Utang ke Ekspansi

Hasil usaha Qtello Ayu membawa perubahan besar bagi kondisi ekonomi keluarga Fatimah. Ia mengaku mampu melunasi utang dan membeli mobil untuk operasional. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa usaha kecil bisa berkembang menjadi penopang hidup yang kuat.

Kesuksesan tersebut bahkan mendorong salah satu anaknya yang telah berkeluarga untuk membuka cabang di Bandung. Langkah ini menunjukkan bahwa merek yang dibangun dari rumah memiliki daya tumbuh lintas daerah. Permintaan yang datang dari berbagai kota masih membuka peluang ekspansi lanjutan.

Fatimah berharap usahanya bisa hadir di lebih banyak kota karena permintaan terus berdatangan. Ia menilai setiap usaha membutuhkan proses yang tidak mudah dan harus dijalani dengan kesabaran. Saat semangat menurun, ia menyarankan untuk kembali mengingat tujuan awal membangun usaha.

Kisah Fatimah menjadi contoh bahwa mantan pekerja migran dapat sukses setelah pulang ke Indonesia. Dengan tekad, kreativitas, dan pemasaran yang tepat, usaha rumahan mampu memberi dampak ekonomi yang signifikan. Dari singkong sederhana, ia membangun peluang yang berkelanjutan bagi keluarga dan lingkungannya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!