Kisah Salad Umma, Dari Nol Jadi Usaha Kuliner Sehat

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 18:52 WIB 2
Kisah Salad Umma, Dari Nol Jadi Usaha Kuliner Sehat

Hikma Nurul Audhliya, perempuan 38 tahun asal Jakarta, berhasil bangkit dari keterpurukan setelah kehilangan hampir seluruh sumber penghasilan sebagai makeup artist saat pandemi. Dari kondisi serba sulit, ia memulai usaha kuliner sehat bernama Salad Umma yang kini berkembang berkat pelatihan, pendampingan, dan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Kisahnya menjadi contoh bagaimana ketekunan dan kemampuan membaca peluang dapat mengubah keadaan. Berawal dari dapur rumah dengan modal terbatas, usaha salad yang dirintis Hikma perlahan naik kelas hingga menerima pesanan rutin untuk berbagai kegiatan pemerintahan dan swasta.

Salad Umma Lahir Dari Krisis

Sebelum menekuni usaha kuliner, Hikma menjalani pekerjaan sebagai perias wajah atau makeup artist. Pandemi kemudian memukul seluruh jadwal pernikahan yang sudah ia pegang, sehingga pesanan dibatalkan secara mendadak.

Situasi itu membuatnya harus menanggung kerugian dan menjual sejumlah aset untuk menutup kewajiban kepada vendor. Mobil, baju, hingga perlengkapan make-up terpaksa dilepas agar ia bisa menyelesaikan ganti rugi yang nilainya di bawah Rp 100 juta.

Hikma menyebut masa itu sebagai titik terendah dalam hidupnya karena hampir semua pesanan hilang. Dengan kondisi ekonomi yang terjepit, ia harus memulai kembali tanpa kepastian pendapatan.

Dari keterbatasan itulah lahir dorongan untuk mencari bidang usaha yang lebih stabil. Ia kemudian memutuskan membangun bisnis yang bisa dijalankan dari rumah dengan modal kecil dan risiko operasional yang rendah.

Prakerja Buka Jalan Baru

Hikma kemudian mengikuti program Kartu Prakerja untuk mencari peluang baru. Setelah sempat gagal di gelombang pertama, ia akhirnya lolos pada kesempatan berikutnya dan menerima voucher pelatihan usaha senilai Rp 1 juta.

Awalnya, ia memilih kelas makeup karena berharap industri hiburan dan pernikahan segera pulih. Namun, kondisi yang belum membaik membuatnya mempertimbangkan usaha yang lebih praktis dan cepat dijalankan.

Ia lalu melihat peluang pada produk yang tidak membutuhkan kompor, minyak, maupun gas. Dari pertimbangan itu, salad sayur menjadi pilihan karena dinilai sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang mulai mencari makanan sehat.

Langkah tersebut menjadi titik awal perubahan arah bisnis Hikma. Ia mulai mempelajari cara mengolah bahan, menata produk, dan menyesuaikan penawaran agar sesuai dengan pasar yang lebih luas.

Modal Kecil Dari Rumah

Usaha Salad Umma dimulai dari dapur rumah dengan peralatan sederhana. Hikma memanfaatkan dana bantuan Prakerja yang diterima bertahap untuk membeli bahan baku dan perlengkapan dasar.

Ia mengalokasikan modal untuk membeli chopper, blender, kemasan, hingga showcase secara bertahap. Setiap pembelian disesuaikan dengan kebutuhan produksi agar arus kas tetap terjaga.

Lokasi usaha yang dekat kawasan indekos karyawan dan karyawati ikut membantu penjualan. Pasar awalnya tumbuh dari kebutuhan praktis konsumen yang mencari menu sehat, segar, dan mudah dibeli.

Setelah menerima pesanan untuk acara ulang tahun pada 2022, Hikma mulai menambah varian produk. Dari situ ia tidak hanya menjual salad sayur, tetapi juga mengembangkan salad buah untuk memperluas jangkauan pelanggan.

Omzet Naik Berkat Sertifikasi

Perjalanan usaha tidak selalu mulus karena omzet sempat naik turun dalam beberapa periode. Meski sudah berjualan secara online dan aktif mempromosikan produk di media sosial, ada hari ketika pendapatan hanya Rp 15 ribu.

Pada hari lain, omzet bisa naik hingga Rp 100 ribu, namun tidak jarang ia juga tidak menerima pesanan sama sekali. Fluktuasi itu membuat Hikma harus terus menata strategi agar usaha tetap bertahan.

Perubahan positif mulai terasa setelah Salad Umma memperoleh sertifikasi halal. Keikutsertaannya dalam bazar Jakpreneur juga membuka akses jejaring baru yang memperluas peluang penjualan.

Dari rangkaian dukungan tersebut, Hikma mulai menerima pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Omzet hariannya pun meningkat dan pada momen tertentu dapat mencapai Rp 1 juta per hari.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!