Sarden Kalengan Disorot, Ini Risiko BPA dan Natriumnya

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 04:43 WIB 4
Sarden Kalengan Disorot, Ini Risiko BPA dan Natriumnya

Sarden kalengan kembali menjadi bahan perbincangan setelah disebut bukan termasuk produk ultra processed food atau UPF. Anggapan itu memunculkan kesan bahwa sarden kalengan otomatis lebih sehat, padahal penilaiannya tidak sesederhana itu.

Risiko kesehatan dari sarden kalengan tidak hanya ditentukan oleh tingkat pemrosesan, tetapi juga kandungan natrium dan potensi paparan BPA. Sejumlah ahli mengingatkan bahwa status non-UPF bukan jaminan produk tersebut aman dikonsumsi tanpa batas.

Sarden Kalengan dan BPA

Sarden kalengan kerap disorot karena kemungkinan paparan BPA atau Bisphenol A. Zat ini digunakan dalam resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan.

Pada kondisi tertentu, seperti pemanasan atau kerusakan kemasan, BPA dapat bermigrasi ke bahan makanan. Jika paparan berlangsung terus-menerus dan melebihi batas tertentu, risikonya dapat berdampak pada kesehatan.

Riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023 menemukan adanya migrasi BPA dari kaleng makanan. Namun, kadar yang terdeteksi masih berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 mikrogram per kilogram berat badan per hari.

Meski demikian, para ahli menilai paparan yang terjadi berulang tetap perlu diwaspadai. Kekhawatiran utamanya adalah akumulasi jangka panjang yang dapat menambah beban kesehatan tubuh.

Sarden Kalengan dan Natrium

Selain BPA, sarden kalengan juga kerap mengandung natrium dalam jumlah tinggi. Kandungan ini membuat produk tersebut perlu dikonsumsi secara terukur, terutama oleh orang dengan tekanan darah tinggi.

Natrium berlebih dapat memicu masalah kesehatan bila asupannya tidak dikendalikan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa berkaitan dengan risiko hipertensi dan gangguan kardiovaskular.

Label non-UPF juga tidak otomatis berarti produk itu rendah garam. Karena itu, masyarakat disarankan membaca informasi nilai gizi sebelum membeli.

Pilihan saus dan tambahan bumbu pada sarden kalengan juga dapat memengaruhi total natrium. Semakin banyak bumbu olahan, semakin besar pula potensi asupan garam yang masuk ke tubuh.

Sarden Kalengan Bukan Jaminan Aman

Pandangan bahwa makanan non-UPF pasti lebih sehat dinilai sebagai kekeliruan. Penilaian kesehatan produk pangan harus mempertimbangkan komposisi, kemasan, dan pola konsumsi, bukan hanya klasifikasi pemrosesan.

Dalam sistem NOVA, tingkat pemrosesan memang menjadi salah satu acuan penting. Namun, faktor lain seperti zat tambahan, kadar lemak, gula, garam, dan risiko kontaminan tetap harus diperhitungkan.

Karena itu, sarden kalengan tidak bisa langsung diposisikan sebagai makanan sehat hanya karena tidak masuk kategori UPF. Produk ini tetap perlu dilihat dalam konteks menu harian dan kebutuhan gizi individu.

Ahli kesehatan mengingatkan bahwa konsumsi berlebihan pada akhirnya justru dapat menimbulkan masalah. Makanan kaleng yang tampak praktis tetap harus dibaca secara kritis agar tidak menyesatkan persepsi publik.

Cara Konsumsi Lebih Bijak

Sarden kalengan masih bisa menjadi pilihan praktis bila dikonsumsi dengan porsi yang wajar. Kuncinya adalah memperhatikan frekuensi makan, kandungan garam, dan kondisi kemasan sebelum dibuka.

Masyarakat disarankan memilih produk dengan informasi gizi yang jelas dan natrium yang lebih rendah. Jika memungkinkan, sarden juga dapat dipadukan dengan sayuran segar untuk menyeimbangkan asupan.

Produk dalam kaleng yang penyok, bocor, atau tampak rusak sebaiknya tidak dikonsumsi. Kerusakan kemasan dapat meningkatkan risiko migrasi zat dari lapisan kaleng ke makanan.

Dengan kebiasaan konsumsi yang bijak, sarden kalengan tetap dapat menjadi sumber protein yang praktis. Namun, status praktis tidak boleh disamakan dengan bebas risiko, terutama bila dikonsumsi terlalu sering.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!