Kisah Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas ke Ruko

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 07:48 WIB 2
Kisah Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas ke Ruko

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura sempat menarik perhatian para pengguna jalan di kawasan Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di balik kepulan asap arang itu, ada kisah Mochamad Haidir, pedagang satai berusia 30 tahun, yang berhasil membawa usahanya naik kelas setelah bertahun-tahun bertahan di lapak sederhana. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa konsistensi, keberanian membaca lokasi, dan ketahanan menghadapi krisis dapat mengubah usaha kecil menjadi lebih menjanjikan.

Haidir memulai usahanya sejak 2013 dengan gerobak sate keliling yang berjualan di atas trotoar. Dalam proses itu, ia sempat menghadapi penertiban Satpol PP hingga penolakan dari sesama pedagang, namun ia memilih tetap bertahan. Kini, ia menempati ruko dua lantai di kawasan Mayestik yang ramai oleh perkantoran dan lalu lintas pengunjung.

Kisah Sate Mayestik

Haidir menuturkan bahwa awal membuka lapak di kawasan tersebut tidak berjalan mulus. Ia mengaku kerap diusir, baik oleh pedagang lama maupun oleh pihak lain yang merasa terganggu dengan kehadirannya. Meski demikian, ia terus kembali karena meyakini lokasi Mayestik memiliki potensi pasar yang besar.

Keyakinan itu muncul karena kawasan tersebut dikelilingi perkantoran dan pusat aktivitas ekonomi. Arus orang yang ramai membuat peluang penjualan sate menjadi lebih terbuka. Haidir pun melihat bahwa bertahan di lokasi yang tepat bisa menjadi modal penting bagi pertumbuhan usaha.

Di tengah persaingan yang ketat, ia membangun merek Sate Ayam Barokah Mayestik agar lebih mudah dikenali pelanggan. Nama itu kemudian perlahan dikenal oleh pembeli yang singgah secara rutin. Dari situ, usahanya mulai menunjukkan perkembangan yang lebih stabil.

Tantangan Saat Pandemi

Perjalanan usaha Haidir sempat mengalami pukulan berat ketika pandemi COVID-19 melanda. Penjualan menurun tajam dan suasana lapak menjadi jauh lebih sepi dibandingkan hari biasa. Kondisi itu membuatnya mengalami tekanan mental yang cukup besar.

Ia mengaku sempat berniat mengakhiri usaha dan menawarkan lapaknya kepada orang lain. Dalam situasi terdesak, ia bahkan bersedia melepas lapak tersebut dengan harga yang ditawar Rp 50 juta. Padahal, nilai yang ia harapkan mencapai Rp 150 juta.

Beruntung, transaksi itu tidak terjadi dan Haidir tetap mempertahankan usahanya. Keputusan tersebut terbukti penting karena ia masih memiliki peluang untuk melanjutkan bisnis di lokasi yang sama. Dari fase sulit itu, ia belajar bahwa bertahan dalam krisis sering menjadi kunci untuk menemukan momentum baru.

Momentum Pindah Ruko

Titik balik usaha Haidir datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu muncul pada akhir 2025 dan langsung ia tangkap tanpa banyak menunda. Menurutnya, lokasi baru tersebut lebih strategis untuk mengembangkan usaha.

Pindah ke ruko memberi tampilan usaha yang lebih rapi dan profesional. Posisi yang lebih menonjol juga memudahkan pelanggan menemukan tempatnya. Dengan fasilitas yang lebih layak, Haidir berharap pelayanan bisa meningkat dan penjualan ikut terdorong.

Langkah tersebut menegaskan bahwa usaha kuliner kecil dapat naik kelas ketika pemilik berani mengambil keputusan yang tepat. Dalam kasus Haidir, lokasi, ketekunan, dan kemampuan bertahan menjadi faktor utama pertumbuhan bisnis. Perjalanan dari gerobak keliling hingga ruko menunjukkan bahwa peluang sering datang kepada mereka yang sabar sekaligus sigap.

Pelajaran Dari Konsistensi

Kisah Haidir memberi gambaran bahwa usaha kuliner tidak hanya bergantung pada rasa, tetapi juga pada ketahanan menghadapi tekanan. Ia harus melewati masa penertiban, penolakan, hingga krisis pandemi sebelum melihat hasil yang lebih baik. Proses panjang itu menjadi pengingat bahwa pertumbuhan bisnis jarang terjadi secara instan.

Selain modal kerja, keberhasilan juga ditopang oleh keberanian membaca lokasi yang potensial. Kawasan ramai perkantoran memberi ruang bagi sate buatannya untuk dikenal lebih luas. Dari sana, pelanggan datang bukan hanya karena rasa, tetapi juga karena kemudahan akses dan konsistensi layanan.

Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin padat, kisah ini relevan bagi pelaku usaha kecil lain. Ketekunan dalam menjaga kualitas, memilih lokasi, dan tidak menyerah saat tertekan dapat membuka jalan menuju skala usaha yang lebih besar. Haidir menjadi contoh bahwa naik kelas bukan sekadar soal modal, melainkan juga soal keteguhan menjalani proses.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!